Sampai dirumah, aku masuk ke kamar dan menutupnya keras. Membuat kak jaehyun yang tengah berada di kamarnya pun bisa mendengar suara itu.
Ia membuka pintu kamarku lalu menghampiriku yang tengah berbaring di kasur dengan bantal yang menutupi hampir seluruh kepalaku.
"Kenapa dek?" tanyanya. aku hanya diam. Bisa kurasakan kak jaehyun mengelus telapak tanganku dengan tangannya yang halus.
"Kalo ada masalah cerita sini."
Aku menggeleng dalam balutan bantal. Entah kak jaehyun bisa lihat atau tidak.
"Kalo gabisa ngomong sama kaka, ngeluhnya ke allah." "Jangan lupa shalat dzuhur."
Setelah itu kak jaehyun pergi. Aku mengganti pakaianku, mengambil air wudhu, lalu sembahyang di kamar.
——
Senin, hari yang membosankan. Aku tidak banyak berbicara dengan Jaemin. Belajar pun kami sibuk sendiri dengan tugas masing-masing.
Istirahatnya, aku ke kantin bersama Kayla. Tidak mau memikirkan Jaemin dulu untuk saat ini.
Kayla mencoba menghiburku, ia sedikit membantu agar aku tidak terus berfikiran negatif tentang Jaemin.
Kami ber tos ria sebelum ke kelas masing-masing. Kayla memang masuk ke kelasnya, tapi aku memilih ke toilet dulu. Rok ku terkena sedikit saus saat makan di kantin.
Incoming call (Kayla)
Aku memasang headsetku lalu memasukkan hpku ke saku.
"Halo kay?" aku menyapanya sambil mencuci tangan di wastafel.
Kayla menjawab dari ujung sana, namun berbarengan dengan itu ada seseorang yang berbicara padaku dengan nada cukup menyeramkan.
"Udah lama gak ketemu nih, mantan."
——
"Halo? Ken?" kayla memanggil Niken namun suara yang ia dapat malah 'krasak-krusuk' tidak jelas.
"Kay liat itu anak-anak pada rame banget di bawah. Ada pengunguman ya?" teman sebangku kayla—Eunha menyenggolnya sambil menunjuk ke arah jendela.
"Eh! Eh! Anak laki-laki! Di bawah ada rame apaan?" Eunha meneriakki segerombolan siswa yang hendak keluar kelas.
"Ada yang rame tuh di atap!" Teriak Dejun.
"Iya! Ada cewek berantem di atas katanya!" Yangyang ikut menyahut.
"Eh tadi katanya ada berapa sih? Berdua ya?" Hendry memberi suara.
"Bener berdua Hen kata si chenle." Balas Dejun.
"Kalo gasalah yang satunya itu cewek yang pernah di cium sama si jaemin itu.... Siapa sih namanya?" tanya Yangyang pada teman se-geng nya.
"Niken woi namanya! Niken!"
——
Sinbi menggembok pintu masuk ke rooftop dengan masih mencengkram tangan niken.
"Gimana? Udah seneng lo nyakitin gue?" sinb berbalik lalu semakin mengeratkan tangannya.
"Arrgghhh! Nyakitin apa? Lu ada masalah sama gue? Apa?" Niken sedikit mengerang karena cengkraman Sinbi yang cukup kuat.
"Apa maksud lo pacaran sama Jaemin hah??!! Lo masih berstatus pacar gue!!" sinbi melangkah maju. membuat Niken harus mengikutinya dengan berjalan mundur, membawanya ke bagian kanan rooftop.
"Sin, kita udah putus sejak taun kemaren. Kita udahan sin. Kita udah bukan pacar lagi."
"KAPAN LO BILANG PUTUS??? PAS PULANG SEKOLAH ITU??? GA!! GUE UDAH BILANG KAN GUE GA MAU PUTUS SAMA LO!!" Sinbi menghempaskan tangan Niken dengan cukup keras.
"Lebih baik kita putus Sin daripada gue lanjutin hubungan waktu itu."
"Lo udah gak sayang lagi sama gue? Lo lupa siapa yang waktu itu hampir rebut ciuman pertama lo?" mata Sinbi perlahan memerah.
"Sin, gue sayang lu, okay? Gue disini sayang lu sebagai temen."
"GAK!! GAK BISA GITU!! GUE SAYANG LO MELEBIHI TEMEN!! GUE PENGEN KITA BALIK LAGI KAYA DULU KEN, KENAPA GAK BISA????!!" Sinbi berteriak di hadapan Niken.
"Sejak kita putus, emang udah gabisa. Gue sadar gue ada di jalan yang salah. Gue mau balik lagi ke jalan yang bener dan gue harap lu juga begitu."
"Salah? Lo pikir cinta gue ke lo itu salah ken??" "Kita masih bisa balikan kaya dulu. Pacaran kaya dulu. Lo ga mau ngejalanin itu semua lagi?" mata Sinbi berubah memelas.
"Gabisa. Dulu, lu selalu cemburu gue deket sama siapapun. Termasuk temen gue sendiri. Lu sering nangis karena itu. Lu bilang gue nyakitin lu terus. Lu bilang udah gak kuat sama semuanya," Niken menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.
"makanya gue putusin lu karena gue mau jalanin kehidupan gue yang kaya dulu, gue ga mau nyakitin lu terus. Kita pernah bahagia di jalan yang sama. Tapi semua orang berubah Sin, termasuk gue."
"Dan satu hal yang perlu lu tau, gue pacarin lu karena gue ngerasa nyaman aja sama lu. Gue ga bener-bener cinta sin, maafin gue. Tapi waktu itu gue gabisa bedain mana cinta mana nyaman, makanya gue terima lu gitu aja." Niken mengepalkan tangannya. Memberikan kekuatan pada dirinya sendiri untuk menumpahkan semua unek-unek hatinya.
"gue tau gue jahat. Lu boleh marah sama gue. Gapapa. Lu harus tau kenyataannya."
"Lu ngejar cinta yang sebenernya ga ada."
"Berubah Sin. Tuhan kita maha pemaaf."
"BERISIK!!!!!!!" Sinbi menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.
"KALO LO MAU CERAMAH JANGAN DISINI BANGSAAATTT!!!!!"
Sinbi langsung mendekati Niken dan mencekik leher Gadis itu dengan kedua tangannya, membuat para murid yang menonton mereka dari bawah berteriak karena rambut Niken yang menggantung bebas dan tertiup-tiup oleh angin.
"LO TINGGAL PACARAN SAMA GUE LAGI APA SUSAHNYA JALANG???!!!!"
"s..si—n..."
"MATI AJA LO KE NERAKA!!!!"
brakkkk
Sinbi jatuh tersungkur cukup jauh karena di dorong oleh seseorang yang kini mengambil alih tangan Niken.
"Na..."
——
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.