Mata Indah itu, miliknya

2.1K 135 6
                                        

Dibalik jendela kamar. Kuintip cowok jakung itu melewati rumah. Baju koko putih menempel sempurna di tubuhnya. Tak lupa peci hitamnya di kepala. Nyaris sempurna.

Dia, namanya yang tak mau kusebut, selalu meramaikan rumah Allah. Aku sudah tahu itu sejak bertahun-tahun. Mungkin teman-temanku akan iri jika mereka tau kalau aku satu komplek dengannya. Mungkin mereka akan bilang kalau aku manusia paling beruntung.

Dia mungkin hemat kata jika berkumpul dengan teman-temannya. Ya. Dia lebih suka membelanjakan suarannya pada kalam-kalam Allah, pada tiap malam Selasa dan Jum'at di masjid dekat rumah kami. Juga tidak pernah absen untuk mengumandangkan Adzan setiap Mahgrib dan Isya' tiba.

Memang T-O-P-B-G-T dah!

Emak-emak komplek juga pada kekeh njodohin anak perawan mereka sama tuh cowok. Tapi, tante Fatimah, emaknya hanya senyum-senyum saja menanggapi mereka.

Aku juga ogah tuh, kalau misal aku jadi tante Fatimah. Secara! para gadis komplek sini pada pamer paha semua. Mereka  sibuk meramaikan sosmed. Berbondong-bondong meng-update status. Berlomba-lomba mencari perhatian, ya di FB-lah, IG-lah, BBM-lah.

Wajah-wajah mereka sering muncul membanjiri beranda Facebook ku dengan berbagai gaya. Tapi aku sering liat mereka pose miring-miring, njulurin lidah. Mungkin bagi mereka bergaya seperti itu bakal dibilang imut kali, ya? Tapi bagiku? Ngapain, Neng?

Gunakan seperlunya sajalah. Itung-itung untuk membangun silaturahmi, menebar ilmu atau mungkin bisa buat usaha. Usaha mendapatkan jodoh kali contohnya, hahahaha, bercanda. Mungkin bisa dipakai untuk berjualan. Masarin barang dagangan. Ya. Menurutku itu lebih berfaedah.

"Na," Jihan membuka pintu kamarku. Rumahnya di depan rumahku. Teman dekatku jika dirumah. Sayangnya kita beda sekolah.

Aku menoleh ke arah sumber suara. Ia sudah dengan balutan mukena putih berenda. Aku pun sama, aku sudah bersiap untuk pergi ke masjid.  Hendak Membaca kalam-kalam Allah juga.

Aku berharap, di tengah jalan, Jihan tidak bercerita lagi tentang mantannya yang namannya Beny. Aku memang tidak bisa menebak Beny karakter Benysecara keseluruhan. Tapi aku tidak suka saja, jika sahabatku ini disuruhnya melepas hijab, jika Beny meminta bertemu. Atau meminta Jihan untuk memakai heels tinggi, tangtop dengan hotpan setengah paha! Dan tak lupa wajib menguraikan mahkotannya! Beny siap sedia membawa sisir untuknya.

Hah! kalau aku sih, mending jomblo. Itu keterlaluan! kontras dengan pesan Ayah Jihan untuk selalu memakai hijab dan melarang buat anaknya untuk pacaran.

Tapi tidak bagi Jihan. Dia nurut saja, selama cinta masih melekat, tai pun dirasa coklat. Selama ia senang. Ia rela saja menuruti apapun perintah pacarnya. Ia lupa siapa yang memberinya makan, uang saku setiap hari, dan jika tanpa ayahnya ia tak akan hadir di dunia.

Ia juga tahu, jika itu akan menjauhkannya dari bau-bau surga, dan melemparkan ayahnya ke lubang neraka.

Tapi itu pilihan yang berat bagi Jihan, ia lebih memilih tidak mau kehilangan orang yang dicintainya yang mana sekarang sudah resmi jadi seorang mantan. Mereka putus! Alhamdulillah .... Jihan bingung mencari gebetan. Katanya hatinya kosong. Kesepian tanpa ada pacar dalam hidupnya. Ia jadi ketagihan untuk melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah.

"Kamu putihan ya, sekarang. Kamu pakek sabun apa?" kami bersisian. Berjalan menuju masjid yang kira-kira hanya seratus meter dari rumah kami.

"Aku pakek sabun batangan. Aku udah cocok banget! Kalo nggak pakek itu, aku nggak mau."

"Emang sabun apa, sih?" Aku penasaran."

"Itu tuh ... sabun yang hargannya 2500-an."

"Yang buat mandi?"

"Iya."
Aku tidak percaya dia memakai sabun mandi untuk mencuci muka!

Sahabat aku ini memang beda. Suka sekali melakukan hal-hal yang tidak terduga.

Langkah-langkah kecil, akhirnya membawa kami sampai di masjid.

Bau masakan menyeruak memenuhi ruang masjid. Selain jajanan basah, ibu-ibu komplek juga menyuguhi nasi dan teman-temanya kepada kami semua yang meramaikan masjid.

Semua makanan itu disambut senyum cetar membahana dari kami yang baru saja masuk. Kebetulan. Dari kami belum ada yang makan malam.

Jihan bingung mau memilih lauk apa. Semua tersaji, dari tempe goreng sampai daging sapi.

Sambil menunggu giliran mengaji, Jihan dan aku serta teman-teman kami yang lain makan terlebih dahulu.

Kami perempuan diberi kesempatan untuk khataman Al-qur'an terlebih dahulu. Sedangkan bagi laki-laki, agak malam sedikit, baru mereka berdatangan.

Jihan dengan lahabnya, makan ikan lele sambel terasi. Kita berdua makan diteras masjid. Takut mengotori dalam masjid. Di depan teras itu juga ada pagar tembok pembatas setinggi pusar berdiri menghalangi tubuh kami terlihat.

Entah ada angin apa. Cowok yang tak ingin namanya kusebut itu dan abangnya Jihan datang. Jihan  tidak tahu karena asik makan. Aku melihat mereka duduk tepat dibalik tembok pagar pembatas itu. Lalu mengalihkan pandanganku kembali pada Jihan.

Hanya tinggal tulang dan duri, tiga lele yang diambilnya tadi. Nasinya sudah dilahab habis dari tadi. Mentang-mentang tubuhnya tidak mudah gemuk.

Tak bisa terelak. Dan dicegah. Tulang dan duri itu dilempar dengan ringanya oleh gadis yang ada di depanku saat ini. Aku lupa mengatakan, jika ada dua cowok sedang duduk di balik pagar pembatas itu.

Kedua cowok itu berjingkrak-jingkrak seperti menang lotre. Jihan masih asik dengan menjilat jari-jarinya yang masih belepotan sambal.

"Jihan. Kok main buang sembarangan, sih! Disitu ada Abang kamu." Aku setengah berbisik.

Jihan dengan polosnya menoleh.

Jihan memamerkan gigi-gigi kecilnya pada kedua cowok itu.

Abangnya sudah siap menerkamnya dari belakang.

Irham, Abangnya itu pasti sudah tahu siapa pelakunya. Piring Jihan masih penuh oleh tulang belulang ikan lele. Sedangkan aku hanya makan nasi dan telur dadar.

Aku menahan tawa. Sedangkan Jihan sudah lari terbirit-birit menuju kamar mandi.

Aku melirik cowok yang berada dibelakang Irham. Cowok yang namanya tak mau aku sebut. Dia masih sibuk mencari duri-duri yang mungkin masih menempel di rambutnya.

Tanpa sengaja mata kami bertemu. Tatapan yang menenagkan.

Lama ....

Angin-angin nakal itu meniup-niup rambutnya yang hitam malam. Lurus seperti tatapanya saat ini. Mungkin lebih dari delapan detik.

Tatapannya terhenti, ketika Irham mengajaknya untuk duduk kembali.

Ah. Mungkinkah ini perasaanku saja?!

                    ~♡~

Secret And Admirer (End & Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang