Jimin menggebrak meja. Matanya menatap nyalang pada sang ayah.
"Bagaimana mungkin Ayah tidak tau?! Ayah adalah Park Yunho, pemilik perusahaan Park Company yang bernilai bermilyar milyar, dan Ayah tidak tau dimana anak Ayah sendiri?"
Tuan Park menghela nafas. Menarik tangan Jimin untuk duduk kembali, namun tangannya di tepis kasar oleh Jimin.
"Saat ibumu melahirkannya, ibumu kehilangan banyak darah. Jiae sudah sehat dan selamat langsung di pindahkan ke box bayi. Kami semua sibuk mengurus ibumu, Jimin. Tapi, Chanyeol yang ingat jika Jiae bisa sendirian di ruangan penuh bayi itu, ia berinisiatif untuk menjaga Jiae."
"Junsu hyung?"
"Ia menjagamu di kamar inapmu. Ayah benar benar panik saat tau ibumu kehilangan banyak darah. Sialnya, golongan darah Ayah dan ibumu berbeda. Setelah berhasil menemukan pendonor yang adalah pamanmu, Kim Ryeowook, ibumu berhasil di selamatkan. Tapi—"
Tuan Park menggantung ceritanya, membuat Jimin gemas setengah mati.
"Tapi?"
"Ada yang sengaja membuka alat bantu pernapasan ibumu, dan menggantinya dengan tabung yang berisi racun. Akibatnya, tubuh ibumu yang baru saja sembuh kembali sakit lagi. Dan lagi, infus yang terpasang pun di penuhi racun. Ibumu sempat meninggalkan pesan yang ku bilang padamu tadi sebelum menghembuskan napas terakhirnya."
Rahang Jimin mengeras. Ia sangat marah karena ibunya di bunuh dengan cara segila itu. Dalam hati ia berjanji, ketika sudah menemukan pembunuh sang ibu, ia akan membunuhnya dengan cara yang lebih gila daripada itu. Tapi ternyata, ceritanya tidak berhenti sampai di situ.
"Begitu aku teringat Jiae, aku pun berlari ke ruangan bayi. Namun, yang kutemukan hanya Chanyeol yang penuh luka dan tergeletak pingsan di lantai. Jiae hilang. Ia di bawa oleh pembunuh ibumu."
"Bagaimana Ayah tau jika Jiae di bawa mereka?"
"Setiap pembunuh meninggalkan jejak, kau tau, bukan? Jejak yang di tinggalkan, persis dengan yang ia tinggalkan untuk ibumu."
"Ayah tidak mencoba mencarinya?"
"Ayah berkali kali hampir mendapatkannya, tapi, mereka terlalu cerdik, Jimin."
"Kalau begitu, aku yang akan mendapatkannya, Ayah. Aku juga akan membalaskan dendam ibu."
Tuan Park mendongak dan mendapati ekspresi Jimin mengeras namun ia sangat bersungguh sungguh dengan ucapannya. Tanpa bisa di cegah, Park Yunho memeluk putra bungsunya. Mendapati respon terkejut dari Jimin.
"Ayah mengandalkanmu. Nama ketua perkumpulan pembunuh ibumu, Siwon."
-DANGEROUS-
"Even! Kita harus bergerak!"
"Kurasa tak perlu, Jim."
"Tak per—"
Jimin yang baru menyiapkan pelurunya mendongak dan yang di dapati oleh penglihatannya benar benar di luar dugaannya. Ketiga orang yang di tinggalkannya tadi, kini menjadi sandera seorang Choi Seunghyun yang tersenyum miring di depan sana.
"Kita bertemu lagi, adikku."
"Mana sudi aku menjadi adik bajingan sepertimu."
"Hahaha." Seunghyun tertawa sengak, lalu lanjut bicara, "Kau sudah berani rupanya."
Bisa Jimin lihat, Seunghyun mengisyaratkan pada anak buahnya untuk mengambil sesuatu. Sesuatu yang benar benar membuat bola mata Jimin membuka lebar.
"Jiae?"
Itu lirihan sang Ayah yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya. Itu—adiknya? Sungguh, Jimin benar benar ingin memukui Seunghyun dengan brutal karena tidak bisa menjaga kesehatan adiknya. Lihatlah, badan mungil itu kurus sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS [my]
Ação[COMPLETED] [SEDANG DALAM PROSES EDIT-ON HOLD] "aku tidak akan membiarkan orang yang menyakitimu hidup, Yoongi." -Jimin Park ⤵ minyoon b×b! dldr! action-romance d.e
![DANGEROUS [my]](https://img.wattpad.com/cover/113738187-64-k296349.jpg)