Mencintai seseorang memiliki dua jalan. Kesatu, bertahan dan berjuang meski memiliki resiko tak terbalaskan. Kedua, diam dan memilih melupakan tanpa pernah menerima sebuah balasan.
SANJAK TEDUH
"80% jaringan tendon, ikat dan ototnya sudah mengeras. Selama ini pasien selalu kesusahan bernapas. Dan sekarang, keadaannya diperburuk dengan keadaan jantungnya yang mulai melemah."
Perkataan dokter beberapa menit lalu terus terngiang-ngiang di telinga Yuri. Tadi sebelum duhur, dia mendapat telpon dari Yafie yang memberitahunya kalau saudara kembar mantan suaminya itu dibawa ke rumah sakit sejak Ibu memasuki kamarnya dalam keadaan sudah tak sadarkan diri.
"Yuri," panggil Ibu, wajahnya yang sudah keriput itu menatap sendu Yuri yang duduk di sebelahnya. "Ibu boleh ikut campur sedikit gak?"
"Masalah apa, Bu?" tanya Yuri hati-hati. Sebab, selama ini Ibu mertuanya itu sama sekali tidak pernah ikut campur masalah keluarganya sedari awal.
"Teduh. Dia perlu tau, Yuri. Ibu takut Afie akan pergi. Dia sudah bertahan sejauh ini, Ibu tidak bisa lihat dia kesakitan terus di bumi. Dia memang sedang hidup, tapi badannya sudah lama mati, Yuri. Ibu tidak bisa memaksa kehadirannya di sini lagi, dia sudah menanggung berbagai rasa sakit selama ini."
Ibu memberhentikan ucapannya sejenak, ucapannya bergetar, matanya menyiratkan kesedihan. "Hal terakhir yang dia butuhkan sebelum pergi adalah pelukan seorang anak, Yuri. Hanya itu."
Yuri menjawab dengan anggukan. Pikirannya kali ini dipenuhi dengan saran dari Ibu. Yuri tidak pernah membayangkan hari ini akan terjadi. Yuri tidak ingin membuat Teduh sedih lagi. Anaknya itu sudah menanggung luka ketika mantan suaminya mulai membenci Teduh.
"Yafie, sini." Kini ibu memanggil anak ke tiganya. Yafie yang sedari tadi berdiri di seberang seraya menyenderkan badannya di tembok rumah sakit yang dingin itu perlahan berjalan mendekati Ibu. Yafie duduk di samping Ibu, dan langsung dihadiahi sebuah pelukan.
"Jangan terlalu lama membenci saudara kembarmu sendiri, ya? Dan, jangan pula membenci Teduh. Bagaimanapun, dalam tubuh Teduh juga mengalir darah Ibu yang juga mengalir dalam tubuhmu. Ibu tahu, yang dilakukan Afie salah. Maafkan dia, hanya itu yang Ibu pinta. Afie sudah tidak bisa bertahan dengan rasa sakitnya di bumi lagi, Yaf. Maafkan dia sebelum dia pergi."
***
Sejak hari di Dufan kala itu. Sinar dan Teduh benar-benar tampak selalu bersama. Mereka membuat waktu berharga setiap harinya yang nanti bisa mereka kenang suatu hari.
Kasarnya, orang-orang akan selalu sadar untuk selalu membuat momen indah ketika sudah tahu bahwa itu adalah hal penting yang harus dilakukan selagi masih mampu.
Mereka berdua sedang berada di perpustakaan kampus. Sinar baru datang sehabis berkumpul dalam rangka pembagian kelompok KKN yang sebentar lagi akan dia lakukan.
Sedangkan Teduh sejak pagi sudah berada di sini, berkutik dengan banyak sekali referensi skripsi kakak tingkat tahun-tahun sebelumnya yang selalu di arsipkan di perpustakaan. Meski begitu, ketika siang hari sehabis beribadah, Teduh tak lupa mengisi perutnya.
Sinar menatap lamat Teduh dari samping. "Curang banget ya muka kamu."
"Curang gimana?"
"Gak ada jelek-jeleknya dilihat dari sisi manapun. Muka aku kalau dilihat dari bawah jelek banget perasaan. Kamu tetep bagus-bagus aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sanjak Teduh
Novela Juvenil[BEBERAPA PART DIPRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] "Memang benar ya, Sinar selalu menghangatkan hati Teduh meski dengan cara yang paling menyakitkan. Terima kasih Sinar, selepas semua kegelapan yang datang, kujamin bumimu akan tetap aman."
