"IYA GUE TAU GUE INI BEGO!"
teriak Hamam mencoba menghancurkan kaca di kamar mandi
Hamam terus menerus memandang dirinya didepan cermin kamar mandinya. Ia merasa benar benar bodoh. Waktu pun berjalan,sudah hampir satu setengah jam dirinya memandang cermin hancur yang dirusaknya. Tanpa sadar,Hamam pun tertidur di dinding kamar mandi diiringi dengan belahan kaca yang tajam. Darah terus mengalir mengenai baju maupun celana yang Hamam pakai apalagi,seragam SMA yang besok ia harus pakai lagi
"Milena..maafin gue"
Lirih Hamam memejamkan matanya
.
.
.
Adzan shubuh mulai bekumandang,Milena mulai terusik dari tidur nya akibat bunyi adzan shubuh dari ponselnya. Milena merasakan kepala nya yang teramat sakit seperti habis membentur batu keras,ia mulai mengingat ngingat kejadian beberapa jam lalu yang membuatnya seperti ini sambil memegang kepala yang masih sakit,nama suaminya mulai terngiang ngiang dipikirannya. Ia meraba raba disebelah kasurnya,tapi nihil tidak ada sosok suaminya disana
Milena pun mulai beranjak dari kasur king size di apartemen suaminya,untuk mengambil wudhu sekaligus mencari Hamam suaminya. Ia memang masih kesal akibat perlakuan tadi,tapi mau bagaimanapun Hamam suaminya kan? Tanggung jawab Milena sudah sah ditanggung oleh Hamam kasian jika Hamam harus menambah dosa istrinya
Dipintu kamar mandi pun ia sudah disuguhkan dengan belahan belahan kaca yang membuat ia kaget,kaca itu tidak kecil ukurannya yang membuat Milena harus berhati hati. Ia pun mulai takut,kejadian apa yang terjadi didalam sana? Jika diluar pintunya pun ia sudah disuguhkan dengan pemandangan seperti ini
"Hamam?"
Milena mulai membuka pintu kaca kamar mandi itu sembari memanggil nama
Panik. Satu kata yang ada dipikiran Milena,ia bingung harus melakukan apa ketika melihat Hamam dengan posisi duduk bercucuran darah dan memejamkan mata
"Mam...mam..."
Milena menggoyangkan bahu Hamam
Hamam membuka matanya perlahan dan melihat Milena lirih,ia belum bisa bertindak
"Len..maafin..gue"
"Tangan lo?!"
Milena mencoba menyentuh jari jemari Hamam
"Hmh"
"Bentar bentar"
Milena mencoba meraih kotak P3K di atas kepalanya
"Aduh"
Hamam merasa kesakitan ketika alkohol mengenai luka dilengannya
"Tahan ya tahan,sebentar lagi"
Milena masih teliti mengobati pergelangan Hamam
"Aduh aduh,udah len sakit"
Hamam menjauhkan lengannya dari alkohol itu
Milena menatap Hamam sendu
"Kalo ga diobatin malah jadi penyakit nanti"
Kata Milena menatap Hamam
Hamam pun hanya bisa pasrah ketika Milena terus mengobati kedua pergelangan tangan. Meskipun menahan sakit yang teramat dalam
Milena pun membaluti Hamam dengan kasa putih menutupi luka lukanya
"Udah selesai"
Milena berbenah obat luka
Hamam pun melihat sekeliling lengannya yang dibaluti kain putih. Hamam tersenyum menatap istrinya dihadapan yang sedang bebenah itu
"Bisa jalan?"
Milena membantu Hamam berdiri dengan tenaga yang lebih kecil dari Hamam
"Hati hati beling"
Milena membopong tubuh Hamam dengan hati hati
"Mam,ambil wudhu dulu ya. Tangannya tetes tetes air aja kalo sakit"
Hamam mengangguk tersenyum
Mereka pun melaksanakan kewajiban mereka sebagai islam pada dini hari itu,meskipun sakit yang diderita mereka masing masing masih terasa
KAMU SEDANG MEMBACA
Who?✔
Teen FictionSudah berniat udah mundur karna pernikahan yang tidak berjalan sesuai alurnya Semua luka sakit ini sudah terlalu banyak,bendungannya pun hampir rusak. Sudah ditambal oleh rasa tapi luka yang kau berikan malah semakin dalam Harus bagaimana? Mundur at...
