~PAGI~

1.1K 106 14
                                        

Daun-daun berjatuhan diterpa angin nakal. Buah mangga yang sedari tadi dikayuhnya tak kunjung jatuh. Sesekali ia membetulkan letak kerudungnya. Sesekali pula ia meniup-niup ujung pet kerudungnya. Entah supaya apa.

Tiga buah masak itu sulit sekali ia raih, karena dahannya pun tinggi menjulang.

"Iya. Hampir kena!" Amna melintir buah masak itu dengan Gantar (sebuah bambu muda panjang yang biasa digunakan untuk mengambil mangga).

Sebuah suara mengagetkannya.

"Amna!"

Kakinya ngilu lagi, ketika mendapati seorang yang disukainya sejak SMP itu datang ke rumahnya. Sejak kapan cowok itu berdiri disana?

"I--iya. Ada apa, ya?" Amna masih mempertahankan gantar itu sambil tetap merespon si Tamu. Amna sendiri heran, Janan, Rani dan Wayan pun sama. Mengapa jika dengan Amna, cowok itu mau melontarkan banyak kata.

Tiga buah itu jatuh mengenai kepala Amna.

"Aduh!"

Cowok itu malah tersenyum. Rasa sakit Amna pun sembuh hanya karena melihat senyuman itu. Amna menjatuhkan gantarnya.

"Kamu nggak papa?"

"Iya, aku kan Amna. Bukan Papa."

"Hehehehe. Maksudku. Kamu baik-baik aja, kan?"

"Iya. Baik banget malah." Amna masih saja khilaf memperpanjang pandangannya pada cowok yang ada didepannya itu.

Mereka terdiam untuk semenit kemudian.

"Em ... kamu ada apa kok tumben kesini?"

Cowok itu terdiam. Lalu mengucap satu kata.

"Buku."

Ada sesuatu yang diambilnya dari sebuah plastik hitam. Amna mengamatinya dengan seksama. Barang yang dikeluarkan cowok itu hampir membuatnya ingin pingsan.

"Ini aku kembaliin. Aku udah selesai baca." Lantas cowok itu tersenyum setelah membuat Amna hampir tidak sadarkan diri. Tangan cowok itu masih memegang Diary yang selama ini Amna cari. 

"Em ... udah selesai ya?" Tanpa sadar, dunia terasa gelap baginnya. Ada kunang-kunang menari diatas kepalannya.

Amna terjatuh. Tapi tidak pingsan. Kalau pingsan itu terlalu berlebihan. Ia hanya kaget.

Cowok itu duduk bersila dihadapannya.

"Jadi kamu udah tau semuanya?"

"Iya."

Segera tangisan kencang memekakkan telinga cowok itu.

Amna menundukkan kepalannya yang pening. Ia sungguh sangat malu. Bagaimana tidak! Bisa kamu pikirkan sendiri kan? Bagaimana perasaanmu jika buku tentang isi hatimu dibaca oleh orang yang kamu ceritakan dibuku itu? Ia ingin marah tapi tak bisa! Lais terlalu tampan untuk dimarahi. Hanya titik-titik kecil yang banyak merembes dari sudut matanya.

"Maaf. Aku nggak sengaja baca. Habisnya seru!"

Amna mendongakkan wajahnya. Apa dia bilang tadi? Seru?!

"Iya. Ini seru banget." Amna masih memasang wajah cengonya.

"Kamu!"

Lagi-lagi Lais tersenyum.

"Itu salah kamu sendiri. Kamu teledor sih! Aku nemuin ini di bus."

Amna masih mengedipkan matanya beberapa kali. Supaya dapat mencerna apa yang didengarnya.

"Iya. Aku emang ceroboh banget." Kini Amna kembali menangis. Merayakan kedukaanya tadi.

"Kamu kenapa nangis? Aku cuma membacanya. Aku tidak meminjamkanya pada orang lain. Kenapa kamu nangis?"

Amna mendongak lagi.

"Apa kamu pikir buku ini bisa dengan sesuka hati kamu baca? Kamu lancang!" Amna pergi sembari merebut Buku diary itu dengan paksa.

Lais lagi-lagi tersenyum melihat Amna yang sudah memasuki pintu rumahnya. Tapi beberapa detik kemudian gadis itu kembali kehadapan Lais untuk mengambil mangga yang tertinggal.

"Kalau mau mangga, silahkan ambil sendiri! Awas ya! Sampai kamu bilang ke anak-anak tentang isi buku Diary ku ... aku bakalan--- menghantui kamu sampai mati!"

"Hah? Emang kamu abis ini mau mati?"

Sambil berkacak pinggang Amna menyahuti.

"Tentu saja kalau kamu sampai ember. Ucha pasti udah siapin belati buat nyincang aku!" Amna pun pergi tanpa memperdulikan cowok itu lagi. Besok sepertinya ia harus pakai cadar. Ia sangat malu sekaleh!

Cowok itu hanya menggelengkan kepalanya sambil menarik sudut bibirnya.

                ***

"Na! Sini. Tolong masukin benangnya lagi." Ibunya memanggil dengan menaikkan volume beberapa oktaf.

"Amna di belakang, Bu. Nggak perlu kenceng-kenceng gitu."

Ibu Amna kaget ketika mendapati anaknya sudah berada dibelakangnya.

"Perasaan tadi kamu kan di depan?"

"Makanya jangan sering pakek perasaan deh, Bu."

Amna maju untuk memasukkan  benag ke dalam jarum. Mesin jahit ibunya yang sudah menua itu menguji kesabaranya. Sudah beberapa kali Amna memasukkan benang tapi Ibunya memanggilnya lagi.

"Perasaan tadi kan, Amna udah masukin benangnya. Masak udah main putus aja sih, Buk." Amna kesal karena ia merasa sudah hampir lima kali ia di suruh ibunya melakukan pekerjaan yang sama. Dan kali ini ia masih fokus memasukkan benang dalam jarum.

"Makanya jangan pakek perasaan, Na." Ibunya balik membalas ucapan anaknya tadi.

Amna kicep seketika. Dan ia bersyukur, penderitaanya berakhir. Ia berhasil mematahkan jarum jahit itu dalam hitungan detik. Ia terlalu semangat memasukkan benang sampai tak sadar membuat jarum satu-satunya milik Ibunya patah. Lima menit sudah ia dimarahi habis-habisan hanya karena sebuah jarum yang patah.

"Tega kamu, Na. Ini satu-satunya jarum ukurang 12 yang Ibu miliki. Kenapa kamu patahkan?!"

"Amna nggak sengaja Buk. Beneran. Demi Allah yang maha baik."

Ibunya berdecak kesal. Nafasnya dibuang kasar.

"Kalau gitu kamu ke Tante Fatimah. Beli satu wadah jarum jahit ukuran 12!"

Oh tidak. Amna langsung diam seketika. Meskipun dari tadi ia memang sedang diam. Tapi diam Amna tampak berfikir.

"Tante Fatimah yang istrinya Pak Rt?"

"Iya. Tante Fatimah mana lagi emangnya."

"Yang punya anak namanya Lais kan?"

Ibunya hanya meliriknya tajam. Segera Amna berlari sebelum sandal hello kitty melayang mengejar Amna. Tak lupa Amna mengambil uang di saku Ibunya sebelum ia pergi.








Secret And Admirer (End & Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang