Hari sudah malam dan Erza masih belum beranjak dari tempatnya. Wanita itu sedang duduk di bangku taman yang terletak di halaman belakang rumah sakit. Sudah berjam-jam ia di sana. Sejak Banner tertidur setelah melampiaskan seluruh rasa bersalahnya dan setelah dokter mengatakan jika Banner akan sulit untuk bertahan, seperti ada sesuatu yang tajam menusuk hati Erza mendengar itu. Teramat dalam rasa bersalah Banner hingga harus mencelakai dirinya sendiri.
"Nak," sapa Tony. Pria paruh baya itu duduk di sampingnya.
Erza tersenyum simpul membalas sapaannya.
"Terima kasih karena mau menemuinya."
Erza hanya mengangguk pelan.
Tony menepuk punggung Erza pelan. "Hari itu, di mana aku pergi ke Bulgaria untuk memintamu kembali, aku sekaligus ingin menemui anakku. Tuan Banner tidak tahu jika aku masih memiliki anak, yang dia tahu hanya Jasmine. Mereka sering bertemu saat kecil, berbeda dengan Eric yang tidak tinggal bersama denganku sebab aku berpisah dengan ibunya. Aku yakin Eric sudah menceritakan kisah adiknya padamu, 'kan?"
Erza mengangguk lagi.
"Bisa dibilang, nasib Jasmine itu sepertimu. Dia juga tidak dicintai suaminya, bahkan aku dan Eric tidak tahu jika Jasmine selalu mendapat kekerasan dari suaminya. Eric menyesal sekali setelah mengetahui hal itu. Dia tidak bisa melindungi adiknya. Hari itu, Banner memintaku mengajak Eric kemari. Aku sudah tahu niatnya dan Eric meyetujui keinginan Tuan begitu dia mendengar cerita tentangmu. Eric bilang pada kami, dia melihat Jasmine pada dirimu. Awalnya dia hanya akan melindungimu. Dia mendekatimu untuk jadi temanmu. Dia juga cerita kalian memang sudah bertemu sebelumnya."
"Ah, iya, benar, dia tergelincir dua kali di depanku. Itu konyol sekali."
Tony sedikit terkekeh mendengarnya. "Tapi, di luar perkiraanku, dia malah jatuh cinta padamu, sedangkan Tuan Banner sudah yakin itu akan terjadi: Eric akan jatuh cinta padamu, Erza. Tuan hanya ingin kau bahagia. Dia hanya ingin kau bertemu dengan kebahagiaanmu. Setiap hari, dia merusak dirinya sendiri, meneguk banyak minuman beralkohol agar mabuk sehingga bisa melupakanmu untuk sesaat. Dia terus-menerus menghancurkan dirinya dan puncaknya adalah bulan lalu, aku mendapatinya tergeletak tak berdaya di bawah meja kerjanya.
Dokter bilang, organ tubuhnya terganggu. Bayangkan saja, dia menenggak minuman beralkohol hampir setiap saat. Setiap hari dia meminta kepada Tuhan agar mencabut nyawanya. Dia bilang jika tidak sanggup hidup dalam penyesalan, tapi begitu bertemu Eric, dia seperti mendapat sedikit harapan baru untuk membuatmu bahagia. Dia bahkan membuat kontrak kerja sama dengan NEC Group tempatmu bekerja agar kau tetap dalam pengawasannya. Dia sudah menerima karma karena telah menyakitimu. Mendengar kau telah memaafkannya, aku yakin dia sudah merasa lebih ringan sekarang," jelas Tony.
Erza berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Mendengar cerita Tony malah membuatnya semakin merasa bersalah. "Harusnya aku tidak pergi begitu saja. Seharusnya aku berpisah dengannya secara baik-baik. Tony, dia akan bertahan, 'kan?"
Tony terdiam beberapa detik, kemudian mengembuskan napas berat. "Aku harap demikian, Erza."
***
"Katakan padaku dia akan sembuh!" Erza menatap tajam dokter yang baru saja keluar dari kamar rawat Banner. Hatinya terasa ngilu ketika dokter itu hanya diam dan menatapnya prihatin. "Jangan menatapku begitu! Cepat katakan kalau dia akan baik-baik saja!"
"Nyonya, saat ini Tuan baik-baik saja," jawab dokter itu.
"Saat ini? Nanti? Dia pasti akan sembuh, 'kan? Dia tidak akan selamanya terbaring di sana, bukan? Jawab aku, hey!" Dada Erza terlihat naik turun, berusaha menahan marah,
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)