Memory with Me

1K 93 7
                                        

Dulu, lebih tepatnya ketika kami berdua masih duduk dibangku SMP, sewaktu kami hendak memasuki tahun ajaran baru kelas dua, di ruang putih itu Dokter mengatakan yang mana tentu tanpa sepengetahuan Amna. Jika luka seringan apapun mengenai tepat tempurung kepala, bisa menyebabkan kerusakan otak, bahkan pendarahan. Ya, meskipun pada akhirnya hanya selama tiga hari dia dirawat disana dan Dokter pun mengijinkanya pulang.

Tapi aku masih ragu akan kesembuhanya, meragukan kerja seorang dokter yang sepengetahuanku menilai keseriusan sebuah cedera kepala hanya dari gejala-gejala eksternal - misalnya, bagaimana perilaku pasien, apakah mata mereka terbuka saat dipanggil, apakah pasien mampu mengontrol gerakan mereka, apakah mereka bereaksi ketika dirangsang rasa sakit, dan berapa lama mereka tidak sadarkan diri.

Melihat bukti bahwa menurutku Amna itu sebenarnya belum benar-benar sembuh total. Mengapa aku berbicara demikian? Dari diary nya saja, dia hanya membahas tentangku seinstan itu setelah insiden Tara melemparnya dengan sebotol kaca softdrink.

Mengapa Amna seolah melupakan memori kita dahulu, bahkan dia lupa sejak di Madrasah Islamiyah, kita biasa sama-sama berangkat mengaji di Mushola Mbah Sarbini, berangkat sekolah hampir tiap hari yang mana aku menjemputnya dengan sepedah.

Kami pun dulu sering belajar kelompok bareng, main dakon, main Suri gendem, main Tamiya, main gasing, petak umpet bersama yang lainya juga, bahkan mencari buah sawo di pohon dekat makam dan hampir dipatok ular Weling, dan tentu masih banyak lagi kenangan manis kita.

Kenapa di buku diary nya hanya ada aku yang "seolah pendiam" pelit senyum?

Aku memang sengaja berubah seolah aku ini bukan sahabatnya, aku hanya berpura-pura aku ini hanya tetangga yang.... tidak begitu perduli padanya. Dokter yang memeriksanya dulu bilang bahwa kami (Orangtua Amna, dan aku ataupun yang mengenal Amna) tidak dianjurkan untuk memaksakan ingatanya. Itu akan membuatnya sakit. Jadi aku... memilih diam, dan hanya memperhatikannya dari jauh, hingga jauh sampai SMA. Sampai sekarang.

Bahkan mungkin dia pernah cedera karena Tara, mungkinkah dia mengingatnya? entahlah.... yang aku ingat, setelah insiden itu, Tara kena hukuman, Kepala sekolah tidak bisa membiarkanya masuk selama sepekan. Dan dia diminta untuk segera meminta maaf pada keluarga Amna. Entah dilakukannya atau tidak, karena setahuku Tara tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di sekolah kami dulu.

Ya, dia sepertinya pindah.
Setelah itu ada rumor yang mengatakan jika Amna dilukai karena Tara menyukaiku? benarkah itu.... benarkah karena rasa cemburu, Tara berani mengotori tangannya? hanya karena mahluk sepertiku? itu konyol dan menyakitkan! kalau memang benar? TEGA SEKALI DIA?!!

"Lais!"
Mataku melirik ke kanan, Amna sepertinya memanggilku. Aku jadi lupa jika korban dari kejahatan Tara ada di sampingku. Kami memang naik bis bersama.
"ya?"
Kerudung putihnya dia gigit ujungnya. Apa dia gugup duduk sebangku denganku? aku bukannya GR, tapi di dalam diarynya sendiri, dia menganggapku seperti artis. Padahal dulu dia sering mengataiku "Pantat Ayam" hahaha. Aku sangat bahagia, dia ketauan menyukaiku sudah setahun yang lalu, meski aku sendiri sudah menyukainya sejak kelas satu SMP.

"Apa karena kamu baca diary aku ya? makannya kamu jadi baik gini sama aku?" dia bertanya sesuatu yang konyol. Apa aku selama ini jahat padanya?
"Tentu saja tidak. Apa aku selama ini jahat sama kamu?" kini gantian aku yang melirik manik matanya. Aku tau dia begitu gugup. Akupun juga, tanganku sudah sejak tadi mengisi kantong celanaku dalam-dalam. Tanganku bahkan berkeringat.
"Ya, enggak, sih. Cuma aku heran aja dengan sikap kamu ke aku akhir-akhir ini. Ini bikin aku merasa kamu.... em.... ah nggak jadi."

"Anggap saja, aku membalas perasaanmu."

Bulir-bulir keringat meluncur dari dahiku. Semoga itu hanya tetesan air Ac. Tapi aku tidak yakin, bis ini ber ac atau tidak, karena yang kurasakan dari tadi dekat dengannya hanya panas. Wajahku terasa panas. Malu bercampur senang. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama, setelah mendengar penuturanku tadi, semakin kencang saja dia menggigit ujung kerudungnya itu. Mungkin itu hobi barunya.

Secret And Admirer (End & Revisi) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang