Sinar berdiri, tangannya mengambil tisu dan membasahinya dengan air mineral botol. Teduh masih duduk seraya memperhatikan pergerakan Sinar yang sekarang duduk di sebelahnya. Sinar mengelap bibir Teduh dengan tisu yang sudah dia basahi sebelumnya.
"Maaf Teduh, tadi Sinar gak sengaja."
"Beneran, Sinar gak sengaja."
"Maaf ya."
Teduh tertawa pelan. "Gemesin banget."
Teduh menggenggam pergelangan tangan Sinar yang sedang mengelap bibirnya. "Teduh nggak jijik, Sinar. Gapapa gausah diapus."
"Tapi Sinar tadi beneran nggak sengaja."
Teduh mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, Teduh tau. Emang iya sih, yang tadi harusnya dihapus aja, karena harusnya Teduh yang mulai."
"Sinar mau Teduh cium? Secara sengaja."
Sinar diam.
"Kalau enggak mau sekarang, gapapa, lain kali aja kalau Sinar ud—"
"Mau." Sinar memotong ucapan Teduh, membuat Teduh kini diam membeku dengan ucapan Sinar yang mendadak.
"Mau, sekarang."
Teduh tersenyum simpul. Tangan kirinya menangkup pipi Sinar, dan tangan kanannya menangkup tengkuk Sinar. Sinar menutup matanya ketika wajah Teduh mendekat. Teduh menyatukan bibirnya dengan bibir Sinar dengan lembut.
Teduh menutup matanya dan hanya menyatukan bibir saja, menunggu Sinar. Sampai dirasa saat lengan Sinar bertumpu pada bahunya, kedua tangan Sinar memeluk lehernya. Bibir Teduh mulai melanjutkan aksinya. Sinar pun membalasnya.
Tangan teduh beralih mengcover belakang kepala Sinar. Badannya sedikit mendorong supaya tubuh Sinar tertidur di atas sofa. Teduh yang merasa Sinar terganggu dengan kemejanya yang jatuh, memutuskan untuk membuka kemejanya dan melemparkannya sembarangan.
Teduh melepas tautan bibirnya sewaktu merasa napas Sinar sudah pendek, mengingat Sinar beberapa hari belakang pilek. Keduanya sama sama membuka mata. Teduh menjauhkan sedikit wajahnya supaya Sinar dapat bernapas dengan luas.
"Rasa marshmellow."
"Mau rasa marshmellow lagi, atau rasa lain nanti?"
"Udah capek, mau peluk aja," kata Sinar.
Tangan Teduh membawa tubuh Sinar untuk duduk di pangkuannya. Keduanya berpelukan. "Sinar baru kali ini ciuman."
"Teduh juga."
Sinar melepaskan pelukannya. "Tadi jantung Teduh cepet banget berdetaknya, grogi ya deket sama Sinar? Cieeee," ledek Sinar.
Teduh mengambil kedua tangan Sinar. Menaruhnya di kedua dadanya. Sinar tertegun. Kedua mata mereka saling bertatapan satu sama lain. Dengan Sinar yang dapat merasakan degup jantung Teduh. Masih sama, tidak ada yang berubah.
"Masih sama?"
Sinar mengangguk. "Sinar seneng masih bisa dengar detak jantung Teduh yang gak berubah."
"Kalau gitu, Sinar tiap hari cek detak jantung Teduh, ya."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Sanjak Teduh
Fiksi Remaja[BEBERAPA PART DIPRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] "Memang benar ya, Sinar selalu menghangatkan hati Teduh meski dengan cara yang paling menyakitkan. Terima kasih Sinar, selepas semua kegelapan yang datang, kujamin bumimu akan tetap aman."
