Bagian Lima Belas: Pesan WhatsApp
Remaja lelaki yang tahun ini berumur tujuh belas itu berjalan dengan angkuhnya di tengah kegelapan malam. Sorak-sorai orang-orang yang memanggil namanya terdengar dengan sangat kencang di sekelilingnya. Membuatnya lagi-lagi memainkan poninya yang sedikit panjang itu dengan meniup-niupnya pelan. Angkuh.
Lebam-lebam sisa luka yang ada di wajahnya tak ia hiraukan sedikit pun. Bahkan mungkin, untuk beberapa orang penggemarnya, lebam-lebam itu jadi terlihat sangat macho sekali baginya.
Tak lama, sesosok lelaki yang juga seumuran dengannya datang menghampirinya sembari melemparkan jaket jins padanya.
"Pake jaket kebesaran lo ini dan tunjukin kemampuan lo ke dunia!" serunya pada teman di hadapannya. Temannya terkekeh pelan mendengar seruannya namun tak urung, ia memakai jaketnya juga.
"Siapa lawan gue malem ini?" tanyanya. "Leader dari Labuda, as always. Hati-hati, Yan. Fokus," jawabnya sambil menasihati teman baiknya satu-satunya ini. Yang dinasehati malah menampilkan senyum miringnya. Menganggap enteng lawan mainnya malam ini. "Kenapa curut satu itu gak mau ngakuin kekalahannya tempo hari, huh?"
Lelaki itu, yang disorak-soraki para remaja tanggung di sekelilingnya itu adalah Ryan. Yaa, Ryan yang itu. Yang mana lagi selain Satya Ryan?
Dan temannya adalah Daffa. Orang yang sama yang selalu berada di dekatnya belasan tahun ini. Termasuk yang selalu bersamanya di sekolah. Sahabatnya yang sebenarnya.
"Wacky gue di mana, Daf?" tanyanya. "Parkiran. Lo mendingan ke sana sekarang. Gue takut ada yang jail sama motor sinting lo itu."
Ryan tertawa pelan mendengar ucapan teman baiknya itu. "Lo sendiri tau 'kan kalo gak ada satu pun yang bisa ngerusak Wacky gue? Dia udah gue pasangin safety alarm. Yang berani coba-coba jail, dia bakalan ketangkep."
Daffa hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Namun tetap saja, itu tak membuat perasaan tak enak dalam hatinya lenyap. Justru, ia semakin merasa tak enak hati.
"Sepuluh menit lagi kita mulai, Darker!" Seorang lelaki yang merupakan kru balapan liar itu berseru pada Ryan, Sang Darker.
"Lo mau siap-siap dulu, huh?" tawar Daffa. Ryan malah menepuk pelan pundaknya dan memilih duduk di salah satu kursi lipat yang disediakan di sana.
Daffa melihat Ryan merogoh ponselnya yang berada di dalam jaket jinsnya dan itu membuat Daffa meninggalkan Ryan. Mungkin, Ryan membutuhkan waktu privasinya saat ini.
***
Aku menatap buku paket kimiaku dengan pandangan yang kosong. Seharusnya, aku sudah mengerjakan—setidaknya—satu atau bahkan dua lembar soal yang tercetak jelas di dalam buku. Namun, sedari tadi otakku tak mau diajak bekerja sama.
Tanpa diperintahkan olehku, otakku kembali mengulang percakapanku dengan Gia tadi siang. Dan itu sangat-sangat menggangguku.
Entahlah! Aku sendiri juga tidak tau di bagian mananya aku merasa terganggu. Hingga suara notifikasi terdengar dari iPhoneku. Ada pesan WhatsApp yang baru saja masuk di sana. Aku lantas membuka pop up itu dan membaca pesannya.
Ryang: Hei say! Aku gnggu gk?
Pesan WhatsApp dari Ryan. Tanpa menunggu lama, aku pun segera membalasnya.
Audi: Ngapain lo nge-greet gw? Ngapain jg manggil gw say? Gue bkn sayla!
KAMU SEDANG MEMBACA
Matcha ✔
Teen Fiction[NOVEL] | Audi Marissa Nasution hanyalah gadis enam belas tahun biasa yang sangat perfeksionis dan ambisius--juga sedikit diktator. Keinginannya simpel. Dia hanya ingin diterima di SMA Nusa Bangsa. SMA nomor satu di kotanya. Dan ia berhasil. Good lu...
