"Meskipun kamu sudah merencanakan kehidupanmu secara detail, hukum alam sudah lebih dulu merencakannya jauh sebelum kamu. Dan segala kemungkinan yang mungkin 'menurutmu' keluar dari rencana, bisa saja terjadi dalam sekejap mata."
SANJAK TEDUH
Sinar baru saja selesai kelas, sekarang jam satu siang, seperti kata Kama tadi pagi, mereka akan makan siang di kantin Fakultas Kedokteran Hewan, fakultas Sinar sekarang yang sudah menginjak usia tahun ke tiga, semester lima.
Pada mulanya, Windy mengajak Sinar untuk pergi hang out bersama Jelita dan Sagi. Namun, Sinar menolaknya. Sinar juga belum cerita tentang kedua orang tuanya. Gak perlu diceritakan juga sebenarnya, meskipun Windy dan Sagi termasuk teman dekat bagi Sinar.
Sinar menyipitkan kedua mata, matanya menjelajahi kantin, tapi tak kunjung menemukan kehadiran Kama, yang Sinar temukan justru Jeumpa yang duduk di salah satu kursi dengan dua piring makanan di mejanya.
"Jeumpa," sapa Sinar saat menghampiri Jeumpa yang kini menengadahkan kepala, menatap Sinar yang sudah duduk di hadapannya.
"Kenapa, Nar?"
"Lo liat Kama, nggak?"
"Kama lagi ke toilet tadi, baru aja kelar makan, tuh piringnya," jelas Jeumpa seraya menunjuk piring bersih di sebelahnya.
Sinar bisa memastikan kalau mereka berdua baru saja makan siang bersama, tapi tetap saja bertanya karena Sinar tidak mau berspekulasi sendiri, "Tadi kalian makan bareng?"
"Eh, iya, gak sengaja ketemu aja sih. Dia tadi sendiri di sini, nunggu lo kayaknya."
"Yah ... kok gak nunggu gue sih?" canda Sinar dengan terkekeh sebentar, padahal hatinya sudah bergerak tak karuan. Kama mengingkari ucapannya untuk yang pertama kali, itu keingakaran pertama Kama yang Sinar ketahui.
Jeumpa cengengesan, "Mau nunggu lo, tapi guenya udah laper duluan."
"Otomatis ya, lapernya?"
"Maksudnya gimana? Gapaham gue, coba jelasin lebih simpel, deh, biar bisa dicerna sama otak gue."
Notifikasi ponsel membuat Sinar menunda ucapannya pada Jeumpa. Sinar tersenyum girang saat mendapat sebuah pesan dari Jingga. Intinya, Jingga mengabarkan kalau kedua orang tuanya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, tandanya mereka sudah sadar, bukan?
"Dari Kama?"
Sinar menatap Jeumpa sekilas, menaruh lagi ponselnya di saku jaket hitamnya, "Bukan."
"Btw, Kama dari tadi ke toiletnya?"
"Lumayan, sih. Oh iya, gue abis ini udah ada janji sama Kama. Kama udah bilang ke lo?"
Sinar mengangguk, "Oh, itu, udah kok." Tidak, Sinar berbohong pada Jeumpa. Kama tidak memberitahu tentang janjinya pada Jeumpa siang tadi.
Kata Windy, sebisa mungkin Sinar harus menspekulasi Jeumpa kalau Kama selalu memberitahu apa yang terjadi di antara mereka berdua, walaupun Teduh tidak memberitahunya. Nanti Sinar akan jujur pada Kama saja, kalau dia bohong pada Jeumpa.
Maaf, Jeumpa, tapi Sinar tidak mau Kama kembali ke pelukanmu.
"Kalo gitu gue duluan, deh."
"Sendirian?"
"Iya, sendiri," --kan, pacar gue perginya sama lo.
Ah sinar ingin melanjutkan perkataannya, tapi dia tidak sanggup untuk mengatakan hal itu setelah berbohong barusan.
Sinar beranjak, "Maaf Jeumpa, tolong jangan ngelewatin batasan, ya."
Selepas mengatakan itu, Sinar segera pergi menjauh, dia jadi merasa tidak enak sedikit setelah melihat reaksi tertegun Jeumpa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sanjak Teduh
Fiksi Remaja[BEBERAPA PART DIPRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] "Memang benar ya, Sinar selalu menghangatkan hati Teduh meski dengan cara yang paling menyakitkan. Terima kasih Sinar, selepas semua kegelapan yang datang, kujamin bumimu akan tetap aman."
