"Perasaanku masih sama sebenarnya. Namun, aku tidak ingin lagi bersama. Bukannya trauma. Aku hanya tidak ingin sakit berkelanjutan saja."
SANJAK TEDUH
Menghabiskan waktu bersama sahabat itu sangat penting bukan? Maksudnya, bukan hanya sekadar berjam-jam, tetapi seharian penuh. Sekali-kali, untuk memperkuat ikatan antara satu sama lain.
Sedari pagi tadi sampai malam kini, semuanya berkumpul di rumah Jon. Keenam lelaki ini sangat betah bersama. Katanya, kapan lagi bisa begini? Selagi senggang. Nanti, kalau sudah mengerjakan hal dan larut dalam kesibukan, susah untuk berkumpul lagi.
Mereka sudah memakai baju piayama. Ingin mengadakan piayama party seperti orang-orang. Kasur lantai di ruang keluarga telah berjejeran rapi. Mereka pun tadi sempat bertukar piayama. Ah, soal kejujuran. Mereka akan terus terang setiap kali berkumpul lengkap begini.
"Bang Dadah kayaknya mau ngomong sesuatu nih sama Bang Kama," celetuk Jufri yang sedari tadi sama sekali tak mendengar kejujuran kakaknya.
Dadah menggeram kecil. Adeknya itu semakin dewasa semakin membuatnya kesal. Dadah memanggil Kama, lalu berkata dengan tulus. "Kama, maaf ya, gue sering ghibahin lo sama Sinar semenjak putus."
Kama mengangguk singkat. "Gue udah tau kali. Lo kan raja ghibah."
"Sialan lo. Sinar gue rebut baru nangis."
Jon menggeplak kepala Dadah dengan gampangnya. "Sinar gak mau nerima yang bentukannya kayak lo. Yang kayak Teduh aja ditolak."
Dadah melotot ke arah Jon yang memasang tampang tak bersalah. Leher Dadah sampai terkilir masalahnya. "HEH JODI JONI JELANI. GAK USAH PAKE KEKUATAN DALEM NGAPA?"
"Eh, kekerasan ya? Sorry-sorry. Bermaksud mematahkan leher memang pada awalnya."
Jufri terpingkal kala Dadah meminting leher Jon yang kini malah tertawa. Bukannya Jon yang kesakitan, justru Dadah sendiri. "Gak usah sok-sokan deh, Bang. Olahraga badan yang banyak, jangan cuma olahragain otak aja."
Tabah memukul mulut Jufri dengan pelan. "Dadah itu Abang kandung lo sendiri. Minta maaf sana, lo makin lama makin ketularan Abang lo kalau gak di-rem sama gue."
Jufri menghela napas. Dia meminta maaf pada Dadah yang menatapnya dengan sinis. "Maaf Bang, maafin genetik jelek lo yang nular ke genetik gue."
Teduh ikut tertawa sekilas. Dia sedang sibuk mencari mencari video-video lama mereka di laptop. "Nih lihat nih!" Video pertama diputar. Tampak Dadah membuka video dengan gaya nge-vlog pada umumnya, kemudian Dadah meletakkan kamera hingga mereka semua terlihat di kamera. Mereka sedang bermain basket bersama.
"Lo dulu cita-citanya jadi vlogger ya, Dah?" kekeh Teduh.
"Tapi nggak kesampaian," jawab Dadah sendiri. Jon kembali terpingkal, diikuti tawa Tabah, Kama, Teduh dan Jufri. Sedangkan Dadah masih bisa menahan kesabarannya, dia menyengir mengingat masa-masa itu.
Jon memberhentikan videonya kala Dadah terlihat melempar basket ke dalam ring dengan gaya ularnya. "Anjir, badan lo beneran kayak uler."
"Keren kan gue?" balas Dadah.
"Keren kalau dilihatnya gak melek," sahut Kama.
Dadah membalas. "Eitss, tidak boleh seperti itu anak muda, perkataannya mohon dijaga." Dadah kembali memutar video yang tadi sempat terjeda. Meski begitu, tak lama, Teduh kembali menjeda video ketika terlihat Dadah yang terjatuh. "First kiss lo tuh?" kekehnya.
"BANG TEDUH! INI ACARA FLASHBACK MOMEN KITA ATAU FLASHBACK MOMEN GUE SIH?" pekik Dadah yang sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya.
Teduh memeluk tubuh Dadah dengan sedikit kekehan ketika Dadah memperlihatkan raut wajah kesalnya. "Maaf-maaf, abis lo lucu, sih." Dadah berdecak dan mengumpat, walaupun ujungnya dia membalas pelukan Teduh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sanjak Teduh
Fiksi Remaja[BEBERAPA PART DIPRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] "Memang benar ya, Sinar selalu menghangatkan hati Teduh meski dengan cara yang paling menyakitkan. Terima kasih Sinar, selepas semua kegelapan yang datang, kujamin bumimu akan tetap aman."
