Teka-teki

925 82 5
                                        

Hari ini, Janan nggak masuk. Ban motornya kena paku. Sorry ya, Nan, aku nggak bisa jemput kamu, mau jemput pake apa? aku juga nggak bisa naik motor. Jadi hari ini aku bakalan kesepian.

Hari ini juga Ibuku nitip jahitannya Bu Nilam, jadi tas aku agak terasa berat.

Seperti biasa aku dan Lais sudah tiba di sekolah lebih awal. Sebelum kakiku melangkah.. lebih dulu karena merasa tak enak pada murid murid lain yang notabene nya banyak fans dia. Jadi aku lebih memilih menjaga jarak darinya. Eh tiba-tiba lenganku ada yang menarik. Di depan mading dia menyatakan sesuatu yang ingin kudengar sejak dulu.

"Aku suka sama kamu sejak SMP. Ya mungkin aku baru menyadarinya saat itu. Aku tunggu jawabannya nanti siang. Bye." Lais sudah menyakukan kedua tanganya. Dia sudah menyatu dengan teman-temannya. Sedangkan aku yang kaget, hampir tersandung sepatuku sendiri. Kok aku gugup gini ya? apa diary itu kurang jelas kalau aku juga sudah menyukainya sejak lama.

Oh ternyata aku gugup tadi karena perutku lapar. Lupa sarapan tadi. Sebelum masuk aku putuskan untuk makan dulu di kantin.

"Kenyang."

Jam masih terlalu pagi. Malas jika harus masuk kelas. Lagi pula Janan kan tidak masuk. Akan sangat membosankan tanpa dia. Menunggu bel masuk mungkin itu satu-satunya rencanaku.

Belum sempat kubuka novel cetakan kedua favoritku, ponsel bergetar dalam tas. Ada satu pesan dari Wayan.

Wayan Denok

Na, please! Tolongin aku. Ucha ngunciin aku lagi.

Apa harus sepagi ini?

Takut dia kenapa-napa mengingat dia pernah pingsan disana, aku segera berlari tanpa membayar dulu mie ayam yang sudah aku telan tadi.

Wayan di kunci di gudang. Ucha benar-benar belum tobat. Aku kira setelah ayahnya meninggal dia akan berubah.

Tas yang masih menempel di punggungku bergoyang, mengikuti irama jejakan kaki yang kupercepat. Gudang yang mengurung Wayan sudah ada didepan mata. Pasti disana dia sudah sesenggukan karena takut. Apalagi gudang ini tentu dipenuhi kecoa, tikus, buku-buku bekas, dan kemarin aku tak sengaja melihat Pak Ismun memasukkan beberapa kursi sekaligus bangku reot kesana.

Penuh hati-hati aku membuka pintu.

"Wayan!" kupanggil dia, Namun tak ada sahutan. Apa dia dibekap?

Di muka pintu, hanya keremangan yang menyapa. Bau-bau debu mulai mengisi rongga hidung. Akupun masuk dengan langkah tak pasti. Sambil memanggil-manggil nama Wayan lagi.

Belum sampai tangaku meraih skakel untuk menyalakan lampu, seseorang mendorongku kuat-kuat. Takterelakkan, tubuhku semakin masuk kedalam, menabraki benda-benda di depanku.

"ARRGH!" pekikku.

Pencahayaan yang kurang membuat perutku mencium benda keras yang aku tau itu pasti sebuah meja kayu. Rasanya sakit ketika perutku tepat mengenai ujungnya. Bagai tunanetra aku di dalam sana. Meraba-raba mencari sedikit cahaya.

"Muka doang alim! tapi mulut loe bangkai juga ternyata!" suara itu menggema.

Suara siapa itu!

Kudengar seseorang menutup pintu. Mengapa dia menutup pintunya? Apa dia juga yang mendorongku kasar!

Kaget. Tubuhku menabrak sesuatu hingga benda-benda itu jatuh berdebum.

Dari benda-benda jatuh itu,aku menemukan seberkas cahaya yang mengintip dari ventilasi kecil gudang ini. Aku mencoba menemukan nama pemilik wajah yang mendorongku tadi.

Secret And Admirer (End & Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang