Ingin rasanya aku tertawa membahana. Bagaimana tidak. Sambil melotot, Rumi yang dia pernah tolak lewat dihadapan kami, sampai kakinya tak seirama dengan teman kanan-kirinya. Dia jadi pengibar bendera hari ini.
Pandangaku menelusuri semua manusia yang ada di depanku, sebelum mengheningkan cipta dimulai.
Ucha ekpresinya sama dengan Rumi. Bedanya, melototnya lebih panjang dan berakhir dengan mengangkat tinju kepadaku. Berbeda dengan Maria yang mengangkat jempolnya. Entah itu artinya apa.
Mengapa mereka begitu rajin, hingga tak ada yang melanggar. Kecuali aku, dan dia yang pura-pura tidak rajin. Dan aku bahagia dengan pengecualian itu.
"Memang kenapa kalau aku sendirian?"
Jangan bilang kalau kamu menyukaiku? Apa aku terlalu PD? Aku cuma bisa berkata tanpa bersuara.
"Ya, kasihan. Tetangga kita bukanya ada yang mati karena tersedak duri ikan?"
Aku sedikit kecewa.
"Ow, Mbak Novi."
Kulihat dia mengangguk.
Mbak Novi adalah seorang janda. Dia hidup sebatangkara di rumahnya. Tapi kan aku tidak sedang makan Ikan!
"Makasih. Sudah mencemaskanku."
"Iya."
Hening tercipta. Rumi masih mengikat tali bendera.
"Tapi aku nggak lagi makan ikan."
Tak ada suara. Aku pun menengoknya.
Pandangannya mengitari pohon mangga yang berada di belakang kami. Tapi tetap saja, PANAS!
"Kata Pak Ismun, pohon itu usianya sudah renta. Bisa saja pohon itu tumbang hari ini."
"Terus?"
Aku melengos. Menahan senyum. Hari ini dia bicara banyak. Apa kita teman? Kayaknya sih, iya.
Kami kembali membisu. Semenit kemudian sang Drigen mulai mengangkat tangan. Lagu Indonesia raya mendengung di telinga kami.
Sejam kemudian upacara telah usai. Hukuman sudah jelas menanti. Bu Nilam menggiring kami ke taman sekolah. Bukan untuk menanam jagung. Tapi untuk mencabuti rumput-rumput penggangu.
Kami pun mengikutinya dari belakang. Sambil mengelus perutnya dengan intonasi super halus beliau berkata,
"Cah bagus .... kenapa to, Le, kok sampai ndak bawa topi?"
Ku lihat hanya senyuman yang tersimpul di wajah gantengnya.
"Dan, Kamu!" Beliau menghadap kepadaku.
"Kupingmu iku, lo. Dideleh nang endi? wes dikandani ojo sampek kelalen. Bocah kok ora nduwe wedi. Sajane Bu Gurumu iki opo?! Patung?!"
Aku translitkan ya..... telingamu itu lo. Ditaruh dimana? Sudah dikasih tahu, jangan sampai lupa. Anak kok enggak punya rasa takut. Kamu pikir, gurumu ini apa?! Patung?!"
"Maaf, Bu. Tadi malam sudah saya taruh di tas. Tapi nggak tau tadi topi saya ngumpet dimana. Lain kali saya tidak akan mengulangi lagi kok, Bu."
"Macam DPR ae. Mung janji-janji tok. Yo wes, iki lang dimarekne." (Kayak DPR aja. Cuma janji-janji saja. Ya sudah. Ini selesaikan).
"Enggeh, Bu."
Beliau mengalihkan pandangan. Kali ini Bu Nilam memasang wajah seramah mungkin.
"Cah bagus ... nanti kalau haus, jangan sungkan-sungkan mampir ke kantin. Nanti kalau pingsan kan, kasian Amna. Ibu tinggal dulu, ya?"
Ku lihat dia tersenyum lagi. Apa cuma aku disini yang merasa menjadi, murid tiri?
Beliau emang gitu sih. Kalau sama dia manis banget .... Maklum ajalah. Dia kan punya anak gadis disini. Mungkin mau di jodohin kali sama anaknya.
***
Maria dengan tersenyum mengacungkan jempolnya lagi padaku ketika melewati taman dimana kami berdua dihukum. Apa sih maksudnya? Rani kulihat tanpa ekpresi, begitu juga dengan Wayan. Tubuh bongsornya hampir menutupi tubuh Maria yang berada di belakangnya. Rani dan Wayan. Entah mengapa, meskipun kita sering bersama, menganggap kita semua satu geng. Tapi kenapa hatiku tidak benar-benar menganggap mereka teman. Aku rasa juga mereka (Rani dan Wayan) tidak begitu perhatian denganku. Meski aku sudah berusaha mendekat. Maria begitu berbeda dengan mereka. Hanya aku yang tahu letak perbedaannya. Yang jelas, Maria lebih mungil dari mereka.
"Aku minta air." Dia memintaku untuk menyiram tangannya yang penuh lumpur. Kami hanya disuruh menyiram bunga. Tapi dia malah menggemburkan tanahnya.
"Iya. Sini tanganmu."
Suara jepetran kamera terdengar jelas di telingaku. Aku terhenyak ketika mendapati Maria ada di depan kelas. Apa dia sedang memotrek kami? Berani-beraninya dia! Pasti cowok di depanku ini bakalan marah!
Tapi kenapa dia semakin mendekat! Dan dia sudah tidak menunduk lagi. Tangan yang dia bersihkan tadi malah terulur ke atas. Memperlihatkan dua jarinya. Dia memasang pose itu ketika Maria mengarahkan ponselnya lagi ke arah kami. Aku tercenung.
Apa dia suka di foto denganku?
"Senyum, dong!" Pintanya tanpa menatapku.
Semoga Bu Nilam tiba-tiba melahirkan. Semoga beliau tidak meninjau kami lagi.
~♡~
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret And Admirer (End & Revisi)
Teen FictionMengapa tak kau jemput saja asamu dengan doa. Amna menekuri potret ke dua sahabatnya dengan mata berembun. Sungguh, beban apa yang membuat mereka lebih memilih menentukan kematian mereka sendiri alih-alih meluaskan hati, menunggu keputusan Tuhan. ...
