"Kalau Tuhan memberikan suatu ujian. Berarti kita pasti bisa melewatinya. Tuhan mempercayai kita. Dan Tuhan pasti mendengarkan doa-doa hamba-Nya. Jadi, ayo tersenyum. Sedih diperbolehkan, tetapi jangan sampai berlebihan, ya."
SANJAK TEDUH
Jeumpa menatap sepasang kekasih yang baru saja keluar dari mall, mereka kembali menaiki motor dan pergi ke jalan raya, sepertinya ingin mengubah rencana kencan mereka. Jeumpa tidak sengaja bertemu dari jauh saja selepas bekerja. Akan tetapi ketidaksengajaan itu membuat hatinya teriris, lagi.
Bohong kalau Jeumpa bilang dia tidak ada rasa lagi pada mantannya sewaktu SMA. Bagaimana dia bisa melupakan seseorang yang selama dua tahun mengisi hari-harinya? Dan bodohnya, Jeumpa menyesal karena sewaktu itu memutuskan Kama hanya karena keegoisannya sendiri.
Hari ini hari yang berat bagi Jeumpa. Dimulai dengan mengujungi makan kedua orang tuanya sendirian. Mendapat nilai buruk ketika ujian. Tak memiliki tempat untuk menceritakan kesedihan. Teman? Sejak SMP Jeumpa tidak memiliki teman dekat. Jeumpa memiliki banyak teman, tetapi tak ada satupun yang benar-benar bisa dikatakan sahabat.
Sejak SMA pun dia bekerja sendiri untuk mencukupi kehidupan. Mulai ketika orang tuanya pergi meninggalkannya karena kecelakaan pesawat sewaktu dia duduk di kelas sembilan SMP. Dia sempat diurus oleh Tante dari mamanya, tapi tak berlangsung lama, Jeumpa ingin hidup sendiri tanpa merepotkan orang lain.
Jeumpa bekerja part time di sebuah restoran. Sedari SMA hingga kini. Dan itu cukup untuk mencukupi kebutuhannya. Dia juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Dan yang pasti nilai ujian buruk di semester ini mengancam beasiswanya, bukan?
"Gue boleh egois gak sih?"
"Gue butuh Kama di hidup gue."
"Kenapa dia gampang banget nemu pengganti gue? Sedangkan gue, masih gak bisa buka hati buat siapa-siapa."
"Gue cape, gak punya siapa-siapa di kehidupan gue."
Setelah bermonolog sendiri. Jeumpa menyeka dua tetes air matanya yang tadi sempat keluar. Dia menaiki motornya, mengendarai motor dengan pikiran yang sudah melayang ke mana-mana. Hanya satu sekarang tujuannya. Ke diskotik untuk meminum, karena hanya itu yang membuatnya tenang untuk sementara.
Belum sampai ke tempat tujuan, tepat di per-empatan. Kesialan Jeumpa mencapai puncak. Sebuah mobil dari arah berlawanan terlihat melaju kencang. Jeumpa cepat tersadar, dia sempat membelokkan motornya, tapi mobil itu lebih dulu menabrak motornya.
Jeumpa merasakan seluruh tubuhnya seperti sedang diterjang oleh sesuatu yang keras berkali-kali. Dia juga sempat mendengar suara teriakan dari orang-orang di sekitar. Sebelum akhirnya suara-suara itu perlahan menghilang. Dan sebelum semuanya gelap, Jeumpa sempat meminta pada Tuhan. Dia ingin hidup dengan disertai kasih sayang.
***
"Yah, kita diusir, malu banget masa! Kan, udah aku bilang kita udah gede, mana bisa ke tempat main anak-anak, ngaco," kekeh Sinar.
Tadi sebelum memesan tiket, Sinar sempat bertanya, orang dewasa boleh ikut main atau tidak. Dan langsung dijawab tidak oleh petugas Kidzania. Orang dewasa hanya bisa mengawasi anak-anak di dalam.
"Pertanda tuh."
"Apaan?"
"Kita harus nikah dulu. Terus punya anak biar bisa masuk Kidzania," jawab Kama dengan tatapan menggoda. Yang ditatap memalingkan mukanya, seraya merengek. "Tuh kan! Ngaco lagi kamu mah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sanjak Teduh
Teen Fiction[BEBERAPA PART DIPRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] "Memang benar ya, Sinar selalu menghangatkan hati Teduh meski dengan cara yang paling menyakitkan. Terima kasih Sinar, selepas semua kegelapan yang datang, kujamin bumimu akan tetap aman."
