02 : u did it

20.5K 3.4K 330
                                        

Ada bintang disini, disana, dan disitu.
Pojok kiri bawah, jangan sampai terlewat. Terima kasih♡

——

Jaemin benar-benar berjalan di sebelahku sampai ke masjid sekolah. Sesekali ia mengajakku berbicara dan kubalas seadanya.

Aku melepas sendal dan masuk ke masjid. Tidak mendapati Jaemin lagi di sebelahku, aku menengok ke belakang.

"ga masuk?" tanyaku.

"Nyusul. Mau mampir dulu ke koperasi" balas dia sambil menunjuk ke belakang.

"Oh.. Oke... Nanti kesini lagi kan?"

"Iya, bentar kok. udah sana masuk." kata dia sambil mengayunkan tangannya.

Aku tersenyum dan masuk ke masjid. Menaruh mukenaku dan mengambil air wudhu.

Selesai itu, aku masuk lagi ke dalam masjid. Sebentar tidak memikirkan Jaemin karena mungkin dia sedang wudhu sekarang.

Aku shalat di sebelah kiri masjid. Tepat bersebelahan dengan jendela yang menghadap langsung ke pohon besar di sekolah ini.

"assalamualaikum warahmatullah....assalamualaikum warahmatullah.."

Aku mengusap wajahku dengan tangan yang masih berbalut mukena.

Beres itu, aku melipat mukena ku dan melirik ke jendela. Seseorang yang tidak asing, seseorang yang mengantarku tadi. Disana. Di bawah pohon itu sambil mendengarkan musik lewat headset yang terpasang di telinganya.

Aku tersenyum. Merasa ada seseorang yang menungguku. Segera aku membawa mukenaku dan keluar dari masjid. Menghampiri Jaemin di bawah pohon rindang.

"udah shalat?" tanyaku begitu aku tiba di hadapannya.

"Udah, Kamu?"

"Udah kok." balasku.

Di tersenyum, "Ayo. Mau ke kantin dulu?"

"Ga usah. Ke kelas aja langsung, yuk."

"Oke.." dia tersenyum lagi lalu bangun dari duduknya. Kami berjalan menuju kelas yang ada di lantai 3. Seperti tadi, dia mengajakku berbincang. Dan kali ini aku menjawabnya sedikit antusias.

Sampai di kelas, kami masih mengobrol. Saling bersenda gurau. Membicarakan guru-guru yang ada di sekolah, bahkan hal yang tidak penting sekalipun.

——

Bel berbunyi tanda pulang sekolah. Seisi kelas riuh dan berhamburan keluar. Berbeda denganku yang baru membuka mata. Aku ketiduran seperti biasanya.

Aku mengucek mata dan melihat ada Jaemin disebelahku. Padahal kelas sudah kosong. Tapi dia masih disini, memperhatikanku, dan tersenyum.

Aku Menguap, merapikan rambutku yang sedikit berantakan.

"Kenapa gak dibangunin?" kata ku pada Jaemin.

"Gak tega. Kamu nyenyak banget." Jaemin menaruh sikutnya di atas meja dan menjadikan telapak tangan kanannya sebagai tumpuan wajahnya.

"Gimana kalau ada guru yang liat?! Astagfirullah Jaemin.. Habis aku pasti.. Arghhhh"

"Tenang, Tadi aku nutupin kamu kok. Jadi yaaa... Gak terlalu keliatan."

"harusnya tadi dibangunin aja..."

"Ga tega. Udahlah... Ayo pulang. Semuanya udah pulang, cuma kita yang belum."

Aku mengedarkan pandanganku ke seisi kelas. Melihat keluar jendela dan memang semua sudah diluar.

Jaemin mengambil tasnya, disusul aku. Kam—maaf maksudku aku dan Jaemin— berdiri hampir bersamaan. Jaemin berjalan di depanku, lalu saat diluar kelas dia berjalan di sebelah kananku.

Tidak banyak obrolan, aku masih mengantuk. Aku lalu berjalan ke parkiran motor. Mencari dimana motorku dengan Jaemin yang selalu mengikutiku.

"Kamu gak ambil motor?" tanyaku sambil memasang helm.

"Nggak. Aku ga punya motor."

"Lalu ke sekolah naik apa?"

"Bis."

"Jauh ga? Ayo aku anterin." Kataku sambil menyalakan mesin motor.

"Ga. Ga usah. Aku Udah biasa jalan kaki."

"Hish. Ayo cepet naik!" Aku menepuk jok belakang motorku.

"Kalo gitu aku aja yang bawa motornya. Masa laki-laki di bonceng anak perempuan? Ga mau." rajuk dia.

"Bisa kamu?"

"Bisa dong...." dia mengacungi jempolnya.

"Yaudah nih." Aku turun dari motor. Melepas helm dan hendak memberikannya pada Jaemin.

"Gak. Kamu aja yang pake." Jaemin menggeleng cepat.

"Dimana-mana, yang bawa motor yang pake helm. Udah cepetan pake..." Paksaku.

"Helm itu buat ngelindungin kepala. Kalau ada kecelakaan, Aku gabisa lindungin kamu. Jadi kamu anggep aja helm itu aku."

"Ngomong apa sih.. Aku gak ngerti..."

"Gak perlu ngerti, ayo naik."

Aku tidak mau berdebat lebih lama lagi. Segera aku duduk di jok belakang. Berpegangan pada ujung motor.

"Kalau dingin, peluk aku aja. Aku pengen bisa menghangatkanmu."

"Jangan bercanda, Jaemin. Ayo cepat jalan."

"Ga bercanda."
"Pegangan, ya."

Dan hari itu, entah mengapa rasanya begitu hangat.

Jaemin, kamu berhasil.

——

Sebelum gue ketik ulang tuh si jaemin formal banget wkwkwk jadi ya—gitu.

Sebelum gue ketik ulang tuh si jaemin formal banget wkwkwk jadi ya—gitu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Uwuuuuuuu💝💘💟💗💖💞💕

Nana, Rindu Dan Agama [ Na Jaemin ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang