10

39.1K 1.7K 145
                                        

Tiga bulan berlalu. Hubungan antara Erza dan Banner tidak lebih dari sekadar kebersamaan yang dipaksakan oleh keadaan. Mereka berjalan di atas garis tipis antara persahabatan dan keterasingan, seolah dua orang asing yang dipertemukan oleh takdir, tetapi tak cukup dekat untuk saling menghangatkan.

Banner, dengan segala upayanya, tetap menjaga batas. Ia adalah lelaki yang berusaha setia pada hatinya, yang masih terpaut pada Agnes, meski wanita itu kini hanya bayang-bayang dari masa lalu yang kacau. Namun, di balik keteguhannya, tanpa disadari, ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Erza. Ada ketenangan dalam keteraturan yang diciptakan wanita itu. Rumah yang selalu rapi, makan malam yang tersaji dengan penuh perhatian, serta tatapan penuh harapan yang diam-diam membuat dadanya sesak.

Bagi Erza, ini bukan kenyamanan, melainkan perang tanpa senjata-ia bertahan dalam diam, terperangkap dalam perasaan yang kian menyesakkan. Banner tak akan pernah mencintainya, itu sudah menjadi takdir yang harus ia terima. Namun, hatinya tetap bergeming, seolah keyakinan itu belum cukup kuat untuk membunuh perasaan yang terus tumbuh.

Malam itu, keduanya duduk di ruang makan. Di meja, pasta dengan saus spesial tersaji di hadapan mereka.

"Bagaimana?" tanya Erza, berharap setidaknya pujian kecil bisa menjadi secercah kebahagiaan bagi hatinya yang nyaris kosong.

Banner mengangkat wajahnya setelah satu suapan. Ia mengunyah pelan, mencoba mencari kata yang tepat untuk menggambarkan rasa yang ia kecap.

"Hm... ini enak sekali," katanya akhirnya.

Wajah Erza seketika berseri. "Yayyy!" serunya, meski nada suaranya lebih terdengar seperti seorang anak kecil yang baru mendapat hadiah kecil dari dunia.

"Buatkan untukku lagi besok malam, ya."

Erza mengangguk cepat. "Siap! Aku akan membuatnya lagi besok.

Banner tersenyum kecil. Ia tak pernah menyangka bahwa kedekatan seperti ini bisa memberinya rasa nyaman. Kehadiran Erza seperti angin sejuk yang menyusup perlahan, tanpa paksaan, tanpa tuntutan. Ia tak lagi melihat kesedihan di wajah istrinya seperti dulu.

Namun, ketenangan itu pecah dalam sekejap ketika suara keras menggema dari luar rumah.

"Banner, keluar kau!"

Keduanya sontak menoleh ke arah pintu. Wajah mereka memucat, seolah firasat buruk tiba-tiba menyeruak ke dalam dada. Tanpa menunggu lebih lama, mereka bergegas menuju sumber suara.

Pemandangan yang mereka temukan di ambang pintu seketika menciptakan riak kekacauan dalam dada mereka. Alan berdiri di sana, napasnya memburu penuh amarah. Tangannya mencengkeram lengan Agnes, menyeret wanita itu dengan kasar. Keadaan Agnes begitu memprihatinkan-rambutnya acak-acakan, pipinya lebam, dan air mata mengalir deras dari matanya yang sembab.

Erza menutup mulut dengan kedua tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk akan segera terjadi.

"Kau menghamilinya, 'kan?!" suara Alan menggema, menusuk udara dengan tajam.

Banner tertegun. Ia menatap Agnes dengan ekspresi terkejut dan tak percaya. "Agnes, kau... benar-benar hamil?"

Agnes menundukkan kepala, bahunya bergetar menahan isak.

Alan tertawa sinis, penuh kepahitan. "Ya! Dan itu anakmu! Jalang ini mengakuinya sendiri!"

Banner tak mampu berkata-kata. Dunianya seakan runtuh dalam sekejap. Namun, sebelum ia bisa mencerna semuanya, Alan mendorong tubuh Agnes hingga wanita itu jatuh tersungkur di dekat sofa.

Erza tersentak, dengan cepat ia berlari untuk menolong Agnes, sementara Alan melangkah ke depan dan menatap Banner dengan penuh kebencian.

"Aku tidak menyangka kau seberengsek ini, Banner! Kau menghancurkan keluargaku! Dan sekarang, kau berpura-pura terkejut?!"

Banner menunduk. Ia memang bersalah, tetapi cinta tidak pernah sederhana.

"Maaf, Alan... Aku mencintai istrimu. Ini salahku."

Alan memicingkan mata. Amarah yang ia tahan meledak dalam sekejap. Tanpa aba-aba, tinjunya melayang, menghantam wajah Banner dengan keras.

Banner terhuyung ke belakang, darah merembes dari sudut bibirnya. Namun, Alan tak berhenti. Ia kembali mengayunkan pukulannya, melampiaskan kemarahan yang telah lama ia simpan.

Erza menjerit. Dengan sekuat tenaga, ia menarik tangan Alan, mencoba menghentikannya. "Dokter Alan, aku mohon berhenti! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!"

Alan menoleh padanya, matanya merah oleh kemarahan. "Erza, kau tahu hubungan mereka?"

Wanita itu hanya menunduk. Jawaban dalam diam yang membuat Alan semakin murka.

"Mereka telah menjahatimu, Erza! Suamimu telah berkhianat, dan kau diam saja? Kau benar-benar bodoh!"

Alan melepaskan genggamannya pada Banner dan melangkah mundur. Napasnya tersengal, tetapi bukan hanya karena kelelahan, melainkan karena kecewa yang begitu dalam.

"Aku akan mengirimkan surat cerai. Tunggu saja," katanya lirih, sebelum berbalik dan melangkah pergi.

Beberapa detik kemudian, Agnes terjatuh lemas. Tubuhnya lunglai, matanya tertutup rapat, dan hanya suara napas lirih yang terdengar.

Banner, yang masih berdiri dengan tubuh limbung, segera menghampirinya. Ia membopong Agnes ke dalam kamar, sementara Erza mengikuti dari belakang.

Di dalam kamar, Banner meletakkan tubuh Agnes dengan hati-hati. Ia menatap wanita itu dengan penuh perasaan yang sulit diungkapkan.

Erza memperhatikan dari kejauhan. Perasaan sakit kembali menggerogoti hatinya. Ia juga mengandung anak Banner, tetapi mengapa nasibnya terasa berbeda? Agnes adalah wanita yang dicintai Banner, sedangkan dirinya hanyalah bayangan yang terlupakan.

Dengan langkah gontai, ia meninggalkan ruangan itu. Namun, baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh Banner.

"Maaf, Erza.

Erza menoleh, matanya berkilat oleh air mata yang tertahan. "Tidak apa-apa, Banner. Semuanya akan baik-baik saja."

Ia menarik napas dalam, mencoba menelan rasa sakit yang begitu menusuk. Perlahan, ia mendekat dan memeluk suaminya erat.

"Aku membuatmu terluka lagi..." suara Banner terdengar parau, penuh sesal.

Erza menggeleng, tangannya mengelus rambut pria itu. "Tidak, Banner. Jangan bersedih. Tidak ada yang salah di sini."

Malam itu, dalam dekap yang penuh luka, mereka kembali menjadi dua jiwa yang terikat oleh pernikahan tanpa cinta.

Namun, malam masih belum selesai.

Pintu kamar Banner terbuka. Di ambang pintu, berdiri Agnes-wanita yang kini membawa nyawa lain dalam rahimnya. Wajahnya sendu, matanya berkilat oleh air mata yang belum kering.

Banner menatapnya, lalu tersenyum kecil, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Agnes tak menunggu lebih lama. Ia berlari, menerjang tubuh Banner, dan menangis dalam pelukannya.

Erza hanya bisa memandang dalam diam, sementara hatinya hancur untuk kesekian kali.

"Aku mencintaimu, Banner... Jangan tinggalkan aku..." bisik Agnes lirih.

Banner mengeratkan pelukannya. "Aku juga mencintaimu, Nes."

Di sudut ruangan, Erza menyentuh perutnya yang semakin membuncit. Ia mencoba menguatkan diri, tetapi malam itu, ia kembali merasakan kesepian yang lebih dalam dari sebelumnya.

Dalam kesunyian itulah, air matanya kembali jatuh, tanpa suara, tanpa ada seorang pun yang peduli.

The Broken Lady [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang