10 : history

8.9K 1.4K 212
                                        

Aku beku. Beku di tempat. Melihat wanita dengan paras sedikit blasteran memperhatikankum Aku  tersenyum sedikir canggung.

Wanita itu mendatangiku, Membuatku semakin was-was.

"Maaf, saya terkejut ada kamu disini. Tapi kamu siapa? Dimana anak saya?"

"Rindu!"

Aku beralih pada pintu, Ada Jaemin. Nafasnya terburu-buru persis orang habis berlari. Wanita di depanku juga ikut berbalik melihat jaemin.












——

"Dia pacarku, Ma."

Aku membulatkan mata. Kami bertiga berada di Meja makan. Wanita tadi yang ternyata mama Jaemin mengajakku makan bersamanya karena ini sudah jam makan siang.

"Na!" aku mencubit lengan Jaemin.

"Apa? Memang benar kan kamu pacarku?"

"Ya ampun... Mama belum tau siapa namamu sayang?"

"A-aku Niken tante.. Niken Ayu."

"Niken Ayu Rindu ma." sambung Jaemin.

"Niken Ayu Rindu? Namamu bagus..." Mama Jaemin tersenyum padaku. Sama seperti anaknya, mereka berdua sama-sama manis.

Kami mengobrol santai. Mama Jaemin juga tidak keberatan dengan kehadiranku disini. Sekali-kali mama jaemin menceritakan Jaemin saat kecil. Ia tidak bisa berenang. Jaemin tidak suka tomat dan pepaya. Hal-hal kecil yang sebelumnya aku tidak tahu, di ceritakan oleh mama Jaemin.

Selesai makan, Kami pamit. Jaemin membawaku keluar dengan cepat tanpa memberiku waktu untuk menyalami mama Jaemin.

"tuhan memberkati kalian nak! Hati-hati di jalan."

——

Sesuai rencana kami menjemput Kayla dan Renjun. Tapi selama dijalan kami tidak banyak mengobrol. Jaemin hanya menanyakan dimana letak indomaretnya, Hanya itu.

"Nikenn!!!" Teriak kayla sambil memelukku saat aku keluar dari mobil. Jaemin bertos dengan Renjun. Kami berempat masuk ke mobil. Membicarakan rencana kemana kami akan pergi dan menghabiskan tahun baru.

"Pvj yuk? Jalan-jalan aja... Sekalian belanja." usul kayla.

"Ayo, tapi pasti jalannya macet." balasku.

"Gapapa. Kita ke pvj aja. Gapapa kan jun?"

"ah? Ah... Iya iya.... ayo aja..." Renjun menyetujui, kami sepakat ke PVJ.

Seperti dugaan, Macet. Hampir 40 menit untuk sampai dan memarkirkan mobil. kami masuk dan berjalan-jalan. Singgah ke beberapa toko, Melihat-lihat barang yang dijual.

Kulihat renjun dan kayla saling bercanda di depan kami. Jaemin memperhatikan mereka, aku merasa tidak enak. Kami juga sudah pacaran.

Pikiranku memang masih mencerna perkataan mama Jaemin. Apa maksudnya? Aku memang bukan orang yang memperdulikan agama seseorang. Tapi untuk Jaemin, aku sedikit penasaran.

Ku putuskan untuk tidak memikirkan tentang apa yang terjadi di rumah Jaemi tadi. Aku melingkarkan tanganku di tangan jaemin. Ia melihatku, lalu tersenyum.

"Kupu-kupu nya bagus ya?" tunjukku ke atas.

Jaemin tersenyum, mengacak rambutku.

"Jangan diacak nana!"

Kami mengikuti kayla dan renjun masuk ke dalam sebuah toko bernuansa putih-pink yang menjual banyak barang-barang lucu.

Kini senyum nana terus merekah. Tidak secanggung sebelumnya.

Nana, Rindu Dan Agama [ Na Jaemin ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang