"Aku pura-pura atau tidak, itu bukanlah masalahnya. Aku hanya ingin keluarga yang lengkap, tanpa benci apalagi dendam. Kita sudah hidup menderita selama ini. Kenapa tidak memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk bahagia?"
Kalimat So Hyun terus terngiang di telinga Jiwon, wanita cantik yang kini duduk sembari menikmati minuman hangat. Haruskah ia memberikan kesempatan kedua pada Kyuhyun?
Seperti dalam cerita fiksi. Seseorang melakukan kesalahan, lalu menebus kesalahannya dan berakhir dengan kebahagiaan. Pasti seperti itu yang So Hyun harapkan. Namun, ia tidak yakin semua akan berakhir dengan kebahagiaan.
Memang ini bukan sepenuhnya salah Kyuhyun, melainkan salah kedua orangtua Kyuhyun dan juga Yoo Jin. Hanya saja, yang sangat Jiwon sesali adalah Kyuhyun yang pernah begitu membenci So Hyun. Ia menyayangkan hal itu, hingga sulit untuk memberikan maaf.
"Aku melupakan apa yang Ayah lakukan padaku, karena aku sudah menunggu lama untuk hari ini. Aku tidak ingin melewatkannya begitu saja, hanya karena tidak ingin memaafkan. Sebenarnya, aku cukup payah dalam hal memaafkan. Tapi untuk Ayahku, aku akan menjadi pemaaf karena keinginan kehadirannya disisiku mengalahkan ego untuk tidak memaafkan."
Lagi. Kalimat So Hyun kembali terngiang di telinga, membuatnya semakin bingung. Jika dipikir lagi, bukan hanya Kyuhyun yang tidak menepati janji, tapi ia juga melakukannya. Ia pernah berjanji untuk selalu disisi Kyuhyun, menjadi istri yang baik, menemaninya dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan. Ia mengucapkan janji itu pada Tuhan, namun ia pergi dalam waktu 2 tahun.
Sakit. Jiwon yakin, Kyuhyun pasti merasa sangat sakit saat ia pergi begitu saja, terutama ia terlihat seperti pengkhianat tanpa alasan yang jelas. Secara tidak sengaja, ia telah menyakiti pria itu. Andai dulu ia bersikeras untuk bertahan dan mengatakan semuanya pada Kyuhyun, semua ini pasti tidak akan terjadi. Ia yang dulu terlalu penurut dan penuh rasa takut, hingga tidak berani memberikan perlawanan.
****
"Dari mana saja kau?! Dasar manusia menyebalkan!" Kyuhyun berucap sembari memukul kepala Minho dan sekarang, ia tengah berada didepan toko swalayan.
"Biarkan aku minum dulu!" Minho membentak Kyuhyun, yang seperti ingin kembali memukul kepalanya. Andai Kyuhyun tahu yang sebenarnya, dia pasti tidak akan tega melakukan ini.
Kyuhyun seketika berhenti memukul kepala Minho dan membiarkannya minum air. Entah pria itu dari mana, dia terlihat seperti orang yang baru saja mengikuti lomba lari. Keringat bahkan sampai membuat baju Minho basah.
Setelah menghabiskan satu botol air, Minho terduduk dan raut lelah masih terlihat jelas di wajahnya. Bagaimana tidak? Ia baru saja melarikan diri dari rumah yang menjadi tempat penyekapannya selama 2 bulan lamanya. Siapa mereka dan apa maksudnya, Minho sungguh tidak tahu.
Tapi anehnya, hari ini, mereka seperti memberikan kesempatan untuk kabur padanya. Pertama, mereka tidak mengunci pintu. Sungguh, tidak ada satupun pintu yang terkunci. Kedua, ponselnya tiba-tiba berada didepan kamar yang menjadi tempat ia disekap. Tergeletak begitu saja, padahal sebelumnya ia tidak pernah bisa menemukan ponselnya. Ketiga, semua penjaga di rumah itu menghilang entah kemana. Keempat, tiba-tiba ada uang dibawah pintu dalam jumlah yang cukup untuk ia pulang. Aneh, bukan?
Sebenarnya tidak aneh, sebab itu adalah perintah langsung dari Seo Joon. Hanya Minho saja yang tidak mengetahui hal itu, hingga mengira ini sebagai keanehan.
Ponsel Kyuhyun kembali berdering, kali ini panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Dengan sedikit rasa malas Kyuhyun menjawab panggilan itu dan betapa terkejutnya Kyuhyun, karena suara Seo Joon tiba-tiba terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Dad? ✔
Fiksi Penggemar"Ada hal yang ingin aku tanyakan pada pria bernama Cho Kyuhyun itu, kenapa kau begitu membenciku? Aku anakmu, Tuan Cho, tapi kenapa kau begitu membenciku?"
