Ranting-ranting pohon telah basah. Sisa hujan tadi malam. Menyisakan udara dingin yang begitu menyengat. Aku sungguh malas pergi sekolah. Ingin kukunci saja tubuh ini dengan selimut.
Ku lirik dia di sudut halte. Ah. Dia masih saja tampan. Dia meringkuk memeluk tasnya. Berbeda denganku yang memakai sweater, aku merasa cukup hangat. Kasihan ya, dia?
Si Armada sakti itu sudah siap mengantarkan kami. Berjejal-jejal penumpang pun menyambut.
Aku segera mencari celah-celah kosong. Tepat dibelakang kiri supir berkepala botak, tanganku bergelayut agar tak jatuh, dengan tas ku taruh didepan. Biasa ... tak ada kursi yang tersisa untukku. Aku berdiri.
Aku tau, sandal-sandal itu mencuat dari kamar Ayah dan Ibu. Itu cara mereka membangunkan ku untuk shalat shubuh. Terkadang Ayah datang ke kamarku dengan satu gayung penuh air. Aku disiram, biar segar kata beliau. Itu ingatanku satu jam yang lalu.
Sudah beberapa kali aku menguap. Aku bangun kesiangan. Kamu tau kenapa? diary yang sudah menjadi teman curhatku tentang dia selama hampir empat tahun ... HILANG!
Rak buku sudah aku bongkar, lemari pakaian pun sudah. Ah. Dimana benda pink itu! Diary itu juga tak menghuni di tas sekolahku!
Aku benar-benar gelisah. Bagaimana jika benda itu terjatuh? Atau teman sekelasku menemukanya?! Aku bisa gila!
Benda mati itu memang sama sekali tidak ember, tidak kejam seperti para netizen. Rahasiaku tersimpan rapi jika aku menyimpan benda itu di almari, tapi ... jika ada benda hidup yang menemukannya ... ah! tamatlah riwayatku!
Bapak supir dengan kepala licin itu melirikku dari kaca di depannya. Wajahku memang kentara jika ada masalah yang melanda.
"Telat, Neng?"
"Iya, Pak."
"Kasihan."
Menyebalkan.
Pandanganku mengitari seluruh isi bus ini. Tak ada satupun siswa selain aku dan dia di bis ini. Hanya berjubel para ibu-ibu yang hendak pergi belanja, juga ada beberapa buruh pabrik tembakau di bis ini.
Sebentar ....
Dia, kenapa tidak naik bis armada yang tadi? Apa dia juga bangun kesiangan? Wah! Pasti buku diary-nya juga hilang!
Mustahil.
Cowok yang pelit bicara itu mana punya buku diary!
Aku berpikir keras. Untuk menemukan secuil potongan-potongan ingatan tentang dimana aku menaruh buku bersampul pink itu.
Tapi buntu!
Gusti ....
Jangan sampai ada tangan-tangan nakal mencuri diary-ku itu. Apalagi jika pencuri itu teman kelasku!
Mading bisa banjir pengunjung, kalau sampai diary-ku diobral disana. Dan mereka pasti tertawa jika membaca bait-bait konyol yang aku ciptakan.
Muka aku mau ditaruh dimana? Di kolong meja?
Terlebih pada cowok yang menjadi peran utama dalam dongeng yang aku buat. Dongeng-dongeng sebelum tidur. Aku putri tidurnya dan dia pangerannya.
Dia sedang berdiri di belakangku, posisinya persis seperti kemarin.
Haruskah aku bertanya padanya? Mungkin saja dia melihatnya.
Tidak!
Dia orang yang acuh tak acuh dengan sekitar.
Harusnya aku tanya kondektur kemarin, atau pada sopirnya sekalian. Bisa saja diary ku jatuh disana. Bisa saja ditemukan oleh mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret And Admirer (End & Revisi)
Teen FictionMengapa tak kau jemput saja asamu dengan doa. Amna menekuri potret ke dua sahabatnya dengan mata berembun. Sungguh, beban apa yang membuat mereka lebih memilih menentukan kematian mereka sendiri alih-alih meluaskan hati, menunggu keputusan Tuhan. ...
