"Aku udah tau kok, Yan. Kalau kamu pelakunya."
Wayan kaget mendengar pengakuan Amna. Padahal baru saja dia mau mengakuinya.
Wayan menunduk. Memandangi sepatu ketsnya.
"Aku menyadarinya ketika aku mengingat pesan darimu. Kamu bilang kamu disekap Ucha, kan?Kamu dikunci disana. Tapi ketika aku datang kamu nggak ada disana. Gudang itu juga tidak terkunci. Dan anehnya justru kata Lais kamu lah yang membopongku. Dari situ aku menyadari kalau kamu berbohong. Justru Ucha dengan terlihat begitu marah dia menuduhku mengatai Ibunya pelacur. Apa kamu yang melakukanya juga? sebenarnya apa yang ada di pikiranmu!"
Amna sedikit mengeraskan suara sambil memegangi perutnya yang masih sakit. Dia benar-benar marah kali ini.
Wayan hanya menunduk. Tak menyangka gadis itu mengelincirkan setetes benda bening dari pelupuk matanya.
"Dia baru saja kehilangan Papanya! dan sekarang kamu bahkan tega--arrgh!" Amna diam sejenak menahan rasa sakit. Kali ini benda bening di pelupuk mata Wayan semakin banyak berjatuhan.
"A-aku memang bodoh, Na. Karena dendam aku melakukannya."
"Lalu apa salahku? hingga kamu berbuat begini sama aku? apa aku juga pernah membully mu seperti yang Ucha lakukan?"
Amna pun ikut meneskan air matanya. Kerudung abunya pun terbasahi. Ia hanya tak habis pikir kenapa Wayan begitu teganya hampir membuatnya terbunuh.
Amna sudah mendengar semua cerita itu dari Lais, karena ketika di ruang BK, Wayan dan Ucha diminta untuk menceritakan kronologi kejadian kasus mereka. Sayangnya cerita mereka memiliki versi yang berbeda.
Lais lebih mempercayai Wayan, karena Lais sendiri tidak tahu kalau Amna mendapat pesan dari Wayan sebelum penusukan itu terjadi. Amna pun hanya mendengarkan dengan seksama cerita Lais, menyaringnya hingga menemukan titik temu masalahnya. Ya. Wayanlah yang berbohong. Ia tidak bercerita dengan jujur.
"Maaf. Maafin gue. Semua ini memang kesalahan gue. Gue emang manusia JAHAT YANG NGGAK PATUT KALIAN KASIHI!" Wayan beranjak dari tempat duduknya. Amna begitu takut dengan wajah garang Wayan. Ini pertama kalinya ia melihat Wayan tampak begitu emosi. Bahkan kursi yang diduduki Wayan sudah terjungkal membentur lantai.
"Tau apa loe tentang hidup gue! bahkan pembalasan itu belum cukup untuk membayar semua kejahatan dia! dan loe mau tau kenapa gue sampai tega pengen loe mati?! karena semua orang cinta sama loe. Orang tua loe sayang sama loe! Maria, Lais, Rani, bahkan loe selalu dapatin semua yang loe mau, semua yang baik-baik ada di diri loe! dan apa loe pikir gue nggak RISIH?! GUE MUAK! Gue ngerasa ini nggak adil buat GUE!" wayan benar-benar murka. Bahkan ia marah sambil menunjuk-nunjuk ke arah Amna yang ketakutan.
Wayan berlari membuka pintu. Ia melihat ada tangga menuju lantai atas. Segera melangkahkan kakinya di sertai air mata yang terus bergulir melewati pipi. Amna sendiri berusaha mengejar gadis itu dengan tertatih-tatih hingga jahitanya robek.
Wayan sudah ada di lantai dua, matanya mencari lagi tangga menuju lantai tiga. Di sisi lain Amna menelpon Lais untuk segera menyusul Wayan di lantai tiga, gadis itu takut jika Wayan melakukan hal buruk.
Amna pun bersandar di bawah lengan tangga. Disana seorang suster menemukanya dan membawanya kembali ke kamar.
"Sus, teman saya kenapa kesakitan gitu?" Maria mengeringkan rambutnya dengan handuk namun terhenti dan syok ketika melihat Piyama Amna tertetesi darah. Suster hanya menjelaskan jika Amna ditemukan dilantai dua dalam kondisi pingsan. Maria pun bingung dengan Wayan yang sudah tidak ada di kamar itu. Dan mengapa Amna pergi ke lantai dua? ia pun menelpon Wayan segera. Namun ponselnya malah berdering tak jauh darinya. Wayan meninggalkan tasnya di atas tikar.
Wayan pun sudah hampir menuju lantai empat dengan tertatih-tatih. Lais sendiri yang sudah baru saja selesai membaca al-qur'an segera bergegas pergi setelah menerima telpon dari Amna, cowok itu menaiki tangga lantai dua dengan cepatnya. Ia pun ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi Amna hanya menyuruhnya untuk mengejar Wayan yang mungkin dikhawatirkan akan bunuh diri.
Wayan sudah hampir menapaki lantai lima. Rumah sakit ini memang besar. Terdiri dari enam lantai.
Wayan pun merasa ada yang mengikutinya dari belakang, dan tepat saat itu ada tangan menahan lenganya untuk naik.
"Mau kemana loe?"
Wayan menoleh. Ia menemukan wajah yang tak asing itu di masa lalunya. Ia pun menepis tangan kekar itu tapi ia tak sekuat itu untuk bisa membuat tangan kekar itu lepas dari tanganya.
"Kenapa? apa urusanya sama loe!"
Wayan pun meronta.
"Loe harus tanggung jawab dengan apa yang loe perbuat!"
"Hah?! memangnya apa yang gue lakuin sampai gue harus tanggung jawab! loe gila!" Wayan masih saja berusaha melepaskan lenganya dari Leon.
"Made? Loe kan yang udah buat dia mati? gue liat semua! loe yang bikin remnya blong! ayo ikut gue ke kantor polisi! loe juga harus ngakuin perbuatan loe yang udah fitnah kerabat gue!" Wayan di tarik menuju lantai bawah.
"Nggak! gue nggak salah!" Wayan pun mendorong Leon, hingga cowok itu jatuh terguling menuruni anak tangga dan membentur lantai.
"Sorry, On. Gue bakal nebus kesalahan gue, kok." Ia pun pergi meninggalkan Leon yang terkapar dengan dari di sudut dahinya.
Wayan sudah hampir menuju lantai enam, di ujung dia membuka sebuah pintu dimana ia menemukan cara agar dirinya cepat meninggalkan dunia ini.
Kakinya sudah menginjak atap rumah sakit. Dengan langkah disertai tangisan kecilnya ia mengingat kembali kejahatan-kejahatan yang dilakukannya. Ia yakin pasti suatu saat kejahatan yang dilakukannya akan terkuak, dan jika dia dipenjara, itu akan membuat orang tuanya malu. Dengan dia mati mungkin ia tak akan membuat malu lagi keluarganya.
"Selamat tinggal dunia." Sejenak gadis itu menghirup udara untuk terakhir kalinya. Ia benar-benar terbang, hingga ada satu tangan berhasil meraih tanganya.
"Lepasin gue! gue nggak pantes hidup di dunia ini! lepasin!!!"
"Enggak! kamu nggak boleh seperti ini. Orang tua kamu bakal sedih kalo kamu seperti ini."
"Mungkin mereka akan sedih untuk sesaat, tapi mereka akan lebih bahagia jika gue mati. Nggak ada yang bisa diharapin dari seorang anak haram seperti gue. Gue nggak pantes hidup di dunia ini. Dan kalian teman-temanku maafkan aku." Batin Wayan menangis. Ia sekuat tenaga menepis tangan Lais hingga tubuhnya terbang ke udara dan berakhir mati dengan darah segar keluar dari kepalanya. Baginya ini adalah ending terbaik untuk semua.
Padahal dibagian lain dari dunia ini masih banyak manusia yang memiliki beban yang lebih berat. Manusia sering menuruti nafsunya tanpa menggunakan akalnya. Manusia sering kali melupakan dimana akal harusnya menjadi tonggak penolak nafsu. Hanya manusia berotak dangkal yang hanya menuruti nafsunya. Hanya manusia berotak udang yang mau mengahiri hidupnya sebelum taqdir sendiri menjemputnya.
Jangan mati jika belum saatnya kamu mati. Dunia dipenuhi berjuta-juta tes, dan sebuah tes tentu akan menyulitkanmu. Jangan jadikan kegagalan sebagai pilihan. Hidup ini menikmati tes sekaligus proses.
(Muniba Mazari)
END
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret And Admirer (End & Revisi)
JugendliteraturMengapa tak kau jemput saja asamu dengan doa. Amna menekuri potret ke dua sahabatnya dengan mata berembun. Sungguh, beban apa yang membuat mereka lebih memilih menentukan kematian mereka sendiri alih-alih meluaskan hati, menunggu keputusan Tuhan. ...
