"Dirga... Kenapa masih disini? Nggak balik ke rumah?" tanya Erika saat melihat teman sekelasnya itu duduk sendirian di halaman sekolah mereka sedangkan teman yang lain sudah pada balik kerumah masing-masing.
[................] Dirga tidak menjawab pertanyaan atau pun melirik kearah Erika yang duduk disampingnya.
"Dirga... Lu tau nggak gue sangat senang saat melihat lu lagi. Saat teman-teman bilang lu pindah! gue pikir lu pergi keluar negeri, dan gue tidak mengira kalau gue bakal ketemu lu lagi disini, dan kita juga jadi teman sekelas lagi." ucap Erika sambil tersenyum manis pada Dirga yang ternyata adalah teman sekolahnya waktu di Jakarta.
[..............] lagi-lagi orang yang diajak bicara tidak menjawab atau pun memperhatikan lawan bicaranya. Dirga cuma menatap kosong ke arah jalan yang ada di seberangnya tanpa mempedulikan ada seseorang yang duduk disampingnya dan berbicara padanya
Erika merasakan dirinya sedang berbicara dengan patung berwujud manusia. Walaupun tidak mendapat respon dari lawan bicaranya Erika masih tetap berbicara pada Dirga.
"Dirga... Gue tau lo pasti masih sedih dengan kepergiannya. Tapi apa lo akan terus-terusan bersikap seperti ini? Sampai kapan lu menjauhkan diri dari orang lain Dirga!" ucap Erika
Seolah-olah tidak tertarik dengan arah pembicaraan Dirga langsung berdiri dan berjalan menjauh dari Erika.
"Sampai kapan lu akan begini Dirga?" Batin Erika saat melihat Dirga tidak mempedulikannya dan perlahan menjauh darinya.
✳️✳️✳️✳️
Jenuh, bete, bosan, galau atau apa pun yang mewakili keempat kata-kata itu telah melanda gue sekarang ini. Gimana gue nggak merasa bosan coba orang gue cuma bisa berbaring diatas kasur gue tanpa melakukan apa-apa.
Ditambah lagi saat gue berusaha hilangkan semua kebosanan gue dengan membantu nyokap memasak didapur eh, gue malah diomelin habis-habisan karena bukanya membantu, gue malah bikin masakan nyokap gue menjadi tidak layak buat dimakan, Dan pada akhirnya gue malah diusir dari dapur.
Dan disinilah akhirnya gue berada di kamar gue sendiri, dengan bermalas-malasan diatas kasur ditemani Hp gue.
Yang pertama kali gue lihat saat gue pegang Hp adalah grup kelas gue yang isi pesannya sudah sampai 200 pesan, dan yang dibicarakan juga isinya unfaedah semua.
Maklum lah kalangan jones lagi bersuka ria di grup. Gue ini ngatain orang seperti gue punya pasangan aja! Gue juga jomblo sih tapi nggak ngenes seperti teman-teman yang ada digrup kelas gue itu.
Saat gue tengah asik membaca isi chat grup kelas gue yang isinya unfaedah semua tiba-tiba gue dapet notif dari siapa lagi kalau bukan Dirga.
Ngenes banget kan hidup gue? Saat ada yang ngechat gue eh, yang ngechat adalah orang yang nggak diharapkan sama sekali. Gini amat ya hidup sebagai jomblo!
Dyas D Pratama
Gue udah didepan rumah lu nih!!! Cepatan keluar..Ini bocah ngapa yah? GUE GAK PERNAH SURUH DIA KE RUMAH GUE JUGA, INI DIA SUDAH ADA DI DEPAN RUMAH AJA! GUE BUNUH JUGA DEH INI BOCAH NANTINYA.
Citra_Shalsabila
Ngapain lu kerumah gue? Gue nggak terima tamu pergi gih sana..Dyas D Pratama
Jangan gitu sama calon suami.. Cepetan keluar.. entar kalau lu nggak keluar gue bakal masuk kerumah dengan membawa penghulu nih..Tuh kan Dirga mulai lagi. Mau tak mau akhirnya gue pun keluar rumah buat nemuin Dirga dari pada dia yang masuk ke rumah gue bawa penghulu beneran bisa rumit ceritanya, dan ditambah lagi gue masih belum siap nikah muda.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Boy Friend
Teen FictionApa kalian pernah punya teman sekelas yang nyebelin, aneh, + jahil yang nggak ketolongan? Kalau gue punya satu disini dan namanya adalah Dirga. Dan yang paling anehnya lagi Dirga yang gue lihat dan orang lain lihat itu berbeda. Hah, yang benar saja...