Part 28

2.7K 120 17
                                        

Hari Rabu.

Aku datang ke yayasan, selain untuk menjenguk Yudhi, aku juga berniat untuk mengikuti test seperti yang dijelaskan oleh Cakra. Namun saat aku tiba di tempat, nampaknya acara VCT sudah selesai, banyak para sukarelawan yang menjadi peserta acara tersebut telah berhamburan meninggalkan TKP.

Aku bergerak menuju ke meja reseptionis, di sana aku bertemu dengan seorang wanita yang sedang sibuk membereskan beberapa berkas.

''Selamat siang, Mbak!'' sapaku pada wanita cantik ini.

''Selamat siang, Mas ... ada yang bisa saya bantu?'' sahut Mbak-nya ramah tambah senyuman gula memamerkan gigi berbehelnya.

''Ya, Mbak, aku mau registrasi untuk mengikuti test!'' terangku.

''Aduh, maaf banget, Mas ... acaranya baru saja selesai dan pendaftarannya udah ditutup. Kalau, Mas mau ... rabu depan aja, Mas datang ke sini lagi!''

''Oh gitu ya, Mbak ...''

''Iya, Mas ...''

''Kalau begitu ... bisa gak saya ketemu dengan ... Cakra ... please!"

''Oh ... Pak Cakra ... sebentar ya, Mas. Saya telpon dulu orangnya.'' Wanita ber-make up tipis ini mulai mengotak-atik handphone-nya, lalu melakukan panggilan suara.

''Halo, Pak Cakra ..., maaf, Pak ... di depan saya ada seseorang, dia bilang mau ketemu dengan Bapak ... bisa, gak?''

''.....''

Wanita ini menjauhkan HP-nya dari kupingnya, lalu mendongak ke arahku.

''Maaf, Mas ... nama Mas siapa?'' tanya wanita ber-lipstick merah muda ini kepadaku.

''Hartian!'' jawabku.

Dan si cewek ini kembali mendekatkan ponsel ke kupingnya.

''Pak Cakra ... namanya, Hartian!''

''......''

''Baik, Pak ...''

Tut ... tut ... Wanita berambut panjang sebahu ini mengakhiri panggilan, kemudian dia menatapku sambil tersenyum simpul.

''Kata Pak Cakra ... Mas disuruh masuk saja ke ruangannya!'' ujarnya.

''Maaf, Mbak ... di mana ya, ruangannya?''

''Oke ... Mas lurus dari sini terus belok kiri, nanti ada ruangan yang bertuliskan 'Ruang Test' ... nah, Pak Cakra ada di ruangan itu!'' petunjuk wanita ramah ini.

''Baiklah ... terima kasih ya, Mbak!"

''Sama-sama, Mas!''

Aku melangkahkan kakiku ke arah yang sesuai dengan petunjuk si reseptionis itu, dan tak seberapa lama, aku sampai juga di depan pintu ruang tersebut.

''Permisi,'' ucapku sambil mengetuk pintunya. Tok ... Tok ... Tok!

''Masuk!'' Suara tenor khas Cakra terdengar dari dalam, aku pun tanpa ragu lagi langsung membuka pintunya.

''Hai ... Tian!'' sapa Cakra dengan mimik riang menyambut kedatanganku, dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku.

''Hai ... Cakra!'' balasku dengan senyuman kecil meihat Cakra yang memiliki ketampanan yang tak luntur dari kemarin. Dia masih saja terlihat mempesona di kedua lensa mataku.

Cakra menarik tanganku dan menyuruhku duduk, kemudian dia bergerak cepat menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat, setelah itu dia duduk di sebelahku.

''Gimana ... kamu mau ikutan test sekarang?'' újar laki-laki berjas warna putih seperti jas para dokter.

''I-iya!'' Aku mengangguk.

''Oke ... kalau gitu kamu rileks saja, aku akan menyiapkan peralatannya dulu!'' Cakra membuka tas pribadinya dan mengeluarkan benda-benda khas yang dimiliki seorang dokter. Sebuah jarum suntik, botol kosong berukuran mini, kapas dan cairan alkohol.

''Tian ... apa kamu suka disuntik?'' Cakra mendekati aku.

''Sejujurnya ... a-aku tidak suka ... aku takut, hehehe ..."

''Kalau aku yang nyuntik apa kamu masih merasa takut, Tian?"

''Hehehe ... entahlah!"

''Apakah wajahku sangat menyeramkan?'' Cakra mendekatkan wajahnya ke wajahku sangat dekat hanya beberapa senti saja, sehingga aku bisa merasakan aroma nafasnya yang segar.

''Tentu saja, tidak ... ka-kamu pria yang sangat tampan!'' tukasku sambil menatap bola matanya yang super bening seperti kaca.

''Kalau begitu kamu boleh pandangi wajahku sepuas kamu, biar kamu tidak takut lagi ...'' Cakra menunjukan jarum suntiknya yang nampak runcing dan berkilap, sangat menyeramkan ... tapi karena wajah Cakra lebih bersinar dan enak dipandang, rasa seram itu seolah sirna entah ke mana.

''Tian ... bentangkan lenganmu!'' ucap Cakra pelan dan aku pun menurutinya, lalu dengan lembut lenganku diusap dengan selembar kapas yang sudah diolesi cairan alkohol. ''Aku hanya akan mengambil sample darahmu saja, paling beberapa cc!" lanjutnya sambil melirik manja.

''Tahan ya, Tian ... jarumnya akan kutancapkan, anggaplah ini sebuah gigitan semut!'' bisik Cakra di telingaku.

Sejurus kemudian,

''Jleb!'' Jarum suntiknya menusuk dan merobek aliran darahku, kemudian dengan cepat Cakra menarik gagang suntik, sehingga darahku tersedot dan masuk ke ruang tabung suntik. Aku memejamkan mataku sejenak dan merasakan sensasi pegal di area lenganku.

Kembang LelakiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang