~Tak Ada Yang Abadi~

1K 88 4
                                        

Rany

Minggu/14/11/18

Ibu....  Maafin Rani ya? Rani tau, Rani sangat salah. Rani harusnya nggak harus ngelakuin tindakan memalukan seperti ini. Tapi Rani harus melakukannya. Rani nggak mau lagi mendengar penghinaan mereka. Maafkan Rani yang tiba-tiba harus meninggalkan Ibu. Bagi Rani, Rani itu enggak lebih dari sekedar beban untuk Ibu. Maafin Rani yang belum bisa buat ibu bahagia. Rani hanya memikirkan yang terbaik untuk keluarga kita.

Rany

Minggu/14/11/18

Amna. Mungkin setelah kamu baca pesan dari gue, gue pastiin gue udah nggak ada di dunia lagi. Tolong sampaikan pesan diatas ke Ibu gue ya? Gue juga minta maaf sama loe dan juga Janan, maafin gue yang belum bisa jadi sahabat yang baik buat kalian. Sebenarnya gue pengen banget curhat masalah hidup gue ke kalian, tapi gue malu Na. Gue malu banget. Gue nggak pantes di sebut sebagai manusia. Gue nggak lebih dari binatang. Bahkan gue lebih hina dari binatang, gue udah tega bunuh bayi gue sendiri Na. Gue pantes di sebut biadap, pecundang. Gue udah nggak kuat lagi Na, kalau gue dan keluarga gue yang dari sejak dulu selalu dihina, lebih dihina lagi karena sikap gue, apalagi jika mereka tau kalau gue pernah hamil dan gue gugurin kandungan gue. Selamat tinggal Amna. Gue sayang sama kalian.

Hampir sepuluh kali aku membaca pesan dari Rani. Pesan itu sepertinya dikirimkannya setelah tepat aku berkumpul dengan teman-teman yang mengantri untuk wudhlu. Baru saja aku selesai mengantri dan hendak mengambil sendalku yang tertinggal di tas di tempat dimana aku Rani dan Wayan berkumpul tadi. Sayangnya waktu itu aku terlalu sibuk mencari sendalku. Baru ketika aku melihat di tengah danau yang sangat jauh dariku, Rani sudah mengambang di sana. Air mataku pun tak henti-hentinya mengalir, rasanya dadaku begitu sesak membaca pesan ini. Aku menyadari ada yang salah dengan diriku. Aku gagal menjadi seorang teman. Aku teman yang nggak ada gunannya!

Ya Allah, teman macam apa aku ini? aku sama sekali tidak pernah mencoba membuatnya bercerita tentang masalah hidupnya. Aku bahkan tidak mau tau tentang kehidupannya. Padahal dia begitu merana dengan segala kesedihannya. Padahal dia butuh teman untuk berkeluh kesah! Padahal dia sedang putus asa dengan segala masalahnya.

Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Bu Jamilah, Ibu Rani, setelah menyandang status janda, dia sekarang harus kehilangan anak sulungnya dengan keadaan seperti ini? Ran! kenapa kamu tega ninggalin kita semua! kenapa!

Akupun nggak sanggup buat nyalahin tindakanmu, Ran! karena aku sendiri tidak pernah tahu bagaimana di posisimu. Aku tidak pernah tahu apa yang kamu alami. Aku tidak menyangka jika kamu secepat ini meninggalkan kami sebelum kami sempat menyiapkan hati, terlebih keluargamu.

Aku menangis tergugu dan meringkuk di bawah jendela kamarku. Sejak kemarin, Ayah dan Ibu mengurungku. Karena mereka takut terjadi sesuatu buruk lagi denganku.

Mereka juga sangat marah ketika mereka tahu kemarin aku dengan percaya dirinya menceburkan diri hendak menolong Rani yang sudah terlihat tubuhnya mengapung.

Masih untung, dengan kuasa Allah, seseorang datang menyelamatkanku. Dan aku bangun, aku sudah berada di rumah sakit. Ketika aku sadar, aku tidak di beri kesempatan oleh Ayah untuk melihat Rani. Aku sendiri tidak menyangka jika Rani pagi tadi benar-benar meninggalkan kami. Aku benar-benar ingin kesana sekarang. Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir. Aku ingin meminta maaf sama dia.

Tiba-tiba saja aku kaget setengah mati, ketika ada gadis berambut merah sudah ada di bawah jendela kamarku. Kamarku memiliki jendela yang terhubung dengan tempat menjemur pakaian. Agak tinggi memang, aku harus melompat jika harus menemui gadis berambut merah itu. Dia juga.... sudah bersama Lais juga. Nggak nyangka ada cowok itu juga disana. Aku sedikit tersentil mengingat ketika kejadian itu, dengan samar dengan keterbatasan kesadaranku dia sepertinya melakukan tindakan CPR untukku. Ah, sudahlah. Untuk apa di saat seperti ini aku harus memikirkan hal semacam itu.

"Buruan, cepetan turun tahi tikus! nggak usah pakek lama!"

"Iya, tai cicak!" sahutku.

Astagfirullah  tuh anak mulutnya minta di stabilo kali ya? Untung aku sabar banget orangnya. Dengan cepat aku mengambil pasmina instan di antara tumpukan pakain yang aku belum sempat melipatnya dan sengaja aku menaruhnya dengan asal di dalam almari. Tanpa mencuci muka aku sudah memakainya dengan cepat. Tak apa, tak ada undang-undang yang menyatakan kalau kita melayat tidak boleh memakai baju tidur, kan? Yang aku inginkan hanya satu, aku ingin bertemu Rani untuk yang terakhir kalinya.

Aku pun turun dan segera mendaratkan pantatku ke motor Janan. Kami bertiga segera meluncur ke rumah Rani dengan rintik-rintik hujan yang masih setia mememani bumi.

Setelah beberapa puluh menit, kami sampai di rumah Rani, di sambut dengan bendera warna kuning dan tangisan seorang wanita yang aku tahu itu Bude Jamilah. Sesak....  rasannya menyaksikan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Kami bertiga segera masuk ke ruang tamu di mana jasad Rani masih terbaring beralaskan tikar dan di kelilingi para pelayat. Aku menyeruak masuk dan memeluk Bude Jamilah. Adiknya pun tak henti-hentinya mengguncang tubuh Rani. Dia sudah di kafani.

Tak lama setelah itu, semua mata tertuju pada cowok yang tengah berdiri diambang pintu dengan wajah sendu setelah Bude Jamilah berteriak padannya. Ya. Dia Yanuar. Pacar Rani. Bude Jamilah berlari mencekiknya. Semua manusia di ruang tamu ini berusaha untuk melerai mereka. Memisahkan tangan yang tak lagi muda itu dari leher Yanuar.

"Biadap kamu! kamu tega mengambil nyawa anak saya!"

Secret And Admirer (End & Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang