Bagian Empat Belas

189 21 0
                                        

Bagian Empat Belas: Girls Talk

Dengan keberanianku yang selama ini kututupi, aku akhirnya mendatangi musuhku sendiri. Yaa, kalau orang yang menindas dirimu bisa dikatakan sebagai musuh. Ah, salah. Yang benar adalah ketua geng yang suka sekali menindas dirimu.

Aku sengaja menghindari parkiran siang ini. Bukan apa-apa. Di sana ada Ryan yang tengah menungguku untuk pulang bersama. Ya, aku dan dia memang tidak seromantis itu yang akan bergandengan tangan menuju parkiran dan pulang bersama. Walau kami berada di kelas yang sama. Karena, yaa, entahlah.

Mungkin karena kami sama-sama dua orang yang bebas dan sangat-sangat jarang melakukan lovey-dovey ­selayaknya pasangan lainnya. Lagipula, awal mula semua ini adalah kesalahan, 'kan? Bahkan tidak ada kata cinta yang terucap dari kita berdua dari awal. Jadi, yaa, wajar saja bukan?

Rencananya, aku akan mendatangi Gia saat ini. Semenjak aku kembali dari UKS hingga bel pulang berbunyi, aku telah meyakinkan diri untuk menemuinya. Apapun kemungkinan terburuknya, akan aku hadapi. Walau mungkin, Gia-lah yang akan tampil paling buruk-aku jago boxing, ingat? Itu pun kalau-kalau diperlukan.

Sebelumnya, aku memang tidak mengenal siapa itu Gia dan lain sebagainya. Namun berkat Sayla-yang memang tipe orang yang kenal dengan siapa saja-aku jadi tau sosoknya.

Bahkan Sayla sampai memperlihatkan fotonya yang diambil dari akun Instagram Gia. Sosok yang sama yang diperhatikan Alvian dari koridor samping lapangan basket waktu itu.

Gia itu kakak kelasku-walau sifatnya tidak mencerminkan seperti itu. Lebih tepatnya, anak kelas 11 IS-3. Dan dari Sayla pula, aku tau bahwa Gia sudah bersahabat dengan Ryan juga Alvian sejak SMP. Dan karena suatu hal, hubungan mereka menjadi renggang saat Ryan berada di tahun terakhir SMP-nya sedangkan Alvian dan Gia telah berada di tahun pertama SMA-nya di Nusa Bangsa.

Perlukah kuberi gelar 'Miss Knows Everything' seperti tokoh Hermione Granger dalam kisah fiksi Harry Potter milik J.K Rowling pada Sayla?

Bagaimana bisa ia tau sebegitu detailnya tentang masa lalu mereka bertiga? Itu bukan untuk konsumsi publik, 'kan?

Berkat informasi penting dari Sayla itu, kini aku berdiri di samping pintu kelas musuhku-Gia. Menunggu Gia keluar dari kelasnya yang sudah sepi. Hanya ada beberapa murid yang masih berada di dalam kelas dan Gia termasuk salah satunya.

Suara langkah kaki juga tawa yang mendekat terdengar dari dalam kelas. Mereka keluar.

Aku lantas menatap satu per satu murid yang baru saja keluar kelas itu. Mencari sosok Gia.

Namun hasilnya, nihil. Gia tidak ikut bersama mereka.

Penasaran, aku pun lantas menengok ke dalam kelas dan menemukan sosok Gia yang masih terdiam di kursinya. Melamun.

"Gak pulang, huh?" ucapku basa-basi tanpa merubah posisiku berdiri. Gia menengok ke arahku lantas berdecih pelan. "Ngapain lo di sini? Lo gak takut sama gue? Mau gue bully lagi, huh?"

Aku tersenyum miring mendengar ucapannya yang angkuh itu. "Gue yakin lo gak berani bully gue lagi setelah dilabrak Ryan tadi pagi, remember?"

Gia tersentak pelan. "Lo tau? Lo nguping?" Aku hanya memberinya senyum simpul yang mematikan. "Itu gak penting untuk sekarang." Ia mendengus kasar mendengarnya. "Terus, mau apa lo di sini?"

"Girls talk?" jawabku skeptis sembari menggedikkan kedua bahu pelan. Aku lantas berjalan mendekati Gia. "Apa maksud lo dengan 'girls talk' itu, hah? Apa ada yang mesti kita bahas?" tanyanya terdengar gelisah.

"Absolutely, yes." Aku kemudian memutarkan sebuah kursi yang ada di depan meja Gia dan mendudukkan diriku di sana. "Terutama tentang hubungan lo, Ryan, sama Alvian. Karena dua cowok itu 'kan lo jadi bully gue?"

Gia menatapku dengan pandangan angkuh yang ia miliki. Mencoba menutupi rasa gelisahnya. "Apa itu penting?" Aku menganggukkan kepala mantap. "Penyebab gue ditindas adalah itu. Hubungan segitiga antara lo dan dua cowok itu. So, gue mesti tau."

"Gimana kalo gue gak mau ngasih tau lo? Gue gak merasa diuntungkan dengan ini semua," tolak Gia keras kepala. Aku kemudian mengeluarkan senyum licik andalanku yang jarang sekali kuperlihatkan semenjak masuk Nusa Bangsa.

"Oh, jelas aja lo diuntungkan. Cukup kasih tau gue dan lo bebas dari ancaman balas dendam Ryan. Lo tau? Kalo lo tetep gak mau kasih tau gue, gue bakal aduin lo ke Ryan dan bilang hal-hal yang gak bener tentang lo. Kayak, lo yang nyoba buat bully gue lagi, misal?"

"Licik," desisnya sebal. Lagi-lagi, aku membalasnya dengan senyuman. Kali ini dengan senyuman yang paling manis tetapi menyimpan banyak racun di dalamnya. "Ini namanya penawaran, sayang. Negosiasi. Dengan cara yang cerdik tentunya."

"Oke! Gue bakal kasih tau lo. Apa yang mau lo denger lebih dulu?" seru Gia menyerah dengan nada kesalnya. Aku bersorak gembira dalam hati mendengarnya.

"Mm, hubungan kalian di masa lalu, mungkin?" Gia menghela nafasnya berat.

"Kita temen di SMP. Dekeeet banget. Dulu. Kita satu ekskul, basket. Tapi di tahun pertama gue masuk SMA, tahun yang sama di saat Ryan kelas tiga SMP, hubungan kita bertiga jadi renggang. Sampai sekarang. Tamat."

Aku menganggukkan kepala pelan. "Gue udah tau bagian itu," ucapku yang membuatnya terperangah. "Kalo lo udah tau, kenapa mesti nanya?"

"Testing," jawabku ringan. Senyum miring kutampilkan. "Gimana sama kisah pribadi antara lo dan Ryan? Kayak, cinta bertepuk sebelah tangan, mungkin? Who knows?"

"Apa yang lo denger tadi pagi kurang jelas? Gue yakin lo gak cukup bego untuk itu," jawabnya. Aku mendeliknya kesal karena menyebutku bego secara tidak langsung.

"Oke. Kita lewat bagian itu. Gimana kalo kita lanjut ke bagian inti? Tentang penyebab renggangnya pertemanan kalian. Gak akan ada asap tanpa api, ya 'kan?"

Gia mendesah pelan mendengar pertanyaanku. "Untuk yang satu itu, gue juga gak tau. Gue gak ngerti. Tiba-tiba aja dua cowok itu saling menjauh. Dan karna itu juga gue ikut-ikutan ngejauh. Gue pikir, mereka ada masalah pribadi yang gak mesti gue tau." Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda paham. "Udah, 'kan? Gue mau balik."

Gia lantas menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan dan bangkit dari kursinya. "Satu pertanyaan lagi buat lo," ucapku menahan langkah Gia yang hendak keluar kelas. Gia terdiam di tempat. Begitu juga denganku yang bahkan tak melirik ke arahnya. Tapi aku tau, Gia masih ada di sana. Menunggu pertanyaan terakhir dariku.

"Menurut lo, apa nama hubungan yang cocok buat kalian bertiga saat ini?"

Gia hanya terdiam membisu. Mungkin ia tengah berpikir sejenak. Mencoba mencari kata-kata yang pas untuk melukiskan hubungan antara dirinya dan dua lelaki itu. Hubungan yang kini terasa aneh dan janggal bagi mereka bertiga.

"Jujur, gue sendiri gak tau hubungan apa yang saat ini sedang kita perankan. Kita dekat, tapi bukan teman. Kita bertengkar, tapi bukan musuh. Lo tau apa artinya itu?" Gia akhirnya menjawab setelah terdiam sekian lama. Aku mendengus kasar mendengar jawaban darinya. Merasa kesal tak menentu di satu sudut hatiku.

Aku kemudian berdiri dari tempatku duduk dan berbalik menatap Gia dengan kedua tangan yang bersedekap. Menunjukkan sikap pongahku padanya. "Jawaban lo tadi itu, sama persis kayak jawaban Ryan tadi pagi."

Ia berbalik pelan menghadapku dan kini, giliran Gia yang tersenyum sinis padaku. Ia menggedikkan bahunya acuh sebelum berkata, "Well, mungkin itu yang namanya jodoh."

Gia lantas melangkahkan kakinya keluar kelas dengan langkah riang tanpa beban. Berbanding terbalik denganku yang kini tengah mengepalkan kedua tanganku erat.

Entah apa yang tengah merasukiku, tapi aku sangat tidak suka mendengar balasan Gia tadi.

Dan rasanya, aku butuh mengeluarkan kemampuan boxing-ku ini entah pada siapa pun--atau apapun--itu.

***

To Be Continued

Matcha ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang