Akupun ingin diperlakukan sama seperti lainya, meski sedikit.
________<<~>>________
Kaki-kaki telanjang Yanuar menapaki ruangan berbau sabun. Air dari sebuah Shower mengguyurnya perlahan.Sedangkan Rani, sang pacar sedang memunguti pakaian dalamnya satu persatu untuk dikenakan.
Perih yang dirasakannya seperih kehidupannya saat ini. Kondisinya yang hanya berbalut selimut mengingatkanya betapa ia merasa begitu kotor. Menjijikkan. Hampir dua puluh tiga kali ia melakukannya dengan Yanuar. Hubungan yang seharusnya dilakukan bagi pasangan suami istri.
Ia bukan lagi seorang gadis. Yanuarlah yang merenggutnya. Dalam benaknya sudah muak menjalani hidup seperti ini. Namun, sesuatu yang sangat mendesak mengharuskannya. Meski itu hanya alasan saja untuk menggapai sesuatu dengan mudah tanpa harus susah payah.
Dari mana ia mendapatkan uang untuk biaya sekolah? Uang jajan? Pakaian bagus? Handphone? Yanuar lah yang memberinya semua itu. Bila ia meminta pada Ibunya, tidak mungkin, dirinya tak akan tega. Tangan sepuh itu sudah terlalu lemah untuk bekerja lebih keras lagi.
Ayahnya meninggal karena penyakit diabet yang sudah menggerogotinya beberapa tahun yang lalu. Meninggalkan dirinya, adik lelakinya dan sang Ibu yang hanya kuli batu. Dengan penghasilan yang tidak menentu, Adiknya pun juga perlu di biayai sekolahnya.
Rani, gadis berhidung mancung itu dengan cara inilah ia memenuhi kebutuhannya. Memanfaatkan Yanuar, anak seorang pengusaha karpet. Berbeda dengan Rani, Yanuar tinggal sebut saja, dengan senang hati sang ayah memberi apapun yang ia mau. Segalanya tersedia.
Yanuar asli Bogor. Kakaknya yang seorang arsitek itu sementara tinggal di Gersik. Menyewa sebuah rumah mewah untuk ditempati mereka berdua.
Seringkali Rani diajaknya ke rumah itu apabila kakaknya sedang di luar kota.
Dikenalnya Rani ketika ia dulu di warung kopi. Kebetulan pemilik warung adalah budenya Rani sendiri. Gadis itu sering diminta sang Bude untuk sekedar menyuguhkan kopi.
"Aku pulang, ya?" Rani sudah siap dengan tas di bahu. Sedang Yanuar baru saja keluar dari kamar mandi, masih berbelit handuk.
"Enggak mandi sekalian?" Yanuar mengedipkan matannya. Cowok manis itu sedang mengeringkan rambut.
"Enggak. Mandi di rumah aja. Bude nanti ada acara hajatan. Kayaknya aku musti pulang cepet." Rani menggigit bibir tipisnya dan berujar lagi, "kamu bisa nggak nanti sekalian beliin aku baju? Entar kerabat jauh pada ngumpul."
Yanuar sedang memakai kaosnya. Jaket di gantungan diambilnya.
"Iya, Yank. Apa sih yang nggak buat kamu .... Yuk!" Kunci sepeda motor CBR sudah ada ditangan.
Beberapa pakaian branded sudah disimpannya rapi didalam tas. Mengendap-endap masuk pintu dapur agar sang ibu tak melihatnya diantar sang pacar. Ibunya memang tidak suka jika putrinya diantar pulang oleh Yanuar. Sebuah tindik ditelinga Yanuar lah yang membuat sang Ibu tidak menyukainya. Meski Rani sudah bilang jika cowok itu sudah sangat baik padanya.
Rani senang bukan main karena siang ini bisa makan lauk enak. Bibi memberi keluargannya banyak daging dalam sayur kare. Yanuar sering memintanya makan daging, tapi ia tidak mau jika Ibu dan adiknya tidak ikut serta. Sekalipun bisa membelinya, sang Ibu pasti menanyainya macam-macam. Dengan lahap ia memakannya dengan sepiring nasi sebelum pergi ke kamar mandi untuk berjinabat.
"Ran! Rani!" Teriakan Ibunya dari kamar segera disahutinnya dari kamar mandi.
"Iya, Bu."
"Sudah pulang? Habis makan langsung ke rumah Bibimu ya?! nanti Ibu nyusul."
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret And Admirer (End & Revisi)
Teen FictionMengapa tak kau jemput saja asamu dengan doa. Amna menekuri potret ke dua sahabatnya dengan mata berembun. Sungguh, beban apa yang membuat mereka lebih memilih menentukan kematian mereka sendiri alih-alih meluaskan hati, menunggu keputusan Tuhan. ...
