31 : a cafe

7.2K 1.1K 253
                                        

Niken sudah bersiap dengan kemeja putih, jas hitam, celana hitam dan juga kepalanya berbalut kerudung hitam. Ia akan interview kerja hari ini.

"Berangkat dulu ya kak." Niken menyalami kak Jaehyun di ruang kerja nya.

"Kamu interview pake gini? Serius? Monoton banget gimana mau ada yang naksir." ejek kak jaehyun sambil konsisten pada komputernya.

"Gini-gini aku punya Pacar di inggris gak kaya kaka yang batal nikah wleee." Niken membalas ejekan kakaknya itu.

"Hah? Emang kamu mau nikah sama jaemin?"

"Ya mau lah."

"emang jaemin mau nikah sama kamu?"

"Ya pasti lah."

"emang tuhan ngerestuin?"

"hayoo kok diem." sambung kak jaehyun.

"Y-ya seenggkanya jaemin gak selingkuh kaya CALON ISTRI kaka si hana hana itu."

"Tau darimana Jaemin gak selingkuh?"

"GATAU AHH!"

Niken segera keluar dari ruang kerja kakanya itu dengan kesal. Memang sedari dulu, bagi mereka sulit sekali untuk akur.

"berikutnya... Niken ayu rindu. Silahkan masuk." panggil seorang wanita dari pintu. Niken berdiri lalu masuk ke ruangan itu dengan perasaan gugup. Ia harus di terima di perusahaan ini."

Niken memejamkan matanya sebentar saat pertama kali duduk.

"Nama saya Niken Ayu Rindu umur saya 23 tahun pendidikan terakhir saya S1 di Universitas Padjajaran..." ia mengenalkan dirinya dengan fasih. Namun ada yang janggal di depannya.

Terdapat 3 kursi namun yang ditengah itu kosong.

"Tunggu sebentar ya kita tunggu dulu CEO datang."

Perasaan Niken semakin gugup ketika ada seseorang yang membuka pintu di ujung ruangan ini. Dan nampaklah pria berpostur gagah yang sudah berumur.

"Maaf. Bisa kita lanjutkan interviewnya?"
"Niken.. Ayu.. Rindu.." lelaki itu mengeja nama Niken dan menaikkan kepalanya menatap niken.

Gadis itu terkejut setengah mati.

"Om... Siwon.."

Niken menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Ia masih tidak percaya. Sebaliknya, lelaki yang disebutnya om siwon itu tersenyum ke arahnya.

Selesai interview Niken duduk lemas di kursi yang berjajar di depan ruangan itu. Ia masih kaget. Sangat.

"Niken ayu rindu?" panggilan dengan suara berat itu mengintrupsi niken yang tengah melamun. Masih di tempat yang sama.

"Sepertinya kita harus berbincang. Cafe?"

--

"Ngga usah pake bahasa formal. Udah ngga di kantor kok. Santai aja.."
"Apa kabar?"

"B-baik, om. Om sendiri?"

Saat ini aku berada di sebuah cafe bersama om siwon.

Iya, Om siwon. Orang yang mewawancari aku tadi. Papa Jaemin.

"Baik.. Makin cantik ya?" Jawab om siwon sambil tersenyum padaku. Hangat. Persis anaknya.

"bertahun-tahun gak ketemu, udah gede banget ya sekarang.."

"Iya om..."

"Niken,"

"Oh iya om.." ucap kami berbarengan.

"Kamu dulu," Om siwon mempersilahkanku berbicara duluan.

"Eh ngga ngga om aja dulu."

"Kamu aja.."

"Ah iya itu.. Aku mau nanyain Jaemin.."
"Dia masih di inggris ya?"

"Kenapa kamu nanyain itu?"

"A-aku masih pacaran sama Jaemin... om.."

"Pacaran?"

Aku mengangguk, "Udah.. 6 tahun om."

"Kamu nggak salah pacaran Sama Jaemin? Na Jaemin anak saya?"

"Iya om. Jaemin. Jaemin anak om."

"Kamu... Pacaran gimana?"

"Gimana? Maksudnya? Kita LDR om.."

"LDR?"

Om siwon terlihat bingung. Ia mengambil secarik kertas dan pulpen dari tasnya lalu menuliskan sesuatu disana.

"Saya gak tau soal hubungan kamu dan Jaemin yang mana, tapi tadinya saya mau ngasih tau kamu ini karena saya kira kamu gak tau." ia selesai menulis dan menutup pulpennya.

"Dan kamu beneran gak tau sepertinya. Yang saya mau sebenernya bahas sama kamu itu satu hal."







"Jaemin udah meninggal."

"Om, jangan bercanda."

"Saya Serius, Niken."
"Dia punya meningitis."
"Januari 2019, dia masuk stadium 4."

"Tuhan sayang dia lebih dari saya, lebih dari kita semua."

Nana, Rindu Dan Agama [ Na Jaemin ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang