Wayan

969 86 14
                                        

Aku menghadapi kenyataan yang begitu mengejutkan. Rahasia yang tak pernah kuduga terlontar dari mulut Nenek. Waktu itu aku yang masih mengenyam bangku SMP diajak berkunjung ke Keluarga Jawa.

Tanpa sepengetahuan Orang tuaku, Nenek menuturkan yang mana diriku
bukan cucu kandungnya. Mendengar hal itu aku serasa menelan batu. Sesuatu terdesak untuk keluar dari sudut mata. Aku menangis detik itu juga.

Sulit dipercaya jika Ayah dan Bunda memungutku dari sebuah panti asuhan. Dengan sarkasnya Nenek menambahkan, diriku ini hanya anak haram yang dipungut dari tong sampah.

Mana mau Nenek yang dari golongan orang berada bersedia dengan setulus hati menerimaku sebagai cucu.

"Lebih baik sekalian tidak punya anak. Dari pada memungut anak haram sepertimu!"

Mungkin hal itulah yang membuat Ayahku lebih memilih untuk membesarkanku di rumah Bunda. Di Bali.

Sebaliknya, dari pihak keluarga sana menerimaku dengan suka rela. Aku merasakan sendiri sejak kecil, perlakuan mereka baik. Tak pernah aku dapati tatapan sinis ataupun ucapan sadis dari mereka yang mana biasa aku terima dari kerabat Jawa.

Ya mungkin saja mereka belum tahu jika aku ini anak buangan. Anak yang tak diinginkan kelahirannya. Andaikata mereka tahu, entah akan bagaimana sikap mereka.

Namun suatu ketika aku bertanya pada Nini, Nenekku di Bali. Tentang apa itu panak dia-diu dalam bahasa Bali yang berarti anak haram.

"Pianak Dia-diu itu tidak pernah ada. Semua bayi yang lahir itu suci, mana bisa disebut haram. Apa mereka mau memakannya? lantas memberi sebutan tak mengenakkan itu. Tuhan sendirilah yang dengan kuasanya menghadirkan mereka di dunia. Manusia sendiri apa haknya memberi sebutan tak pantas itu."

Sungguh jelas berbeda dengan pemikiran Nenekku yang di Jawa.
Sehari saja di sana, terasa sangat lama. Aku selalu mencari alasan untuk tidak ikut serta berkunjung kesana. Alih-alih mengajak bicara, tatapan tak menyenangkan itu selalu menyambutku. Risih. Bahkan bisa dihitung jari mereka menyapa. Itupun bila aku disertai Ayah dan Bunda.

Yang lebih membuatku tak betah, tanpa basa-basi, para sepupu memberiku kalimat pedas mengiris hati.

"Ow ini, babi guling oleh-oleh Pak De." Kalimat itu disambut tawa cekikikan yang lainya, ketika aku muncul dari kamar. Tentu orang tuaku tak tahu.

Tubuhku memang besar dan berlebih gajih. Alasan itulah yang mungkin menjadikanku sebagai bahan hinaan selain mereka tahu aku ini anak hasil perzinahan.

Tak hanya itu, Bude, Pak lek dan yang paling sering Nenek. Mereka kerapkali membandingkanku dengan Sisil.

"Memang beda ya kelas anak pungut. Anakku yang satu itu benar-benar salah ngambil anak. Nggak kayak Sisil. Cucu kandungku itu luar biasa cantiknya."

Nek. Kapan kamu mati? aku akan dengan senang hati mengantarkanmu keliang lahat. Mendoakanmu tak putus-putus untuk masuk ke neraka. Aku benci semua yang ada di sini.

Aku selalu mengeluh pada Ayah dan bunda untuk tidak berlama-lama disana. Tapi Ayah tak menangkap mataku yang berkaca-kaca. Beliau tak mengindahkan permintaanku. Cukup Bunda yang tahu jika aku sedang terluka.

"Sabar, Nak. Dua hari lagi kita pulang."

Dengan penuh kekecewaan aku harus sabar menanti 48 jam lagi. Kembali ke kamar mendengarkan fur elise-nya Mozart, teman sepiku. Tak lama selang beberapa menit hatiku gerimis. Meluapkan kesedihan yang ada.

Ah, andai saja aku ini 'anak halal'. Andai embel-embel anak haram itu tak pernah ada.

Aku tergugu sepanjang malam, sampai sebuah tangan lembut mengusap rambut. Bunda selalu datang disaat yang tepat.

"Kamu kenapa, Nak? ada yang membuatmu sedih? sini bilang sama Bunda. Biar Bunda marahin!"

Beliau mengecup keningku dengan lembut. Seakan memberiku obat untuk mengurangi rasa sakit yang ada.

"Sabar. Luaskan hatimu. Jangan perdulikan mereka." Aku dipeluknya erat semakin membuatku terisak. Ah, Bunda. Kaulah keajaiban satu-satunya dalam hidupku. Alasan mengapa aku masih bertahan dalam dunia.

Bunda adalah manusia terkuat yang pernah aku temui. Entah hatinya terbuat dari apa. Sulit hamil membuatnya menerima hujatan tak berperi. Selain aku, Bunda juga tak luput dari sasaran mulut tajam mereka. Tapi itu sama sekali tak menggetarkan hati Bunda untuk berpisah dari Ayah. Meski Nenek meminta perpisahan keduanya berkali-kali. Aku mendengarnya sendiri.

Aku sering melihat Bunda dengan mata berkaca menutup pintu kamar. Selepas dari membantu Nenek didapur. Tapi air mata itu segera ditepis tatkala aku menatapnya. Berpura-pura baik-baik saja. Masih sempat pula Bunda melebarkan senyum. Aku sudah tahu semua Bun. Pasti Nenek lampir itu mengataimu mandul. Lagi. Itu lagi?

Aku muak setiap kemari. Tidak bosan-bosankah dia, alih-alih memasak sesuatu yang enak untukmu Bunda, tapi justru menyuguhimu dengan kalimat berduri. Mendarahkan hati.

Ayah yang tak tahu merasa semua baik-baik saja. Maklum saja, laki-laki mana peka. Bunda juga sangat luar biasa sabar. Tak pernah mengadukan rasa sakitnya.

Selang dua tahun, Ayah meminta kami untuk menetap di Jawa. Bagai petir di siang bolong aku dengan berat hati harus menerima. Keluarga Jawa memang kejam, namun aku juga perlu tempat sembunyi. Ah, kenapa tak ada tempat lain, sih! aku menggerutu. Kesal bukan mail.

Semua gara-gara Nenek. Wanita tua itu dengan sesenggukan lewat telepon meminta Ayah untuk tak jauh dari keluarga. Nenek sedang sakit keras waktu itu. Dengan alasan takut tak bisa melihat Ayah sebelum mati, Nenek memintanya untuk tinggal di rumahnya. Rumah yang bagi Bunda dan aku seperti neraka.










Secret And Admirer (End & Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang