Bagian Dua Puluh: Ketahuan
"Sayla?!" pekikku kaget begitu menyadari sosok gadis yang sangat kukenal itu. "Gimana bisa lo ada di sini?" tanyaku heran. Sayla malah terkikik pelan dan melangkah mendekatiku.
"Apa status gue di sini masih dirahasiakan?" tanyanya dengan nada jail pada Daffa yang membuatku mengernyit tak mengerti.
Melihat ekspresiku, Sayla malah tertawa puas hingga rasanya mampu membangunkan Ryan dari tidur panjangnya bila saja Daffa tak segera membungkam mulutnya dengan sebelah tangan yang membuat ia berhenti tertawa seketika.
"Sorry-sorry. Muka lo bikin gue ngakak, sih, Di!" serunya menyalahkanku. Aku hanya menatap datar wajahnya yang membuatnya meringis.
"Gue ke sini di kasih tau tante-tante yang gue maksud di sini itu, yaa, nyokapnya Ryan. Dan..." Ia menggantungkan ucapannya sambil menatapku jail. "Gue saudaranya Ryan!" lanjutnya riang. Aku memelototkan kedua mataku. Menatapnya penuh dengan rasa tak percaya. Lalu, menatap wajah datar Daffa seolah mencari sedikit clue. Atau mungkin saja Daffa dapat membungkam mulut Sayla kembali yang telah seenaknya mengaku-ngaku.
Beberapa menit mencari jawaban, aku akhirnya sadar bahwa Sayla memang berkata jujur kepadaku. Ia memang saudara dari Ryan. Wajahnya yang polos itu tak menggambarkan sebuah dusta bahkan tipuan sama sekali. Dan di saat itulah, aku merasa benar-benar bodoh.
Bagaimana bisa aku tidak securiga itu pada Sayla mengingat ia yang tau segalanya tentang hubungan rumit yang terbentuk di antara Ryan, Alvian dan Gia?
"Gimana ... bisa?" tanyaku begitu bodohnya. Sayla terkikik pelan mendengar pertanyaanku-atau bahkan karena melihat wajah desperate-ku.
"Seperti yang udah gue bilang tadi, gue saudaranya Ryan. Tante gue adalah nyokapnya Ryan, Tante Nira. Dan gue adalah anak dari kakaknya nyokap Ryan. Jadi, yaa, gue saudaranya Ryan," jelas Sayla panjang lebar.
"Kenapa ... lo gak bilang?" tanyaku lagi dengan perasaan setengah kesal dan setengah putus asa pada Sayla. Sayla malah menggedikkan kedua bahunya acuh. "Lo gak nanya."
Dan setelah itu, ia menyimpan bungkusan buah-buahan itu di meja dekat ranjangku. Kepalanya lalu menoleh ke ranjang di sampingku. Ranjang tempat Ryan terbaring.
"Hmm, hobi lu aneh banget sih, Yan. Kecelakaan tau rasa, kan!" gumamnya pelan yang masih mampu kudengar. "Hobi? Dia hobi apa sampe bikin dia kecelakaan kayak gini?" tanyaku penasaran pada Sayla yang belum juga menghentikan tatapannya yang terlihat menyedihkan itu pada Ryan. "Racing."
Dan seketika, tubuhku membeku mendengar jawaban singkat dari Sayla. Jadi ... itu penyebabnya?
***
Sepertinya, Sayla tau bahwa ia telah keceplosan. Ia lantas berbalik menatapku dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke udara dengan kedua matanya mengarah pada Daffa yang kini terlihat tengah mengeraskan rahangnya. "Bukan, bukan! Bukan racing kayak begitu yang gue maksud!" sangkalnya.
"Kenapa, sih, Say? Kenapa mesti ngelak? Bilang aja kalo Ryan itu tukang balapan. It's okay," ucapku padanya. Kini, mengetahui usahanya sia-sia, ia menghembuskan nafasnya perlahan dan mulai menurunkan kedua tangannya yang ia kibas-kibaskan tadi.
"Mungkin itu gak masalah bagi lo, tapi ini masalah bagi gue dan Daffa," balasnya seraya menatap Daffa yang tengah menatapnya datar. Enggan memberinya bantuan.
"Ryan udah nyuruh gue dan Daffa, juga orang-orang terdekatnya untuk gak ngasih tau lo dulu tentang hobi liarnya ini. Dia ... gak ngizinin satu orang pun di antara kita buat bocorin rahasia ini, atau kita akan dapet hukumannya. Katanya, biar dia sendiri yang bilang ke elo," jelasnya dengan nada yang frustasi. Aku tertawa pelan melihatnya.
"Orang-orang terdekatnya? Apa itu juga termasuk Alvian dan Gia? Para mantan sahabatnya?" tanyaku lagi. Sayla menganggukkan kepalanya pelan.
Aku merasa tidak berguna sekarang. Aku merasa bukanlah pacarnya hingga ia menutupi semua ini dariku.
Tapi bila dipikirkan kembali, kita memang bukan sejenis pacar yang seperti itu. Singkatnya mungkin, kita bukan pacar benaran. Kita hanya berpacaran karena satu-dua hal. Jadi, terbuka pada pasangan masing-masing rasanya tidak perlu.
Jadi, seberapapun aku merasa kecewa, marah dan kesal, aku tetap tidak punya hak. Dan kenyataan itu menamparku begitu keras.
"Hei! Sebenernya, siapa Ryan itu sebenernya? Kenapa lo yang sebagai saudaranya aja bisa 'takut' sama ancaman Ryan yang baru gitu doang?" tanyaku kembali dengan tatapan tak percaya pada Sayla. Sayla menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan. Gue bukannya takut sama Ryan. Tapi gue menghormatinya. Menghormati seluruh keputusannya termasuk mengenai hal-yang menurut lo mungkin-kecil ini. Dan sekarang, dengan gue yang 'bocor' ini, gue merasa udah menginjak harga dirinya. Gue merasa udah berkhianat sama dia sampai dirasa gak ada lagi rasa hormatnya gue ke dia," ujar Sayla lemah. Dari wajahnya, ia benar-benar terlihat bagai seseorang yang tengah frustasi.
Aku lantas menggengam kedua tangannya dan tersenyum pelan padanya. "Gak apa-apa, Sayla. Gue ngerti kok kalo tadi lo gak maksud bocorin rahasianya Ryan. Anggap aja gue gak tau! Dan Sayla, kalo lo pikir lo adalah seorang pengkhianat, no, itu bukan lo. Lo bukan seorang pengkhianat, tapi lo adalah teman gue. Sahabat gue. Anggap aja lo tadi bukan lagi bocorin rahasianya Ryan, tapi lagi curhat sama gue. Sama sahabat lo sendiri," ucapku menenangkan dirinya yang sepertinya terpukul.
Hebat. Apa yang dilakukan Ryan selama ini hingga membuat Sayla si ceria ini menjadi sosok Sayla si pemurung yang merasa dirinya pengkhianat? Yang terlihat putus asa dengan dirinya sendiri hanya karena ia keceplosan berbicara?
Sesaat setelah mendengar ucapanku itu, Sayla berseru riang sambil memberikan senyuman lebarnya padaku. "Thanks, ma bestie. Akhirnya lo mau ngakuin gue sebagai bestie lo juga!"
Aku mengernyit heran dengan perubahan mood-nya yang tiba-tiba itu. Tapi mengabaikan itu semua, setidaknya, aku lega dia sudah tak menyalahkan dirinya sendiri lagi.
***
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Matcha ✔
Teen Fiction[NOVEL] | Audi Marissa Nasution hanyalah gadis enam belas tahun biasa yang sangat perfeksionis dan ambisius--juga sedikit diktator. Keinginannya simpel. Dia hanya ingin diterima di SMA Nusa Bangsa. SMA nomor satu di kotanya. Dan ia berhasil. Good lu...
