Ryeosuke memutar matanya malas. Menjadi seseorang yang berada di antara dua orang yang sedang kasmaran memang selalu hanya ada pada satu pilihan, 'diabaikan'. Namja Jepang itu memakai earphone yang sejak tadi bertengger manis di leher jenjangnya. Menyalakan musik cukup keras, sebisa mungkin tak mendengarkan percakapan keduanya.
"Yoongi, kau tau tidak?"
"Tau apa?"
"Kau cantik."
"Keparat!"
"Tapi, kau memang cantik."
Sial memang. Kenapa telinganya tidak bisa di ajak bekerja sama di saat kedua makhluk di hadapannya itu berbicara hal tidak penting? Kenapa hanya saat penting saja telinganya mau bekerja sama? Telinga sialan, makinya dalam hati.
Buk!
Mata Ryeosuke mendelik ke arah Jimin yang baru saja menendang kakinya cukup keras. Secara reflek melepaskan earphone yang di pakainya dan memaki maki si pelaku penendangan kakinya.
"Bedebah! Kenapa menendangku?!"
"Aku memanggilmu sejak tadi, keparat!"
Kemana ia tadi? Oh, memaki telinga sialan ini.
"Geser dudukmu, bodoh. Orang itu mau duduk."
Sesosok makhluk manis menyapa penglihatan namja Jepang itu. Ryeosuke sempat terpesona sebelum menggeser duduknya dan tersenyum kikuk setelah di tendang lagi oleh Jimin karena tidak segera menggeser duduknya.
Kereta itupun mulai meninggalkan Stasiun Seoul.
Anak tunggal Kagawa itu menatap keluar jendela. Kembali memaki maki dalam diam. Jimin yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan tanpa tau penyebab Ryeosuke mengumpat dalam diam.
"Apa kabar, Even?"
Pertanyaan dengan bahasa Korea beraksen Inggris itu membuat dua di antara empat namja di sana terkejut. Jimin, tentu saja ia tau jika itu adalah nama lain Ryeosuke yang di berikan oleh ibunya. Yang membuatnya terkejut, darimana orang itu tau? Apa orang itu mengenal si Kagawa? Sedangkan Ryeosuke sendiri terkejut karena ia tak menyangka orang di sebelahnya itu akan mengajaknya bicara.
"Baik. Kau?"
"Aku baik."
"Kalian saling mengenal?", Yoongi menginterupsi keduanya.
Namja di samping Ryeosuke tersenyum tipis dan menyodorkan tangannya pada Yoongi yang segera di sambut olehnya.
"Isak Valtersen."
"Min Yoongi."
Mata berwarna kebiruan itu beralih menatap Jimin, "dan kau pasti, Park Jimin."
"Wait, wait— Isak Valtersen?"
Jimin tampak berfikir sejenak dan seringai itu muncul di sudut bibirnya. Oh, sepertinya ia tau sekarang.
"Kau kenal dia juga, Jimin?"
"Isak satu SMA denganku dan juga Even."
"Even?"
"Even Bech Næsheim. Nama Ryeosuke yang di berikan oleh ibunya."
[Pemberitahuan bentar:v "mulai chapter ini, nama Ryeosuke di ganti Even." sekian, terimakasih!]
KAMU SEDANG MEMBACA
DANGEROUS [my]
Acción[COMPLETED] [SEDANG DALAM PROSES EDIT-ON HOLD] "aku tidak akan membiarkan orang yang menyakitimu hidup, Yoongi." -Jimin Park ⤵ minyoon b×b! dldr! action-romance d.e
![DANGEROUS [my]](https://img.wattpad.com/cover/113738187-64-k296349.jpg)