Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alisa selesai menunaikan shalat subuh, menunduk lalu mengangkat kedua tangan, ia menenggelamkan diri dalam runtutan doa panjang. Semalam Alisa berpikir banyak sekali hal. Tentang masa lalunya bersama Firman, tentang kenangan bersama laki-laki itu, tentang Ayah dan Bunda yang terlihat sangat bahagia lalu dihempaskan begitu saja dengan kenyataan pahit yang menimpa putri satu-satunya. Kemudian, semua benak Alisa berpindah pada Raka Mahendra.
Ketika kemarin ia berusaha meminta penjelasan Raka -Alisa memberanikan diri selepas mereka shalat berjamaah untuk pertama kalinya setelah menikah, jawaban yang ia terima masih mengambang. Bukan Raka yang membuatnya seperti itu, namun pertanyaan Raka tentang sejauh mana Alisa mengenal Firman. Kalau boleh jujur, saat Raka menanyakan beberapa hal tentang Firman, Alisa tidak memiliki jawaban pasti. Sedangkan ketika Alisa bertanya pada Raka apa alasan laki-laki itu meminangnya, jawaban Raka sangat sederhana tapi artinya luas.
Qadarullah. Itu jawaban singkat Raka, Allah yang sudah merancangnya, sekarang pilihan Raka ada pada Alisa. Meski setelah itu Raka tidak menjelaskan secara detail alasan dirinya rela mengambil alih posisi Firman yang meninggalkan Alisa. Dalam perpisahan mereka bertahun lamanya, apa Raka berubah menjadi seorang ikhwan yang sebenarnya? Kalau iya, kenapa masih mau pegang Alisa saat di kamar sebelum ijab dilakukan? Kenapa masih mau menatap mata saat berbicara berdua? Sejak kapan Raka berubah menjadi religius kalau sikapnya masih seperti laki-laki kebanyakan? Bahkan terlalu manis bagi Alisa karena genggaman Raka yang terasa sangat tulus sebagai sahabat.
Gimana perasaan Raka sama aku? Benak Alisa ketika ia selesai menutup doa. Dibukanya kedua mata, dalam diam ia mengucap asma Allah berkali-kali. Alisa sadar beberapa hari terakhir ia terlalu bersuka cita dengan rencana pernikahan hingga mengurangi intensitasnya untuk mendekat pada Tuhan.
Mungkin ini teguran sekaligus ujian sebenarnya dari Allah. Menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak pernah terbersit menjadi suami, meski mereka pernah sangat dekat, bahkan keluargapun juga dekat, bukan menjadi jaminan semua akan baik-baik saja. Bagaimana Alisa harus bersikap sebagai teman masa kecil yang dalam hitungan jam berubah menjadi suami? Bagaimana ia memperlakukan Raka nanti? Haruskah Alisa melayani Raka secara lahir dan batin? Sedangkan hatinya masih tersakiti dengan ulah Firman. Mengubah poros hati tidak semudah membalik telapak tangan.
"Kak, udah bangun? Subuhan dulu."
Alisa menatap pintu kamar yang bergerak dibuka oleh Bunda. "Udah," jawabnya seraya melepas mukena.
Bunda tersenyum, dihampiri Alisa yang kini duduk di sini ranjang yang masih tersisa dekorasi pengantin. "Bunda habis tahajud pindah ke kamar Ayah."
"Gak apa-apa, Bunda." Alisa mengambil pita rambut, ia menggelung surainya. "Hari ini.., gimana?"
Bunda mengelus surai sang putri, dikecupnya pelan kening Alisa lalu dipeluknya. "Bunda sayang banget sama Kakak."
Merasakan nafas berat di bahu, Alisa mengangguk, namun tidak kuasa menahan air mata yang lolos begitu saja melewati sudut mata. Secepat ia bisa dihapus sebelum Bunda semakin sedih. "Kakak baik-baik aja, Bunda. Ada Raka..," suara Alisa memelan. Lalu dirasakannya pelukan Bunda mengendur.
"Kak, apapun nanti yang terjadi di dalam pernikahan kalian, selalu ingat betapa berharganya Raka buat Bunda."
Alis Alisa berkerut, "Bunda udah gak sayang lagi sama Kakak?"
Bunda menggeleng, wajahnya meneduhkan. "Bunda sayang banget sama kalian. Bunda cuma pengen kamu bahagia sama Raka."
"Nikah itu bukannya butuh cinta ya, Bunda?"
"Gak selalu, nanti juga bisa tumbuh kalau terbiasa."
"Siapa yang berani jamin?"
"Allah yang jamin, kalau kamu mau berusaha."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Untuk Raka
Фанфикшн[Tamat] Mengapa bintang bersinar? Mengapa air mengalir? Mengapa dunia berputar? Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti.... __________ Jeon Jk Kim Yr Min Ygg Song Swn - Cinta Untuk Raka - Highest Ranked #3 jungri 14 feb 2021 #1 jungri 7 o...
