Bagian Dua Puluh Tujuh: Pertemuan
Sepulang sekolah, aku kembali mendatangi Ryan di rumahnya. Lagi-lagi, aku tidak sanggup menunggu Ryan terlalu lama untuk dapat masuk sekolah lagi. Lagipula, hari ini, gips Ryan sudah dapat dilepas. Ryan juga sudah mulai menggerak-gerakkan kakinya dan berlatih berjalan kembali.
Jadi aku harap, dia dapat secepatnya kembali ke sekolah.
Aku tau kalau Ryan itu jenius. Mau satu atau bahkan tiga bulan tidak masuk sekolah pun, ia tetap sama pintarnya dengan anak-anak di kelas. Tapi, sekolah itu yang terpenting. Ya, 'kan?
"Hai, Ryan! Hai juga, Bunda!" seruku begitu melihat Ryan yang tengah belajar berjalan di halaman depan dibantu oleh sang Bunda. Bunda tersenyum kecil membalas ucapanku. Sedangkan Ryan, dia hanya berdiri kokoh di hadapanku dengan muka temboknya. Datar.
"Mumpung kamu ada di sini, dan kebetulan juga Bunda harus cek toko kue Bunda, kamu mau ya jagain Ryan? Bentaaar ... aja!" ucap Bunda tiba-tiba. Aku tersenyum sumringah mendengarnya. "Sip, Bunda! Lama juga gapapa, kok! Hehehe."
Dan setelah itu, Bunda segera saja mengambil tas jinjingnya yang telah tersedia di kursi teras dan segera memasuki mobilnya. Tak lupa memberikan kecup jauh padaku dan Ryan dari dalam mobilnya. Aku terkekeh pelan melihat kelakuan Bunda yang seperti bocah itu sebelum akhirnya aku berbalik menghadap Ryan.
Ryan menatapku dengan hanya mengangkat sebelah alisnya. "Sok cakep!" seruku dalam hati.
"Tapi dia emang cakeep..."
Ey! Siapa juga itu yang membalas?
Menghiraukan itu semua, aku lantas menggandeng sebelah tangan Ryan. "Sini, aku bantu!"
Ryan menurutiku. Ia lantas berjalan dengan dirinya yang dipapah olehku. "Aku mau ke dalam," ucapnya kemudian dengan menujuk pintu rumahnya dengan dagu. Dengan berhati-hati, aku kemudian membawa masuk dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.
"Kamu ngapain ke sini?" tanyanya sesaat setelah aku mendudukkan diriku di sofa tepat di seberangnya. "Main!" seruku singkat. Ia memutarkan kedua bola matanya. Terlihat jengah.
"Aku tau apa yang baru aja kamu lakuin di sekolah tadi. Aku punya banyak mata-mata, tau?! Bahkan aku tau waktu kamu 'ngobrol' berdua sama Gia!" serunya sedikit membentak. Aku menggeleng pelan. "Kamu gak ngasih tau, sih! Tapi, bagus juga, sih! Aku jadi gak usah capek-capek ngasih tau kamu lagi, 'kan!"
Ia menggeram kesal mendengar jawabanku. Sedangkan aku, tertawa pelan melihatnya.
"Seharusnya, kamu bilang makasih tau ke dia! Tanpa dia, aku mungkin bakalan kehilangan kamu," ujarku dengan murung. Ia menghela nafasnya dan kemudian menggenggam sebelah tanganku yang berada di atas meja. "Ya, nanti. Kalo kita ngobrol bareng lagi."
"Kemarin itu ngobrol namanya? Kamu bahkan gak ngomong apa-apa ke dia!" seruku menyindirnya. Ia meringis. "Ada saatnya aku cuma diam dan dengerin semua penjelasannya daripada aku banyak omong, tapi nyatanya aku gak tau apa-apa," balasnya yang terdengar menghinaku.
"Tapi itu lebih baik daripada diam aja. Kesannya kayak yang kamu itu gak seneng, bête. Kayak yang kamu gak ngehargain dia, tau?!" omelku. Ia mengangkat kedua bahunya. "Aku emang gak seneng, kok, sama kedatangan dia! Bête!"
Aku menarik tanganku dari genggamannya. Kesal. "Kamu gak bener-bener mikirin ucapan aku kemarin, ya? Jangan dulu nge-judge satu orang hanya karna dia itu punya dendam sama kamu. Kamu itu, harus ngeliat jelas pelakunya."
"Liat siapa yang ngomong..." gumamnya pelan sekali.
"Apa?" tanyaku yang tak mampu mendengar gumamannya. Ia lagi-lagi menghela nafasnya. "Enggak ... bukan apa-apa! Dan, iyaa ... gak gitu lagi!"
"Kamu kayaknya harus ngobrol lagi, deh, sama Alvian! Empat mata. Face to face. Kalo kayak gini terus, gimana nanti ke depannya?!" ocehku. "Terserah kamu aja, deh!" balasnya pasrah yang membuatku tersenyum lebar.
"Gitu, dong! Nanti, aku bawa Alviannya ke sini, ya?"
Ia membelalakkan kedua matanya mendengar ucapanku. "Kamu yang ngatur?" Aku menganggukkan kepala mendengar pertanyaannya. "Iya, lah! Kalo gak gitu, sampai lebaran monyet juga kalian gak bakal ngobrol-ngobrol lagi! Pasti bakalan susah lagi nantinya!"
Dengan tampang pasrahnya, ia lagi-lagi menghela nafas berat. "Terserah kamu, lah!"
***
"Sekarang, lo ikut gue, ya?" ucapku pada Alvian yang tengah duduk di atas jok motornya.
Pulang sekolah ini, aku mengajaknya untuk dapat berbincang empat mata dengan Ryan.
"Ke mana?" tanyanya. Aku tak menjawab dan malah menaikkan tubuhku di jok belakang.
"Sekarang, yuk berangkat!" seruku sambil menepuk sebelah pundaknya pelan. "Eh-eh?! Ke mana dulu ini?!" tanyanya lagi.
"Udaah... Jalan aja dulu! Nanti gue tunjukkin jalannya," titahku. Ia lantas menghela nafas beratnya sebelum akhirnya menghidupkan motornya dan kami pun mulai membelah jalanan kota.
***
"Lo ngapain bawa gue ke sini?" tanyanya begitu melihat rumah Ryan yang berdiri kokoh di hadapannya. "Ayo turun!" titahku dengan tangan yang membantu melepas helm merah miliknya.
"Kok?" tanyanya bodoh. Aku meletakkan helmnya yang berhasil kulepas di atas spion motor. "Iyaa... Buruan, ah! Kalian tuh butuh ngobrol, tau gak?! Dari hati ke hati. Biar gak salah paham."
"Salah paham apanya?" Ia kembali bertanya yang membuatku menggeram gemas. "Aah! Pokoknya, buruan lo turun dari motor merah lo itu! Susah banget, sih?!"
Mendengar bentakanku itu, ia segera turun dari motornya sebelum kemudian membenarkan jambulnya yang sedikit miring di spion motor yang satunya lagi.
"Udaah... Gak perlu. Lo udah cakep, kok!" seruku lagi seraya menarik leher jaket denimnya dari belakang dan menyeretnya masuk ke rumah Ryan.
"Lo tuh cuma mau ketemu Ryan aja lagaknya udah kayak mau ketemu gebetan!" Aku kembali mengoceh sambil menjawilnya. Dari tempatku berjalan, aku masih mampu mendengar suara decakan kesalnya.
***
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Matcha ✔
Teen Fiction[NOVEL] | Audi Marissa Nasution hanyalah gadis enam belas tahun biasa yang sangat perfeksionis dan ambisius--juga sedikit diktator. Keinginannya simpel. Dia hanya ingin diterima di SMA Nusa Bangsa. SMA nomor satu di kotanya. Dan ia berhasil. Good lu...
