Tiga hari telah berlalu sejak Banner menghilang bersama Agnes. Rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya, seakan jiwanya turut pergi bersama lelaki itu. Erza duduk di dalam kamar, di hadapannya sebuah kanvas berdiri tegak, dan di tangan kanannya, kuas bergerak lamat-lamat, merangkai garis demi garis yang menghidupkan sosok yang ia rindukan sekaligus ingin ia lupakan.
Wajah itu-tajam, dingin, dan arogan-terlukis dengan nyaris sempurna. Seolah Banner benar-benar hadir di dalam kamar ini, menatapnya seperti biasanya: tanpa kasih sayang, hanya penilaian dan penghakiman. Namun, ada sesuatu dalam garis-garis matanya yang membuat Erza teringat pada malam ketika lelaki itu duduk dalam diam di pemakaman ayahnya. Duka yang samar, tersembunyi di balik gengsi. Begitu pun suaranya, yang dulu pernah lirih ketika berkata:
"Aku berjanji pada ayahmu, aku akan menjagamu. Menikahlah denganku."
Janji itu sekarang hanya serupa kabut, samar dan sulit dijangkau.
Erza mengelus perutnya yang masih rata. Di dalam sana, ada kehidupan yang belum sempat menyaksikan dunia, belum sempat mengenal apa itu kasih sayang, tetapi sudah menjadi satu-satunya alasan bagi Erza untuk bertahan.
"Halo, kecil... kau laki-laki atau perempuan, ya?" suaranya terdengar lembut, penuh ketulusan yang tak bisa ia berikan pada siapa pun selain janin di dalam rahimnya. "Tidak masalah. Kau akan tetap menjadi hadiah terindah dalam hidupku."
Udara malam merayapi kulitnya, membuatnya menggigil, tetapi bukan karena dingin. Ia menggigit bibirnya, menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.
"Aku tidak bisa memiliki orang yang kucintai, tapi dia telah memberikanku sebagian dari dirinya."
Ia menempelkan telapak tangan di perutnya, seolah ingin merasakan keberadaan makhluk mungil yang akan menemani hidupnya nanti.
Tanpa ia sadari, sepasang mata mengawasi dari balik pintu. Banner berdiri di sana, diam, terpaku pada sosok istrinya yang berbicara sendirian dengan penuh harapan. Ada sesuatu yang menohok dadanya, sesuatu yang tak bisa ia definisikan-apakah itu rasa bersalah, iba, atau sekadar kesadaran bahwa ia telah terlalu jauh meninggalkan perempuan itu?
Erza tersentak ketika menyadari keberadaan lelaki itu. Banner berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Oh... kau sudah pulang?" suara Erza nyaris tak terdengar. Ia buru-buru berdiri, melirik ke arah lukisan, takut Banner melihatnya.
Lelaki itu tidak menjawab. Matanya menelusuri wajah Erza yang basah, tangannya yang berlumuran cat, dan sorot matanya yang berusaha tegar.
"Aku... sudah memasak," lanjut Erza, mencoba mengusir kecanggungan. "Kalau kau lapar, makanlah."
Tanpa berkata apa-apa, Banner mengikutinya ke ruang makan. Langkahnya berat, seakan ada sesuatu yang menahannya. Erza meletakkan piring di depan suaminya, lalu mengambil tempat di seberang.
Keheningan menggantung. Biasanya, Erza tidak akan berkata apa-apa karena tahu Banner tidak suka berbicara saat makan, tetapi entah mengapa, malam ini ia ingin mencoba.
"Bagaimana harimu?"
Banner berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya. Matanya menatap Erza dengan tajam, seperti mencoba membaca pikirannya.
"Apa memang sudah kebiasaanmu berbasa-basi saat makan?"
Erza menunduk, menggenggam sendok dengan erat.
"Maaf."
Banner menyandarkan tubuhnya ke kursi, menghela napas pelan sebelum akhirnya berkata, "Kau yakin ingin tahu bagaimana hariku selama tiga hari ini?"
Erza mengangkat wajahnya. Ia tahu ini bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tetapi ia tetap mengangguk.
"Aku berkencan dengan kekasihku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)