Angka-angka di jam dinding melaju tanpa henti, tetapi bagi Erza, waktu seakan tertambat di satu titik-malam yang sepi, dingin, dan tak kunjung berakhir. Jarum pendek telah menyentuh angka dua belas, dan keheningan yang melingkupinya hanya dipatahkan oleh detak jarum jam yang terdengar seperti debaran jantung yang penuh sesak.
Ia masih di sana, duduk di ruang tengah dengan tatapan kosong menatap pintu yang tak kunjung terbuka. Banner berjanji akan pulang untuk makan malam, tetapi janji itu telah lama terkubur oleh jam-jam yang berlalu. Sudah berulang kali ia memeriksa ponselnya, mencari pesan atau panggilan tak terjawab, tetapi layar ponsel tetap gelap, seolah enggan memberi jawaban yang sebenarnya sudah ia ketahui.
Lalu, suara itu datang.
Suara pintu yang terbuka kasar, seperti tangan tak sabar yang mendorongnya tanpa peduli pada ketenangan malam. Erza tersentak, menoleh ke arah pintu utama.
"Uhuk! Uhuk!"
Batuk berat terdengar dari arah pintu, membelah kesunyian yang sejak tadi menggantung, dan di sana, di ambang pintu, Banner berdiri dalam kondisi yang jauh dari kata baik.
Rambutnya basah, acak-acakan, jatuh menutupi dahinya yang pucat. Kemeja yang ia kenakan terlihat kusut dan lembap, menempel pada tubuhnya seperti sisa hujan yang belum sepenuhnya mengering. Matanya sayu, seakan tak hanya tubuhnya yang kelelahan, tetapi juga jiwanya.
Erza tidak bertanya dari mana lelaki itu pulang, meskipun jawabannya telah tersusun rapi di pikirannya. Ia tidak menanyakan apa yang telah terjadi, meskipun hatinya sudah lebih dulu mengetahuinya. Yang ia tahu hanyalah satu hal: Banner sedang sakit.
Tanpa banyak kata, ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi suaminya. Panas. Terlalu panas.
"Kau menggigil," ujarnya lirih.
Banner tidak menjawab, hanya mengusap wajahnya dengan kasar, seolah ingin menghilangkan jejak kelemahan yang tergambar di sana. Namun, tubuhnya lebih jujur daripada mulutnya. Langkahnya limbung, dan sebelum ia benar-benar terjatuh, Erza sudah lebih dulu menangkapnya.
Tanpa meminta izin, tanpa menunggu persetujuan, Erza meraih selimut yang tersampir di sofa dan membungkus tubuh suaminya. Ia tidak peduli jika Banner akan menolak.
"Kau tidak bisa naik ke atas dalam keadaan seperti ini," katanya tenang.
Mata Banner menyipit. "Kenapa kau membawaku ke kamarmu? Apa kau mau memerkosaku?"
Nada suaranya sumbang, hampir tanpa daya, tetapi masih dibumbui sisa keangkuhan yang selama ini selalu melekat padanya.
Erza hanya mendesah. "Apa kau sanggup menaiki tangga?"
Tidak ada jawaban. Tidak ada jawaban karena Banner tahu betul apa yang akan terjadi jika ia mencoba menaiki satu per satu anak tangga itu. Kakinya terasa mati rasa, kepalanya berdenyut hebat, dan pandangannya mulai kabur. Bahkan, berdiri saja sudah terasa seperti pekerjaan yang mustahil, dan ketika akhirnya tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan, tangan Erza kembali menangkapnya.
Ia tidak berkata apa pun saat Erza membawanya ke ranjang dan membaringkannya di sana. Tidak ada tenaga untuk melawan, tidak ada keinginan untuk menolak. Yang ada hanya tubuh yang terlalu lelah dan demam yang membakar seluruh kesadarannya.
Ketika Banner mulai memejamkan mata, Erza melangkah keluar. Ia menuju kamar suaminya, mengambil pakaian bersih, lalu kembali dengan langkah pelan. Namun, saat ia tiba di kamar, ia mendapati Banner sudah terlelap.
Lelaki itu terlihat begitu berbeda saat tidur-wajahnya lebih lembut, garis-garis tajam di wajahnya tidak setegang biasanya, dan bibir yang sering kali mengucapkan kata-kata tajam kini tertutup rapat. Tidak ada sisa kesombongan atau kemarahan di wajahnya. Yang ada hanya kelelahan dan kehangatan yang tak pernah ia tunjukkan saat sadar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomansaSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)