~Why

1.1K 84 5
                                        

Untuk sampai di danau Kami harus trekking kurang lebih 1 km atau sekitar 25 menit untuk naik ke puncak bukit. Danau yang bernama Kastoba ini berada diketinggian 400 meter diatas permukaan air laut.

Kami pun harus menaiki ratusan anak tangga yang harus kami lalui dengan banyak semak belukar di kanan kiri jalan.

Memang sedikit melelahkan, tapi semua itu terbayar ketika pemandangan yang sungguh menawan ini menanti kami. Hawa yang sejukpun segera menyapa.

Yang tak aku duga, tempat ini juga terdapat pohon raksasa yang umurnya sudah ratusan tahun. Pohon itu tumbuh menjulang sangat tinggi dan kokoh tak tertandingi seperti semen gersik. Hahaha, aku bercanda.

Ibu dan Ayah, menyuruhku untuk sangat berhati-hati dan sedikit keberatan  jika aku ikut acara hiking ini. Rutinitas kelas sebelas dulu juga seperti ini sebelum memasuki  tahun ajaran baru, guru kami pasti akan mengajak murid-muridnya untuk berwisata sejenak. Tujuannya hanyalah untuk menyegarkan pikiran setelah kami menghadapi PAS (Penilaian Akhir Sekolah) dua minggu yang lalu.

Tidak hanya menawarkan keindahan, dibalik pemandangannya yang sungguh menawan ini, kata orang-orang dahulu tempat ini juga menyimpan banyak cerita misteri yang sangat menarik terkait dengan asal-usulnya. Tapi benar tidaknya aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku sungguh merasa senang bisa berada disini, apalagi sejak dari berangkat tadi, Lais selalu berada disampingku. Baju pramukanya melekat pas di tubuhnya, ah...  manisnya. Aku sangat suka jika dia memakai seragam yang satu ini.

"Aku ngumpul sama anak-anak dulu ya?" Ujarnya sambil mengulum senyum.

Untuk apa dia berjalan seperti itu? menatapku sambil berjalan kebelakang. Sambil melambaikan tanganya. Untung tidak ada yang melihat kami.

Ucha tidak datang di acara ini, Ayahnya sakit. Dia ijin tidak bisa datang. Tapi jika dia tahu kami sedekat ini, aku yakin jarum pentulku pasti akan hilang lagi. Dia kan paling demen menjambak kerudungku.

Ah, Lais.... Kenapa dia begitu manis,sih.... Kan aku jadi salting gini. Aku sungguh tidak bisa menyembunyikan gemuruh bahagia ini! aku sangat-sangat-sangat bahagia!!!! Seperti bahagianya anak kecil yang mendapat ice cream beberapa peti.

Pak Bambang dan Bu Nilam pun meminta kami untuk tidak jauh dari pengawasan mereka. Menurutku itu kurang asyik. Mereka juga melarang kami untuk tidak berenang di danau ini yang tak lain untuk menjaga keamanan. Kami pun mulai memasang Tenda. Kami berangkat habis shubuh tadi dan sore hari nanti kami akan pulang.

Kami pun duduk melingkar. Di tepian danau ini, kami menikmati bekal yang sudah di bawa dari rumah. Ini pertama kalinya aku menikmati makanan di alam bebas seperti ini. Berkali-kali aku mengucap kalimat tasbih. Maha besar Allah yang telah menciptakan keindahan alam yang tak terkira di depan mataku ini. Begitu hijau, sejuk. Menyehatkan mata siapa saja yang memandangnya.

Maria yang merasa ada sesuatu di pantatnya pun berdiri, ia membersihkan roknya.

Aku tau pasti Samsul akan menggodanya. Anak kepala sekolah itu memang suka sekali mengekorinya.

"Mau dibantuin?"

"Apa?!" sahutnya sarkas.

"Itu, rok mu masih kotor. Biar aku yang bersihin,ya?" Samsul yang tanganya masih penuh sambal pun terkekeh.

Maria segera mendaratkan lirikan tajam padanya dan tak lupa menarik satu helai rambut keritingnya. Hahaha, mereka memang lucu.
Samsul memang sudah berkali-kali menyatakan perasaannya pada sahabatku yang satu itu. Tapi Maria tak menggubrisnya. Katanya "nggak enak tau! menjalin hubungan sama temen sekelas, entar kalo putus nggak nyaman" itu katanya.

Wah, berarti dia sebenarnya suka dong sama si Samsul. Beberapa detik pun mereka sudah lenyap. Samsul mengekorinya Maria ketika hendak mencuci tangan. Dan aku... kembali memperhatikan ciptaan Tuhan yang indah ini.

Ngomong-ngomong, setelah selesai makan. Kami di bebaskan untuk menjelajahi area danau ini. Tapi  tidak boleh sampai terlalu jauh. Dan berjalan sendirian.

Aku  Wayan, dan Rani hanya duduk-duduk di tepian danau beralaskan tikar kecil dengan cemilan makanan ringan dan juga permen terhidang di tengah-tengah kami.

"Yan. Loe pasti sering ke Sanur Beach, ya?"
Kaki Wayan diselonjorkanya, sedangkan tangan kananya tak berhenti menyuapinya makanan.

"Nggak pernah." Dia berhenti mengunyah.
Aku pun ikut mengambil satu permen mint dan membuka kemasanya. Lalu memasukkanya ke mulut.

"Wah.  Sayang sekali.  Gue padahal pengen banget loe ceritain tentang keindahan pantai disana."

Kudengar dia membuang nafas. Mengecap sela-sela tanganya.

"Ayah nggak pernah ngajakin gue kesana.  Dia lebih suka anaknya kesepian."

"Loe kan bisa pergi sendiri sama temen-temen loe Yan. Disana masak loe nggak punya teman."

Tidak kusangka, Wayan menyuguhiku dengan tatapan yang membuatku bergidik.  Aku memang tidak tahu banyak tentang Wayan. Setahuku dia hanya suka meminta tolong padaku jika ada yang menggangunya. Termasuk jika Una, salah satu teman gengnya Ucha menggangunya. Selain itu dia tak pernah cerita apapun, ya mungkin hanya alasan mengapa dia pindah dari Bali.

"Gue emang nggak punya teman di sana!" Dia menjawabnya sambil memberiku tatapan, sangar. Wah, baru aku tau kalau dia bisa punya tatapan seperti itu.

Aku sebenarnya ingin bertanya lebih jauh lagi.  Tapi aku takut jika aku salah bicara lagi. Jadi aku terpaksa menelan rasa penasaranku itu.

Akupun beralih pada Rani. Kenapa, Rani diam saja ya? sejak berangkat tadi hingga sekarang. Dia hanya menyibukkan diri dengan pikiranya sendiri. Dia terlihat melamun. Dan aku segan untuk membangunkannya dari lamunannya itu.

Perasaan canggung ini akan ada jika Janan tak ada diantara kami.  Aku selalu merasakannya. Tapi Janan sepertinya tidak sama merasakannya sama halnya sepertiku. Atau jangan-jangan ini perasaanku saja yang terlalu peka? ah sudahlah.

Aku terhenyak ketika telapak tanganya menyentuhku. Tanganya dingin. Apa dia sedang kedinginan?

Aku jadi...  menghawatirkannya.

"Na. Neraka itu seperti apa, ya?" dia bertanya tanpa melihatku. Hanya tanganya saja yang ada diatas jemariku.

"Hehehe. Kenapa loe tanya itu ke gue?" akupun melirik Wayan yang ada di sebelah kananku. Ya, kegiatannya hanya satu, makan. Tanpa melihat objek indah di depannya.

"Kan loe pinter soal agama.  Masak nggak tau, sih!" Rani menatapku dengan tatapannya yang terlihat pucat itu. Tatapan itu tak berekpresi.

"Ya, kan gue masih hidup. Ya mana gue tau! loe kenapa, sih?"

Rani bukannya menjawab, dia malah kembali menatap danau lurus-lurus.

"Oh, iya. Kita perlu mati dulu ya? baru bisa lihat Neraka."

Ya Allah, ada apa dengannya? kenapa buluku jadi berdiri begini, aku diapit dua manusia yang menurutku aneh hari ini. Rani yang pucat dan Wayan yang tiba-tiba seram.

Mungkin karena hari sudah siang. Banyak diantara kami yang di minta untuk segera shalat berjamaah bersama pak Bambang dan Bu Nilam, dan yang berhalangan di suruh menjaga barang. Aku pun bergegas meninggalkan Wayan yang tertidur dengan boneka Doraemonya dan juga Rani yang bilang kalau dia sedang berhalangan. Tapi sepuluh menit setelah kemudian aku kembali dari antrian wudhlu, aku kembali karena sendalku masih berada di dalam tas. Tanganku pun sibuk membuka resleting tas, tanpa menyadari jika Rani sudah tak ada di bawah pohon ini.

Tapi mataku menangkap sebuah tubuh di tengah sana. Aku sungguh tak menyangka apa yang tersaji di depan mataku. Rani. Dia.... sudah mengambang di tengah danau.


Secret And Admirer (End & Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang