Langkah-langkah Erza bergema halus di lantai marmer yang mengilap saat ia memasuki kantin perusahaan. Tempat itu ramai, penuh dengan karyawan yang menyelipkan jeda di antara rutinitas mereka, berbagi tawa, keluh kesah, atau sekadar menikmati sepiring makanan sebagai bahan bakar untuk sisa hari. Namun, bagi Erza, kantin bukan sekadar tempat mengisi perut, melainkan ruang di mana ia bisa melarikan diri sejenak dari beban kerja dan menikmati kebersamaan dengan dua orang yang kini telah menjadi bagian dari dunianya—Alex dan Anne.
Dengan nampan berisi makanan di tangannya, ia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan dua sahabatnya. Tak butuh waktu lama, sebuah tangan melambai ke arahnya.
Alex, dengan senyum lebarnya yang khas, melambaikan tangan seolah-olah ia adalah mercusuar yang menuntun kapal menuju dermaga.
Erza tersenyum kecil, lalu berjalan menghampiri mereka dan duduk di hadapan keduanya.
"Maaf membuat kalian menunggu lama," ujarnya seraya meletakkan nampannya di atas meja. "Aku harus ke ruangan sekretaris manajer untuk menyerahkan file yang baru saja kuinput."
Tanpa menunggu balasan, ia meraih gelas minumnya dan meneguknya sedikit. Saat cairan dingin itu menyentuh tenggorokannya, rasa haus yang menyesakkan seolah terobati.
"Huh! Aku lapar sekali."
Ia segera meraih paha ayam di piringnya dan mulai melahapnya dengan lahap, seakan-akan makanan itu adalah penyelamat yang mengembalikan tenaganya yang terkuras.
"Pelan-pelan, Erza," tegur Alex, meliriknya dengan tatapan geli.
Anne, yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, mendongak dan menatap Erza dengan ekspresi tak senang.
"Sekretaris itu memang kejam sekali," cetusnya, nada suaranya penuh ketidaksukaan. "Padahal tugas itu tidak harus dikerjakan sekarang. Lain kali, jika dia menyusahkanmu, kau protes saja."
Erza mendesah, menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku malas berurusan dengan wanita itu, Anne."
"Ya, aku mengerti." Anne mendengus, lalu menaruh sumpitnya dengan kasar. "Wanita itu benar-benar ular. Hanya karena kau sering keluar-masuk ruang Pak Jonathan, dia terus mengincarmu. Dan lagi, kau terlihat sangat cantik untuk ukuran seorang janda, membuat rasa irinya semakin menjadi."
Ada sesuatu di dalam diri Erza yang bergetar mendengar kata janda. Meski sudah terbiasa, tetap saja ada sesak yang tersisa. Status itu melekat padanya bagai bayangan yang terus mengikuti, mengingatkan bahwa ia pernah kehilangan sesuatu yang dulu ia anggap abadi.
"Maka dari itu, kau harus punya kekasih, minimal yang bekerja satu perusahaan denganmu," sahut Alex santai.
Erza hanya bisa mendesah dalam hati. Ia tak pernah memahami Alex, mengapa lelaki itu seakan tak pernah jera menggoda dan mengejarnya, padahal setiap kali hal itu terjadi, ia selalu merespons dengan pasif. Namun, Alex seolah memiliki keteguhan hati yang sulit digoyahkan.
Saat itu, pikirannya tiba-tiba melayang pada satu malam dua bulan lalu.
Malam yang diiringi langit berbintang.
Malam ketika lantunan A Whole New World menjadi saksi, bagaimana akhirnya ia resmi menjadi kekasih Eric.
Tak seorang pun tahu tentang hubungan mereka. Tidak Anne, tidak Alex, tidak siapa pun di perusahaan ini. Bukan karena Erza berniat menyembunyikannya, tetapi lebih kepada fakta bahwa ia ingin menikmati kebahagiaan itu dalam diam, tanpa gangguan dan tanpa tekanan.
Namun, kini pikirannya berubah.
"Mungkin jika aku memberi tahu Alex, ia akan berhenti mengejarku."
Erza menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap kedua sahabatnya sebelum akhirnya berkata,
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)