Bagian Tiga Belas

184 20 0
                                        

Bagian Tiga Belas: Lengah

"Ck, Audi! Lo kenapa, sih?!" Sayla berdecak kesal padaku hingga membuat lamunanku terhenti. "Kenapa apanya, sih?!" seruku tak mengerti.

"Semenjak lo balik dari kamar mandi, lo tuh jadi suka ngelamun, tau gak? Lo kesambet atau gimana, sih?!" tanyanya penasaran yang membuatku mendesah pelan.

"Gue gak kenapa-kenapa! Santai aja," elakku. Ia menghela nafas pelan. "Gue kira kita temen, Di! Temen mana ada yang main rahasia-rahasian kayak gini?"

Aku memilih untuk mengabaikannya dan berlalu. Kupikir, aku butuh waktu sendiri tanpa adanya pertanyaan-pertanyaan tak penting dari Sayla.

Dan taman belakang sekolah yang menjadi tujuanku saat ini. Taman yang tengah sepi inilah tempat yang dirasa cocok bagiku.

Aku terduduk di atas kursi taman dan menghembuskan nafas perlahan dengan mata yang terpejam. Mencari ketenangan. Hingga aku merasakan kehadiran seseorang di sampingku. Aku lantas membuka mataku secara perlahan dan mengalihkan pandangan ke samping.

Alvian.

"Hei!" sapanya riang yang membuat kedua alisku berkerut. Bukannya kemarin dia marah-marah?

"Lagi ngapain? Udah jajan? Nih!" tanyanya sambil memberikan sebuah permen lollipop padaku. Aku kemudian menerimanya dan menatap heran pada saku baju Alvian yang dipenuhi oleh permen loli.

"Gue paling suka nongkrong sambil makan loli. Makanya, stok loli gue banyak," ucapnya menyadari arah pandangku. "Dasar bocah!" ejekku begitu saja yang membuat Alvian terkekeh.

Seketika, aku terhipnotis oleh suara kekehan yang terdengar lembut miliknya itu.

Eh?

Tunggu.

Apa ... ini benar? Di saat Ryan menyuruhku untuk menjauhi Alvian, tapi aku sendiri yang malah dekat-dekat dengan Alvian dan bahkan dengan lancangnya terpesona oleh suara tawanya. Apa itu suatu hal yang benar?

Ah, peduli setan!

Lagipula, taman ini tengah sepi. Tidak ada fans gilanya Alvian yang duduk-duduk di sini. Aku aman kalau-kalau Ryan mengkhawatirkan kondisiku.

Dan juga, aku tidak suka diatur! Harus akulah yang mengatur orang lain. Bukan orang lain!

Ciri khasku. Diktator--sedikit.

Sampai kemudian, seorang lelaki lain datang menutupi pandanganku dan menarik Alvian kasar hingga ia bangkit dari duduknya. Permen-permen loli yang berada di dalam sakunya sudah tercecer di atas tanah.

"Kenapa deketin cewek orang, huh? Lo tau 'kan kalo Audi itu cewek gue?!"

Ryan.

Bagaimana ia bisa ada di sini?

"Jauhin cewek gue! Dia milik gue sekarang. Lo sendiri tau 'kan kalo apapun milik gue akan selalu jadi milik gue?" desis Ryan tajam. Alvian yang jadi sasarannya hanya terdiam dengan tak acuhnya. Tak peduli dengan omongan Ryan yang mungkin baginya terdengar sangat omong kosong.

"Udah? Gitu doang? Lo gak nonjok gue atau apa gitu? Cemen! Dan apa tadi? Semua milik lo akan selalu jadi milik lo? Gia juga, hah?!" balas Alvian seraya menepis kasar cengkraman Ryan yang bertengger di kerah kemejanya hingga terlepas.

"Lo tau kalo Gia gak ada hubungannya sama ini semua."

Dan jawaban Ryan itu membuat Alvian menonjok pipinya keras. "Brengsek! Lo tuh kemana-mana jadi! Semuanya aja lo embat! Dulu Gia. Dan sekarang? Audi?" Alvian berucap di tengah aksi brutalnya yang terus-menerus menonjok Ryan yang berusaha membalas tonjokan Alvian meski dirinya sendiri telah tersungkur di atas tanah.

Matcha ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang