Pagi itu cuaca seperti tengah berduka. Awan yang mulai menitikkan air mata di balik gumpalan hitamnya. Dingin mulai menerpa dan meniup kulit-kulit kami. Hujan kali ini meraung-raung di iringi suara tangisan. Di ruangan penuh cat putih ini mereka semua menangisi mayat gadis yang umurnya saja belum genap tujuh belas tahun.
Walaupun aku ini seorang laki-laki, tetap saja hatiku pun ikut berdesir merasakan duka mendengar tangis seorang wanita mengguncang tubuh gadis yang tak lagi tersenyum, muram dan yang tak lagi mampu menghirup udara. Kami di dera duka pagi ini.
"Ikhlaskan Buk, yang tabah....," Bu Nilam mengelus pundak wanita paruh baya itu. Seorang gadis kecil di samping wanita paruh baya itupun juga tak luput ikut meramaikan ruangan putih ini dengan tangisannya.
Aku sendiri juga tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu. Entah dia tercebur atau sengaja menenggelamkan diri di tengah danau. Kalau saja dia tak segera ditolong oleh Pak Bambang yang segera mencarinya di dasar danau tepat di saat Amna berteriak meminta tolong, mungkin bisa saja mayatnya baru bisa di temukan beberapa hari, mengingat begitu luasnya danau itu. Mungkin memang sudah kehendak sang Kuasa. Ini memang sudah keputusan Allah mempertemukan Rani dengan Ajalnya pagi ini.
Bu Nilam bilang pada kami, paru-paru Rani terlalu banyak kemasukan lumpur. Jadi sudah sangat sulit untuk menyelamatkannya.
Amna, si Bodoh itu. Bikin aku jantungan saja. Bisa-bisanya dia yang nyebur empang saja tenggelam, sok sok an nyebur ke danau itu untuk menolong Rani. Kami semua siang kemarin memang di sibukkan bergantian berwudlu di toilet, kami hendak shalat Dhuhur. Jadi sebagian besar dari kami tidak tahu kalau ada dua manusia yang tenggelam di tengah danau itu.
Amna, suara yang ku hafal itu ketika dia berteriak meminta tolong, aku segera berlari menuju arah datangnya suara. Dan benar saja, dia berada di hampir tengah danau. Dengan cekatan aku terjun ke danau untuk menolongnya. Dia minum air terlalu banyak, hingga ketika aku menyeretnya ke tepi danau, dia pingsan. Tapi sebelum pingsan, dia bilang padaku jika Rani tenggelam di tengah danau sana. Aku pun meneriaki Pak Bambang yang sudah ada di tepian danau untuk menyelamatkan Rani.
Ku tekan dada Amna beberapa kali, tapi dia masih diam saja tak bergeming. Aku benar-benar frustasi. Aku melihat sekelilingku yang sudah banyak manusia mengelilingi kami. Mereka sama terkejutnya denganku. Banyak dari mereka menyuruhku untuk melakukan tindakan CPR. Aku tak ambil pusing, meskipun nanti pasti Amna akan marah jika nanti dia sadar dan mendapati bibirku menempel di bibirnya. Ku pikir Tuhan pasti akan memaafkan dan mempersilahkan karena niat ku hanya ingin menolongnya saja. Aku memberinya CPR beberapa kali, hingga air keluar banyak dari mulutnya. Namun dia masih saja belum sadarkan diri. Aku benar-benar cemas. Ku jambak rambutku yang sudah basah dari tadi. Ku tekan-tekan lagi dadanya. Dan terus saja ku ulangi CPR tadi.
Setengah jam setelah itu ada tubuh Rani yang berbaring di samping Amna. Rani sendiri sudah sangat pucat. Dia sama sekali tidak menandai dirinya bahwa dia masih hidup. Hanya detak jantungnya yang lemah.
Bu Nilam sudah menelpon Ambulan yang tentu saja tidak bisa seenaknya langsung ada di depan kami. Tentu Pak Bambang dan kami segera mengangkat dua tubuh yang masih menutup mata itu untuk pergi dari danau. Turun melewati bukit. Mungkin karena terlambatnya kami membawa Rani yang sangat membutuhkan tindakan cepat, dia koma selama semalaman. Hingga pagi, ia sudah tak bernyawa. Sedangkan Amna sudah siuman sejak kemarin. Dia mungkin sekarang sedang dikurung orang tuannya di rumah. Mereka sangat syok ketika mendengar Amna berada di rumah sakit. Hanya orang tuannya yang kesini menjenguk Rani yang sudah tiada.
Ku dengar Kepala sekolah memarahi Pak Bambang yang sudah mati-matian menyelamatkan Rani. Ku pikir ini bukan kesalahan beliau yang sudah melarang kami untuk tidak terlalu dekat dengan danau. Tapi tetap saja, Pak Bambang dan Bu Nilam mendapat teguran keras karena dianggap lalai dalam tugas. Apalagi teguran itu tepat di lakukan di depan kami yang sedang di ruang tunggu. Kami hanya satu kelas yang di ijinkan untuk datang menjenguk keadaan Rani, tapi sayangnya kami tidak bisa melihatnya hidup kembali.
Yang aku heran, Wayan. Dia kenapa ya? Kemarin dia malah diam saja ketika Amna berteriak meminta tolong. Bahkan dia hanya mematung ketika aku menyuruhnya untuk memanggil pak Bambang. Tapi tidak ada tanda kegelisahan di manik matannya. Dia malah memeluk bonekanya erat-erat. Ah, mungkin dia saking terkejutnya dengan kejadian yang ada di depannya. Mungkin seperti itu. Tapi, apa seseorang yang sedang terkejut, expresi wajahnya akan seperti itu? Ku rasa expresinya tidak seperti yang lain.
Bintang plis 😬 jangan lupa tinggalkan ocehanmu. Heheheh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret And Admirer (End & Revisi)
Teen FictionMengapa tak kau jemput saja asamu dengan doa. Amna menekuri potret ke dua sahabatnya dengan mata berembun. Sungguh, beban apa yang membuat mereka lebih memilih menentukan kematian mereka sendiri alih-alih meluaskan hati, menunggu keputusan Tuhan. ...
