Bagian Dua Belas: Percakapan Di Dalam Toilet Wanita
Ini sudah hari ketujuh aku menjadi 'pacar' Ryan. Dan, ya. Para pengganggu itu sudah tidak ada lagi. So, welcome back my beautiful life!
Tapi jujur, meski begitu, aku penasaran. Sangat penasaran. Bagaimana bisa Ryan menghentikan teror secepat ini? Hanya butuh waktu satu minggu dan dalam sekejap, semua teror itu berhenti. Itu ... keren!
Jangan kira aku tak menanyakannya pada Ryan. Sudah! Aku sudah menanyakan hal itu berulang-ulang kali. Tapi hasilnya? Nihil. Ia bahkan tidak menghiraukan pertanyaanku-seperti biasanya. Sungguh sangat menyebalkan!
Maka dari itu, aku berniat menyelidikinya langsung. Tapi masalah baru muncul, aku harus mulai darimana?
Bel istirahat seketika berbunyi dan aku secara otomatis menghentikan segala asumsi dalam benakku. Tanganku dengan cepat memasukkan buku dan alat-alat tulisku ke dalam tas hingga seseorang memanggilku. "Di! Kantin?" ajak Sayla. Aku menganggukkan kepalaku pelan dan mengikutinya yang berdiri dari tempatnya duduk.
"By the way, lo liat Ryan?" tanyaku di tengah perjalanan menuju kantin. "Ryan? Dia udah keluar kelas dari tadi. Lo gak liat? Mungkin dia udah nyampe kantin duluan."
Aku menganggukkan kepalaku pelan mendengar jawabannya. "Mm, lo duluan aja. Gue ke toilet bentar," ucapku yang kemudian membelokkan langkah menuju toilet wanita.
"Jangan lo kira gue gak tau apa yang ada di otak busuk lo itu, Gia. Gue tau banget sifat lo."
Suara lelaki dari dalam toilet wanita itu seketika membuatku terdiam di depan pintu toilet. Tapi rasanya, aku kenal suara itu. Sangat kenal. Tapi, apa benar itu dia?
"Lo gak tau apa-apa tentang gue, Ryan! Gak juga sama apa yang ada di dalam otak-yang menurut lo-busuk ini!"
Deg!
Aku benar. Itu memang suara Ryan. Dengan siapa ia berbicara? Dan apa harus dilakukan di dalam toilet wanita?
"Gue udah kenal lo jauh sebelum ini, Gia. Gue temen lo, 'kan?" Ryan kembali berucap. Kini suaranya terdengar lebih rendah dari yang sebelumnya. "Ya. Teman. Lo selalu aja anggap gue teman! Kalo gak teman, lo pasti anggep gue kakak kedua lo, ya 'kan?
"Yan, lo itu udah tau pasti kalo gue suka sama lo dari dulu, 'kan? Jadi, kenapa lo mesti jadian sama orang yang asing bagi lo dibanding sama gue? Orang yang udah bertahun-tahun suka sama lo?"
Terjadi keheningan di dalam sana untuk beberapa detik. Hingga kemudian Ryan menjawab dengan nada lemah, "Lo juga tau pasti apa jawabannya, 'kan?"
"ENGGAK! Gue gak tau jawabannya, Ryan! Kasih tau gue apa jawaban untuk pertanyaan yang satu itu, Ryan!"
"Jawabannya, karena kita itu teman. Sahabat. Lo, gue dan Alvian."
"Selalu aja kayak gitu! Terus kenapa kalo kita sahabat? Emang sahabat gak boleh pacaran?! Lagian, kita sekarang bukan sahabat lagi. Ya 'kan, Ryan? Persahabatan kita udah hancur. Mau gak mau, lo harus ngakuin itu, Ryan. Lo bahkan jadi musuh buat Alvian. Emang lo kira gue gak tau apa yang tiap malem kalian lakuin, hah?!"
Toilet itu hening dalam sekejap. Ryan tidak membalas ucapan wanita itu untuk beberapa saat.
"Oke, Gia. Gue ngaku kalo persahabatan kita hancur, sekarang. Kacau. Gue sama Alvian bahkan jadi musuh untuk saat ini. Tapi, lo harus percaya kalau kita akan jadi sahabat yang seperti dulu lagi. Cepat atau lambat, gue yakin hubungan aneh ini akan berakhir dan kita kembali menjadi sahabat lagi."
"Kenapa gue mesti terjebak kayak gini sih, Yan? Kenapa gue mesti kena friendzone sama lo? Kenapa cewek itu beruntung banget bisa sama lo? Dia terlalu beruntung, Yan!" Suara wanita itu kembali terdengar dan terlihat sangat frustasi dari dalam sana.
"Lo salah. Bukan dia yang beruntung, Gi. Tapi gue yang beruntung bisa sama dia."
Seketika, ucapan Ryan itu mampu membuat degup jantungku berdetak tak beraturan. Sedangkan aku kemudian merasa aneh pada diriku sendiri.
"Oke. Kalo gitu, biarin gue kasih pelajaran ke cewek lo. Dan jangan lo berhentiin gue untuk yang satu ini!" seru wanita di dalam sana itu penuh dendam dan berapi-api.
"Don't, Gia! Lo tau pasti 'kan dampaknya? Sekali aja lo bully Audi lagi, gue yang balasin dendamnya ke elo," Ryan berdesis pelan dan tajam di dalam sana. Namun aku masih mampu mendengarnya.
Aku terhenyak pelan mendengar penuturan Ryan itu. Dengan secepat kilat, aku lantas bergegas pergi dari sana. Masih dengan jantungku yang berdegup tak beraturan.
Jadi,
sedari tadi,
mereka tengah membicarakan...
aku?
***
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Matcha ✔
Novela Juvenil[NOVEL] | Audi Marissa Nasution hanyalah gadis enam belas tahun biasa yang sangat perfeksionis dan ambisius--juga sedikit diktator. Keinginannya simpel. Dia hanya ingin diterima di SMA Nusa Bangsa. SMA nomor satu di kotanya. Dan ia berhasil. Good lu...
