Leon

1K 81 12
                                        

Ucha tak pernah tau rasanya menjadi Rani, yang kehilangan seorang ayah. Tapi sekarang apa yang Rani dulu rasakan menimpanya. Mereka memang tidak pernah dekat, tapi Ucha sedikit perihatin dengan kehidupan Rani. Kehilangan Papa adalah mimpi terburuknya.

Sesal, sedih bercampur. Kehidupan dirasa sudah tak berarti. Seorang Papa baginya yang segalanya itu telah pergi. Mama hanya membuat hidupnya merasa terhina sekaligus tak pernah ada untuknya. Jika seorang yang segalanya telah lenyap di telan bumi, lantas untuk apa dirinya masih bernyawa? Ia ingin menyusul Papa. Meninggalkan Mama yang mungkin dengan kepergianya akan memberi sesal.

Hampir seminggu, mata Ucha tak berhenti menitikkan air mata. Sudah selama itu pula ia tak pernah keluar kamar. Tiap kali Neneknya mengetuk pintu dengan membawa makanan pun ditampiknya. Ucha hanya butuh waktu sendiri. Mencurahkan kesedihannya.

Pagi ini mungkin saat yang tepat untuk mewujudkan rencananya tadi malam. Dirinya sudah tak mampu menadah kehampaan yang ada.

Dengan piyama yang masih sama seperti kemarin, Ucha membuka laci. Alat pencukur bulu itu dikeluarkan.

Dalam dilema antara dua pilihan ia duduk di tepian ranjang. Diiringi mata yang masih setia berembun, ia menyibak lengan pakaianya. Nadi sudah di depan mata.

Tapi, sebelum mengiris nadi, pintu kamarnya terbuka. Reflek, pencukur bulu itu jatuh. Amarah pun menyeruak mendapati seseorang terkekeh di ambang pintu.

"Selamat pagi, Marmut bar-bar."

Ucha membuang muka. Pemuda tadi malah mendekat.

"Ngapain loe kesini! pergi!"

Tidak peduli dengan kalimat sarkas Ucha, pemuda itu menekuri benda yang terjatuh tadi.

"Loe mau bunuh diri? gila lu, Cha. Nggak keren."

Ucha tak mau membuang kata. Masih terdiam dengan rambut berantakan.

"Cha. Loe kalo mau bunuh diri, cari ide yang kreatif dong. Loe kalo mau ngiris nadi... gue jamin empat puluh menit loe baru bisa mati. Ngotorin kamar tau nggak. Mau gue bantuin bunuh diri?"

Mata itu mengembun lagi.

"Kalo bakar diri sih nggak mungkin ya... 60 persen tubuh kita kan dari air. Paling belum juga loe mati, apinya udah mati duluan."

"Diem loe!"

"Aha! loe nabrak kereta aja. Sedetik pasti loe mati. Tapi tubuh loe bakal pisah-pisah. Dan loe mati sih, cuma gue yakin loe gentayangan nyari-nyari tubuh loe yang ilang.  Mana bisa loe ketemu sama bokap dengan kondisi seperti itu. Padahal itu yang loe pengen kan? ketemu papa loe."

Kali ini pemuda itu menangkap manik mata Ucha yang berair deras. Ia tergugu. Melihatnya pun membuatnya iba.

"Gue kangen Papa, On."

Diraihnya gadis itu dalam dekapan. Ucha menangis sejadi-jadinya disana.

"Gue tau, Cha. Ini berat banget buat loe. Tapi bunuh diri nggak bakal nyelesaiin masalah. Semisal loe mati bunuh diri, loe malah bikin malu nama bokap loe. Apa itu yang loe mau? pasti bokap loe pengen loe bisa bikin bangga dia, Cha. Gue yakin itu."

"Tapi gue nggak bisa On, buat lanjutin hidup tanpa Papa."

"Bisa, Cha. Di dunia ini bukan cuma loe yang kehilangan Papa. Bercerminlah pada kehidupan orang lain. Ambil sisi positif. Mungkin dengan kepergian Pak De, loe jadi memperbaiki diri untuk jadi yang lebih baik. Loe harus bikin bangga orang tua loe."

"Tapi gue---" Ucha meraung lagi.

"Lama-lama waktu akan menghapus luka, Cha. Jangan bersikap seolah loe manusia termenyedihkan di muka bumi. Ini cuma ujian hidup, Cha."

Secret And Admirer (End & Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang