Aku terbangun karena bunyi dering ponsel. Aku mengambil benda tersebut diatas meja. Namun bukan handphone ku yang berbunyi, melainkan handphone Kayla.
Aku membukanya. Kayla memang tidak pernah menguncinya karena mudah lupa. Aku langsung memeriksa notifikasi masuk di aplikasi whatsappnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Iya. Itu benar Renjun dan seorang wanita yang tadi malam aku dan kayla bicarakan.
Wanita itu terlihat tidak asing. Rambutnya, postur tubuh nya, pakaian dan tasnya benar-benar sama persis dengan diriku sendiri.
--
"Kapan-kapan gue main sini lagi ya? Masih ada 3 hari lagi nih di bandung." Kayla menaiki ojol yang barusan datang ke rumah Niken.
"H-hah? I-iya. Oke.. Hati-hati ya."
"Iya ken. Dadahhh!!"
"dah.."
Motor itu melaju dan perlahan menghilang dari jarak pandangku. Aku kembali masuk ke rumah dan masuk ke kamar. Masih mencoba mencerna apa yang tadi pagi ku lihat.
Bersamaan, datang sebuah panggilan masuk ke handphone ku.
Incoming call (Renjoooon)
Aku yang biasanya selalu menjawab panggilannya, kini memilih untuk menekan bulatan merah pada layar dan melempar benda itu ke kasur. Aku duduk di depan pintu dan mengusap rambutku frustasi.
Setelah merasa cukup tenang, aku bangkit dan menghampiri meja belajarku. Membuka laptop yang langung terpampang fotoku dengan Jaemin 4 tahun yang lalu saat kami wisuda. Kami hanya tersenyum biasa ke arah kamera tanpa pose yang macam-macam.
Sudah 2022, Dan jaemin belum kembali ke indonesia. Alasannya selalu sama-sibuk.
Aku mengerti, mungkin disana berbeda dari indonesia. Memang kadang kami bertengkar. Namun tidak berlangsung lama karena jaemin pasti akan langsung mengirimkan ratusan bubble text di roomchat ku.
--
Hari wisuda tiba. Jam 4 pagi aku sudah bersiap-siap karena akan segera di rias oleh mua pesanan Kak Jaehyun. Dia mengatakan itu sebagai hadiah terakhirnya sebagai seorang kaka. Karena setelah aku wisuda, kak Jaehyun akan menyiapkan resepsi pernikahannya.
Padahal dia belum lama bekerja tapi dia sudah menemukan cintanya disana. Sedangkan aku? Aku pacaran dengan Jaemin bertahun-tahun, menjalaninya walau tahu agama kami berbeda.
Menikah? Yang benar saja. Agama kami tidak merestui. Apalagi orang tua. Sudahlah.
Mungkin jika aku suatu saat nanti putus dengan Jaemin, aku akan menjadi perawan tua yang tidak bisa melupakan cinta pertamanya.
"Nah, udah selesai." ujar mua yang mulai membereskan peralatan makeupnya.
Aku suka. Tidak terlalu mencolok. Riasannya sangat lembut. Sesuai dengan kebaya abu-abu yang ku kenakan saat ini.