Ini hanya tentang Ratu Arsandita yang mengaku salah jatuh cinta. Nyatanya, mencintai seorang Regantara Bima seperti sengaja menjatuhkan diri dari tebing. Bukan sakit lagi karena patah dan hancur saja tak cukup menggambarkan keadaan hatinya.
Namun, b...
Kana mendesah pelan, menurunkan kaca helmnya. "Gue pulang deh. Lama di sini juga gak bakal diajak masuk."
Tertegun, Arsa berusaha tersenyum dan menepuk bahu sepupunya. "Take care andsorry, Na. Mungkin ... lain kali."
Menyembunyikan kekecewaan, Kana mengangguk lalu melajukan kendaraannya. Arsa sendiri sempat terdiam sebelum memasuki rumahnya dengan lesu.
Hubungan sang mama dengan keluarga dari papanya tidak bisa dikatakan baik. Entahlah, hal tersebut bagaimana bisa terjadi. Dulu, mamanya dan mama Kana begitu dekat, mereka seperti sepasang saudara kandung.
Namun, semakin usianya bertambah, mamanya seperti memberikan batas, kerap melarangnya pergi mengunjungi keluarga papa. Arsa beberapa kali melihat perdebatan di antara mereka yang ia sendiri tidak paham penyebabnya. Lalu, kepergian sang papa membuat semua benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi.
"Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang!"
Arsa yang tengah menaiki tangga menghentikan langkah. Ia menoleh pada wanita paruh baya yang baru keluar dari dapur. Tahu apa yang akan dibicarakan mamanya, Arsa memilih tidak memberikan respon. Ia kembali berjalan hingga ...
"Sasa, mama lagi bicara sama kamu!" ujar wanita itu. Arsa kembali berhenti lalu menoleh pada sang mama. "Bisa bicara nanti, Ma? Sasa capek."
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Tadi Mirna telepon mama katanya kamu tidak bisa dihubungi. Kamu tidak lupa, kan, dengan jadwal pemotre-"
"Ma! Sasa capek mau istirahat dulu," potong Arsa cepat. Tadi, ia memang sengaja mematikan ponsel dan menerima ajakan Kana untuk pergi membeli bahan prakarya.
"Mama udah konfirmasi kalau pemotretan kamu diundur jadi nanti malem." Keputusan sepihak sang mama membuatnya geram. Arsa tidak ingin pergi, tapi sekeras apa pun menentang, pada akhirnya ia akan tetap kalah.
"Sekarang kamu mandi lalu makan. Abis itu istirahat sebentar," ucap mamanya lagi.
Arsa mencengkram erat tali ranselnya, berusaha menahan emosi yang sudah akan meledak.
"Kenapa masih berdiri di sana?"
Menarik napas dalam, Arsa menatap sang mama, meminta pengertian. "Ma-"
"Ratu Arsandita, jangan membantah! Kalau kamu mau alesan, mama juga lelah baru pulang kerja, jadi tolong jadilah anak yang penurut." Ucapan wanita itu membuatnya mendesah berat. Arsa berlari menuju kamar dan menutup pintu dengan keras. Cewek itu membaringkan badannya, memeriksa chat dari sepupunya.