Momen Manis Di Armada Sakti

3K 166 3
                                        


-------

Ketika langit menggeliat, disusul Mentari pun berusaha memamerkan senyum hangat dibalik awan berkabut. Kulitku sendiri masih mengecap udara yang begitu dingin pagi ini. Membuatku malas pergi menuntut ilmu.

Kunikmati sapaan embun yang kutepis dengan sepatu diantara rerumputan. Lumayan. Sepatu hitamku tampak bersih tanpa perlu mengelapnya.

Sementara lengkingan kenek-kenek angkot merajai pagi ini, mata tetap setia menanti bus yang setiap harinya mengantarkanku.

Sejak pukul enam tadi, aku yakin dua angkot didepanku ini dengan penuh hikmat mencari penumpang. Kehadiran mereka kemudian menghilang setelah jarum panjang menjemput angka setelahnya.

Tak ada yang berbeda dari beberapa remaja berseragam berbeda motif ini. Kami sama-sama sedang menunggu bis.

Satu-persatu penghuni halte ini memasuki bis yang tepat berhenti di depan kami, membawa sebagian besar pergi jauh dariku dan darinya.

Aku yang diam dan dia bersedekap di ujung halte. Hampir sama dengan hari-hari lainnya. Hening tetap melanda, sampai tiba sebuah bis bernama Armada Sakti membawa kami.

Seperti biasa juga. Berjejal-jejal buruh pabrik, pedagang pasar yang baru pulang, para guru, beberapa anak SMA lain pun ikut menyesaki bis bewarna hijau ini.

Semua tempat terisi. Hanya bisa berdiri bersama penumpang lainnya. Bau-bau keringat dengan campuran bau-bau lain bertaburan di sekelilingku. Ini kan masih pagi?! menyebalkan. Paling tidak bisa mencium hal-hal seperti itu di dalam bis. Asap kendaraan saja sudah membuatku mual.

Kusumpal hidung dengan
kerudungku yang wangi. Tepat disebelahku seorang Nenek membawa keranjang berisi tumpukan Tahu, beliau menyuguhiku dengan tatapan tidak ramahnya.

"Bau ya?! Sampe ditutup gitu?!" ketusnya.

Merasa tak enak, sambil meringis sebagian sisi kerudung tadi kuturunkan.

Bulek-bulek disebelah sang Nenek yang sedang membawa sayuran itu mungkin adalah anaknya. Tadi aku mendengarnya memanggil wanita tua itu dengan menyebutnya 'Emak.' Sang Bulek sepertinya merasa tidak enak. Merasa bersalah dengan sikap sang Ibu, ditorehkannya senyum merasa bersalahnya ke arahku. Mau tak mau bibir ini ikut menyungging juga.

"Wah, Mbaknya ini manis sekali ...." Bulek yang baru saja kubalas senyumannya itu memuji. Aku tahu beliau hanya berbasa-basi.

Lantas aku lebih tersenyum lagi, menyambungkan sinyal bahwa aku tidak percaya dengan pujiannya.

"Loh ndak percaya, ya Mbak?" mata Bulek itu menuju arah lain lalu kembali berujar, "mas-mas. Lihat to, Mbak ini manis banget ya, Mas?"

Mas mana sih yang beliau maksud?

Mataku menyapu kekanan.

Sejak kapan dia ada disana? Menggantungkan tangan kanannya ke atas.

Si jakung itu tersenyum. Senyum yang tak pernah kulihat setelah berabad-abad detik bersamannya. Senyum yang tak pernah kulihat semenjak menjadi teman sekelasnya dari MI sampai SMA.

Merasa seperti ada lelehan coklat, dengan topping hazelnut masuk dalam mulutku. Dan ... rasanya manis sekali. Rasanya manis sekali.

"Iya kan, Mas?" Bulek itu mengulang.

Aku tidak berani mendengar jawabannya. Tidak berharap dia mengujar kata 'ya'. Boro-boro menyahut, senyum saja sudah alhamdulillah.

Tapi antena telingaku ini masih normal. Aku mendengar sambil meliriknya dari sudut mata. Satu kata yang membuat hatiku meledak-ledak seperti pop corn.

"Iya," sahutnya, sudut bibirnya mengembang. Tidak kusangka.

Allah ... mimpi apa hamba semalam?

Ledakan pop corn itu menjadi-njadi. Disusul dengan kakiku yang kelu. Aku hampir saja terjatuh. Tapi tidak. Amna bukan gadis tipe baper maksimal. Amna harus tetap standby dengan elegan.

"Tuh, kan. Bulek bilang juga apa! Bulek ini jujur, Mbak. Mas-mas itu aja bilang iya."

Berusaha mengobati kebaperanku dengan keyakinan, cowok disampingku itu pasti merasa tidak enak saja jika kata 'tidak' terlontar dari bibirnya. Meski kami tak dekat, tapi kami masih satu kelas kok.

Bis berdecit. Ada beberapa siswa dari SMA lain turun. Sedikit longgar. Aku bernafas lega. Ditambah tidak perlu mengendus bau Tahu lagi. Nenek dan Bulek tadi ikut turun bersama pasukan seragam batik.

Kondektur memaksa lewat di depanku. Segera kucondongkan tubuh ke belakang, memindah tas ke depan guna melindungi sesuatu yang harus dilindungi.

Kesal. Kadang kondektur itu sengaja memegang-megang pundakku. Padahal aku sudah tahu kalau sekarang waktunya untuk bayar.

Kukeluarkan uang sepuluh ribuan dengan susah payah.

"SMA Nurul Huda, Pak," ujarku sembari menyerahkan selembar kertas berwarna keunguan.

"Ini bayarnya sekalian berdua, ya? Kalian satu sekolah, Kan?"

Dahiku berlipat. Kondektur itu masih sibuk menghitung setumpuk uang yang beliau pegang tanpa melihat ekspresi kami berdua. Aku menoleh lagi ke arah kanan. Melihat matanya melebar. Aku tahu, dia juga sama herannya denganku. Tanpa sadar kami lupa. Tentu kami punya bet yang sama. Kami memang satu kelas, satu sekolah, satu kampung, tapi tidak sedekat itu untuk saling mentraktir.

"Iya, Pak," sahutku. Hitung-hitung, itu ungkapan rasa terima kasihku untuk lelehan coklat dengan topping hazelnut yang aku terima di menit-menit yang lalu. Alay memang.

Di menit-menit dimana kami berdua akan turun. Aku melihatnya sekilas. Bahkan sampai detik ini pun dia tak mengajakku bicara. Pun aku enggan, mengingat Ibuku pernah berkata,

"Jadi gadis jangan jual murah, Na. Jangan suka ganjen sama laki-laki. Orang akan memperlakukanmu dari caramu bersikap. Ingat itu."

Cukup melenggang pergi ketika Kondektur membuka pintu tanpa berniat menyapanya. Dia saja masih mempertahankan sisi es-nya yang beku. Tapi mengapa aku menginginkan bibirnya mengucap sepatah saja namaku. Merasa sesepesial itukah dirinya sampai tak mau menyapaku duluan. Mengesalkan memang.

Sampai ada teman sudah berdiri di depan gerbang menyapannya. Mereka sebangku. Sudah janjian ya kalian ternyata.

***

Istirahat pertama dimulai. Aku dan geng yang sudah terbentuk hampir dua puluh bulan itu hendak pergi ke kantin.

Maria teman sebangkuku memintaku lebih cepat selesai mencatat. Diambang pintu dia sudah tidak tahan, katanya perutnya lapar belum sarapan.

Tidak tega membiarkannya kelaparan, aku memintanya pergi lebih dulu. Teman gengku yang lain sudah pasti mengantri mi ayam saat ini. Merutuki diri sendiri, mengapa tanganku begitu lambat mencatat.

Kelas mulai sepi. Kukira semua manusia-manusia disini sudah berlalu pergi mengisi perut mereka. Tepat, ketika aku menoleh. Tangan panjang menjulur dari sisi kanan. Dia menaruh uang lima ribuan di depanku tanpa kata. Aku mendongak. Dia sudah pergi di telan pintu. Apa dia hantu? Enggak. Dia ganteng.

Itu pasti uang untuk membayar ongkos naik bus tadi. Hendak mengejarnya, tapi dia sudah jauh. Aku hanya memandangi uang lima ribuan itu dengan mata melebar.

"Makasih," aku membaca satu kata tertulis disana. Senyumku pun terlukis. Dia bukan cowok biasa. Dia tidak biasa berkata-kata.

Aneh memang. Kesal dengan sikap pendiamnya. Dia kan punya mulut. Selain makan dan minum, apa dia tidak bisa berbicara? tapi kenapa meski kesal, tapi aku juga senang. Itu lebih aneh lagi.

Semoga saja nanti ada kejadian yang memaksanya untuk berbicara banyak untukku.

***

Secret And Admirer (End & Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang