4

53.6K 1.7K 14
                                        

Keheningan melingkupi ruang makan, seakan waktu menahan napas di antara mereka berdua. Erza berdiri di dekat meja, membiarkan uap sup hangat menyelinap ke udara seperti harapan yang mengambang-tak pasti ke mana harus berlabuh. Matanya menatap punggung Banner yang menjauh, menyisakan jejak langkah yang tak terdengar, hanya terasa-seperti luka yang tak berdarah, tapi menganga.

Di sudut ruangan, bayangan mereka bertaut samar, namun jiwa mereka begitu berjarak. Banner berlalu dengan langkah berat, seolah ada beban yang menahannya, namun tetap memilih untuk pergi. Di balik sikap dinginnya, ia tahu, ada sesuatu di matanya yang mengintip perasaan yang enggan diakui.

Erza menggigit bibirnya. Ada yang bergemuruh dalam dadanya, sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar air mata yang mengalir. Ia tahu perannya dalam kisah ini-wanita yang menahan cinta yang tak terbalas, istri yang hanya ada dalam nama, dan ibu yang kelahirannya tak dinanti.

Tapi apakah ia hanya sebatas itu?

Ia mengelus perutnya dengan hati-hati, seolah mencoba berbicara pada kehidupan kecil yang tumbuh di dalamnya. "Apa kau akan bertahan, Nak?" bisiknya lirih.

Di luar, suara mobil Banner terdengar, meninggalkan jejak yang tak kasat mata. Menuju seseorang yang lebih berarti, lebih dinanti.

Banner mengemudi dalam diam. Jemarinya menggenggam setir dengan kuat, seakan itu satu-satunya pegangan dalam hidupnya yang serba berantakan. Bayangan wajah Erza menari-nari di benaknya-mata yang meredam kesedihan, senyum yang ia tahu dipaksakan, dan kata-kata yang menusuk lebih tajam dari pisau.

"Kau juga sudah memiliki selingkuhan."

Itu bukan tuduhan. Itu kenyataan.

Bibirnya mengatup rapat, menahan gelombang emosi yang berusaha menerjang. Ia tak ingin melihat mata itu lagi-mata yang penuh dengan luka yang ia ciptakan sendiri. Semakin ia melukai Erza, semakin ia berharap wanita itu akan membencinya. Sebab, kebencian lebih mudah dilupakan dibandingkan dengan kasih sayang yang tak berbalas.

Namun mengapa, saat ia mengatakan bahwa pernikahan ini akan berakhir, ada sesuatu dalam dirinya yang retak?

Ponselnya bergetar di dashboard. Nama Agnes menyala di layar. Dengan cepat ia menekan tombol hijau.

"Yes, Honey," ucapnya, mencoba mengusir bayangan Erza dari pikirannya.

Suara Agnes terdengar sedikit serak, mungkin baru saja menangis. "Kau di mana?"

"Aku dalam perjalanan."

"Aku menunggumu," suaranya lirih, tapi mengandung tuntutan.

"Aku segera ke sana," jawabnya tanpa ragu.

Namun, di suatu tempat dalam hatinya, ada suara kecil yang bertanya: Apa aku benar-benar ingin pergi?

Di Rumah

Waktu berjalan lambat di dalam rumah yang terasa semakin besar dan kosong. Erza duduk di kursi makan, menatap meja di depannya yang masih tersisa jejak makan malam yang belum disentuhnya. Napasnya pendek-pendek, bukan karena lelah, tetapi karena hatinya terlalu penuh.

Di meja, ada cincin kawinnya-benda kecil yang dulu ia kenakan dengan penuh harapan. Kini, ia melepasnya. Ia menggenggam cincin itu di telapak tangan, merasakan dinginnya, seolah menggenggam nasibnya sendiri.

Ketika ia menikahi Banner, ia tahu lelaki itu tak mencintainya. Ia tahu bahwa pernikahan ini hanyalah permainan takdir yang kejam. Tapi ia berharap, mungkin sedikit saja, ada ruang bagi dirinya di hati suaminya. Namun, seiring waktu berlalu, harapan itu semakin kabur, seperti tinta yang luntur terkena hujan.

"Apa aku terlalu bodoh?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Jawabannya adalah keheningan.

Erza bangkit, berjalan menuju jendela. Langit malam menggantung di atasnya, luas dan dingin, seperti takdir yang ia jalani. Tangannya membuka kaca, membiarkan angin malam menyusup ke dalam ruangan, membelai wajahnya yang masih basah oleh sisa air mata.

Di kejauhan, suara mesin mobil terdengar. Banner sudah pergi. Menuju wanita lain.

Ia tersenyum getir.

"Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya.

Hening, dan di dalam hening itu, ia tahu jawabannya.

Di Apartemen

Banner masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergesa. Agnes berdiri di dekat jendela, tubuhnya tegak, tapi ada kesedihan yang terselip di wajahnya. Matanya sedikit bengkak, tapi masih menyimpan pesona yang selalu membuat Banner tergila-gila.

Tanpa ragu, ia meraih wanita itu ke dalam pelukannya. "Maaf membuatmu menunggu."

Agnes diam sejenak sebelum berkata, "Kau meninggalkanku untuk menemuinya."

"Dia hamil."

"Aku tahu," suaranya getir, penuh dengan luka yang tak bisa disembunyikan. "Tapi itu tetap tidak mengubah fakta bahwa kau lebih memilihnya."

Banner menghela napas panjang. "Ini bukan soal memilih."

"Tentu saja ini soal memilih!" Agnes melepaskan diri dari pelukannya, menatapnya dengan mata yang penuh kemarahan. "Aku sudah menunggu bertahun-tahun, dan kau terus berjanji. Kau bilang akan menikahiku, tapi kau malah menikahi wanita itu. Sekarang dia sedang mengandung anakmu, dan kau masih berjanji bahwa kita akan bersama?"

Banner terdiam.

"Kau hanya terus menunda, Banner. Kau terus menjanjikan sesuatu yang tak pernah datang. Aku sudah lelah." Agnes menggigit bibirnya, menahan getar suaranya. "Aku sudah menyerah."

"Tidak, Nes." Banner menggeleng. "Agnes, aku mencintaimu."

"Tapi cintamu tak cukup," katanya lirih. "Kau sudah menikah, dan aku juga."

"Kita bisa memperbaiki semuanya."

Agnes tersenyum pahit. "Tidak, Banner. Kau hanya takut kehilangan aku, tapi kau juga tak bisa melepaskan dia. Jika memang aku adalah orang yang kau pilih, seharusnya dari dulu kau tak menikahi Erza."

"Aku tak punya pilihan."

"Kau selalu punya pilihan." Agnes menatapnya dalam. "Tapi kau memilih untuk tetap di antara kami berdua."

Banner menutup matanya, merasakan tekanan yang begitu besar di dadanya. Ia ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa ini semua bukan salahnya. Tapi di dalam hatinya, ia tahu Agnes benar.

Di luar jendela, angin bertiup kencang, membawa dedaunan yang beterbangan-seperti perasaan mereka yang tercerai berai.

Agnes menghela napas panjang. "Sudahlah, Banner."

"Tunggu." Banner menggenggam tangannya. "Jangan pergi."

"Aku tidak akan pergi." Agnes menatap tangannya yang masih digenggam Banner. "Tapi aku juga tidak akan menunggumu lagi."

Banner menyadari sesuatu-bahwa ada hal-hal yang, meskipun kau genggam erat, tetap akan terlepas.

Seperti pasir di tangan. Seperti cinta yang terlambat diperjuangkan.

The Broken Lady [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang