"Gue nggak tau sama sekali, Mar! kalo Rani hamil anak gue! Dia nggak pernah sekalipun cerita ke gue! gue sendiri juga taunya dari mulut loe!"
Darah segar meluncur dari hidung Yanuar, cowok yang aku kira adalah penyebab mengapa Rani bunuh diri. Aku tak henti-hentinya menahan tangan kiri Maria, sedangkan Lais menahan tangan kanannya. Si pemilik rambut merah ini sudah dua kali melayangkan bogemnya, siapa lagi objeknya kalau bukan Yanuar. Setelah pemakaman Rani selesai, Maria memaksa Yanuar untuk mengikutinya ke lapangan dekat rumah Rani. Tempat ini untungnya sepi.
"Bohong! loe pasti bohong!" Maria masih saja meronta dan hendak menerjang cowok kurus tinggi itu. Sedangkan aku dan Lais dari tadi hanya berusaha melerai mereka. Bahkan aku dan Lais saja kewalahan menghadapi tenaga besar Maria. Makan apa sih dia tiap harinya.
Yanuar masih saja berlutut, ada lelehan air mata menuruni pipi tirusnya. Alis tebalnya bertautan. Dari wajahnya tampak sekali jika dia sedang tidak bahagia. Bibirnya bergetar.
"Terserah, kalo loe nggak mau percaya sama gue, Na! Gue sendiri heran, Rani mutusin gue gitu aja di hari sebelum kalian pergi ke Danau itu. Dia nge blokir nomer gue sekaligus semua akun gue yang berkaitan sama dia. Gue bener-bener nggak tau kalo dia hamil dan udah gugurin bayi kita." Yanuar bahkan memukul-mukul sendiri dadanya. Aku sendiri ikut meluncurkan air mata. Mungkinkah apa yang aku dengar ini benar? Kenapa, Ran? kamu hanya memikirkan yang menurut kamu itu baik untuk kamu lakukan, tapi nyatanya keputusanmu malah menyakiti banyak hati.
"Udah, Mar! udah! loe bunuh Yanuar sekalipun! Rani nggak bakalan hidup lagi!"
Tak ada lagi suara diantara kami. Lais yang notabennya pendiam. Dia dari tadi hanya berusaha melerai pertikaian Yanuar dan cewek di sampingku ini. Memang diantara kami bertiga, yang paling dekat dengan Rani hanya Maria. Tapi aku juga nggak tau entah kenapa, Rani tiba-tiba ngirim pesan terakhirnya ke ponselku.
Yang jelas, amarahku pada Yanuar sudah teredam setelah melihat keadaan yang sama terpukulnya dengan kami karena kehilangan Rani, aku juga sebenarnya ingin juga meninjunya atau pun memenjarakannya jika saja dia tidak bilang kalau Rani tidak pernah memberitahu dia tentang kehamilannya, entahlah... aku ini hanya manusia, bukan Tuhan yang pantas mengadili mereka berdua, apapun yang mereka berdua lakukan, semua akan di pertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Yang aku heran, Wayan bahkan tidak hadir di pemakaman Rani hari ini, dia katanya sih sakit. Ya semoga saja dia cepat sembuh. Aku nggak mau berprasangka buruk sama dia, meskipun hatiku bergejolak untuk tau kenapa sih, dia akhir-akhir ini aneh banget! Dia juga kemarin kata Maria, nggak nongol sama sekali buat jenguk Rani. Terakhir kali ku lihat ekpresinya juga nggak enak banget buat di liat. Kayak gimana gitu, merinding aja kalo liat dia.Tuh kan aku jadi mikir kemana-kemana.
Perdebatan hari ini berpuncak, Maria akhirnya mau melangkahkan kakinya dan menyalakan motor, kami bertiga pulang meninggalkan Yanuar yang masih meringkuk di temani bulir-bulir air matanya. Baru kali ini aku melihat seorang laki-laki mau menangis demi seorang perempuan.
***
Seminggu setelah kematian Rani, semua kembali seperti sebelumnya, bedanya... Wayan sekarang sendirian. Tidak ada satupun murid yang mau menjadi teman sebangkunya. Kulihat Wayan juga sepertinya senang jika dia hanya seorang diri di belakang kami. Aku juga tidak ada niatan untuk menjadi teman sebangkunya.
Teman-temanku sepertinya takut dengan bekas bangku Rani, mengingat kematian Rani yang tidak wajar. Aku sering mendengar mereka menghayal jika bangku itu akan menjadi bangku berhantu karena pemilik bangku itu mati bunuh diri. Ingin aku rempelas saja mulut mereka. Mereka dulu sok sok an nangis ketika melayat ke rumah Rani, mengapa sekarang sikap mereka begini?
Maria juga sering kesal jika mendengar mereka menggunjingkan Rani. Kemarin saja Janan hampir memukul Una karena mulutnya itu pedas sekali mengunjingkan Rani sewaktu kami bertiga di kantin, dia dengan berbisik ke telinga temannya kalau Rani bunuh diri karena dia hamil. Tega sekali dia berkata seperti itu! Rani sudah tiada, kenapa dia sama sekali tidak merasa berdosa menebar gosip tentang Rani yang sudah tiada. Padahal aku dan Janan pun tak pernah membocorkan rahasia Rani, dari mana mereka tau?
Biarlah anjing menggongong, Kafilah berlalu. Aku hanya berharap Rani tenang di alam sana, meski aku tau dalam Islam, seseorang yang mengakhiri hidupnya sendiri tidak di perkenankan untuk masuk ke Surga! meski begitu, aku sebagai muslim dan dia juga saudari seiman denganku, aku tak henti-hentinya mengiriminya doa dan bacaan surat Alfatihah untuknya tiap kali aku selesai shalat fardhu. Semoga saja doaku sampai padannya.
Tak lama setelah itu, Ucha, yang sudah hampir setengah bulan tidak masuk sekolah pun memberikan kabar duka. Ayahnya meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi rajiuun....
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret And Admirer (End & Revisi)
Ficção AdolescenteMengapa tak kau jemput saja asamu dengan doa. Amna menekuri potret ke dua sahabatnya dengan mata berembun. Sungguh, beban apa yang membuat mereka lebih memilih menentukan kematian mereka sendiri alih-alih meluaskan hati, menunggu keputusan Tuhan. ...
