Bu Mar, sapaan yang biasa beliau terima, sudah menempati kursinya sejak lima menit yang lalu. Tanpa diminta demi menjaga jam dinding agar tetap ditempatnya karena Bu Mar sering berteriak tidak jelas ketika para muridnya tidak peka, semua murid sudah maju kedepan satu persatu untuk mengumpulkan tugas merangkum lirik lagu.
Kulihat Maria tampak lesu. Ku tanya dia mengapa. Dari beberapa kalimat yang ia utarakan aku jadi tahu jika dia belum mengerjakan. Dia bilang tadi malam berniat mengerjakan, tapi tiba-tiba bumi sudah pagi saja. Dia ketiduran ketika menulis satu lirik sebuah lagu.
Dengan dada yang bergetar aku pun seketika merasakan apa yang Maria rasakan.
Tas kembali aku bongkar. Aku memang hobi membongkar tas jika sesuatu yang aku cari tidak aku temukan. Tidak! Tidak! Tidak! Dimana buku tugas negaraku? Kenapa tak ada disana? Siapa lagi yang mencurinya?
Aku bukannya sedang negatif thinking! Topiku kemarin juga hilang! Di rumah pun tak aku temukan! Satu kamar sudah aku periksa! Termasuk kamar Ibu dan selokan... barang kali jatuh disana ketika sang topi di jemur. Tapi semua usahaku sia-sia. Topi itu menghilang tanpa merasa peka jika aku mencarinya.
Aku melirik dia yang namanya sebentar lagi disebut. Dia, dengan semangatnya maju ke depan menyerahkan tugas. Memekarkan senyum Bu Mar. Ah, kalo ganteng gitu ya! Pasti rasa spesial.
Kami berdua maju ke depan. Menegosiasi, barangkali Bu Mar mau memberi keringanan untuk kami agar boleh mengumpulkan kapan-kapan.
"Kalau saya ngasih kalian keringanan... apa kata mereka? Enak di kalian dong?"
"Tapi, Bu. Beneran! Saya sudah mengerjakan tapi saya periksa di tas nggak ada." Aku membela diri.
Bu Mar tampak santai, lalu beralih pada Maria.
"Dan apa alasan kamu?"
Maria menggaruk telinganya. Mungkin dakinya belum dibersihkan. Nanti aku sarankan untuk membersihkannya di hari Jum'at.
"Em ... saya sudah mengerjakan Bu. Beneran!"
"Lah terus kenapa kamu minta keringanan? Kalo sudah dikerjakan ya kamu kumpulkan!"
"Masalahnya satu, Bu. Liriknya kurang satu."
Bu Mar melipat kedua tangannya di dada.
"Its okey nggak apa-apa, kurang satu aja nggak masalah."
Aku jadi bingung.
"Beneran, Bu?"
"Iya."
"Meskipun saya kurang satu album?"
Tetew ....
Bu Mar murka! Jam dinding pun bergetar, karena kami hanya diam... dan membisu ... Beliau menyuruh Maria berdiri di depan kelas bersama seseorang, dan itu adalah aku.
"Anak-anak ... ini ada temen kalian yang mau nyumbang lagu buat kita."
Bu Mar menoleh padaku.
"Kamu mau ambil giliran pertama atau yang kedua?"
Aku meringis. Tentu saja biar Maria yang duluan. Dia kan teman yang rela berkorban. Ku lihat Maria mempelototiku.
"Maria kamu siap?"
Dari pada Maria kembali kena murka. Jadi dia mengangguk saja. Sepertinya begitu. Hatinya dan hatiku seirama.
Kelas pun hening mendengarkan.
Entah apa yang akan dinyanyikannya. Yang pasti setauku, Maria hanya sibuk menghibur adik-adiknya yang suka menangis keras. Ku ingat dia pernah menyanyikan lagu ...
Sebentar ....
Maria jalan di tempat sambil pinggulnya bergoyang.
"Di kepak-kepak sayapnya
Di geleng geleng kepalanya,
Agar tubuh sehat dan kuat
Untuk dapat memuji Tuhan."
"Goyang kiri plok plok plok."
Ku lihat semua manusia di depan ternganga. Ada yang mengedipkan mata beberapa kali. Maria masih dengan semangatnya bernyanyi. Bu Mar juga ku lihat sedang memegang dahi.
"Goyang kanan plok plok plok!
putar kekiri putar ke kanan
goyang kiri goyang kanan
putar kekiri putar ke kanan," Maria memberi tepuk tangan untuk dirinya.Lagu yang hebat!
"Saya boleh duduk kan, Bu?"
Bu Mar tampak berpikir keras.
"Iya. Iya. Duduk sana. Kamu malah bikin kepala saya pusing."
"Makasih, Bu." Maria tersenyum puas.
"Jangan lupa, besok lusa tugas kamu kumpulkan. Dan ingat. Poin kamu tentu saya akan kurangi."
"Iya, Bu. Yang penting saya di kasih nilai."
Ia kembali duduk dengan bangganya.
"Dan kamu ... karena kamu memilih giliran kedua. Kamu harus punya pasangan duet! Harus cowok."
Ku lihat Bu Mar berjalan ke sudut kelas.
Dengan suara beliau yang menggelegar,
"Anak-anak ... siapa yang bersedia jadi volunteer buat Amna?"
Sudah ku pastikan tak akan ada yang menjawab!
"Amna, kamu tunjuk saja, mereka diam berarti mereka tidak berkata tidak mau. Kamu pilih saja!"
Mata Ucha memutar jengah. Aku tau dia tak suka.
Tangan seorang cowok menjulur ke langit. Dan aku berharap dia mau. Tapi ternyata dia hanya pamit ke toilet.
Tidak ada yang mau duet denganku. Aku harus bagaimana?
"Amna ... tunjuk satu aja kenapa susah banget sih!" Bu Mar mulai membuatku gugup.
Ya sudah. Aku tunjuk aja si Sam. Samsul nama panjangnya. Tapi kenapa malah dia, dia yang aku sembunyikan namanya yang malah maju. Secepat suaraku memanggil nama Samsul.
Apa dia mau ke toilet juga?
Sebentar...
Atau mereka berdua jangan-jangan bertukar nama?
~♡~
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret And Admirer (End & Revisi)
Novela JuvenilMengapa tak kau jemput saja asamu dengan doa. Amna menekuri potret ke dua sahabatnya dengan mata berembun. Sungguh, beban apa yang membuat mereka lebih memilih menentukan kematian mereka sendiri alih-alih meluaskan hati, menunggu keputusan Tuhan. ...
