19_Unpredictable

5.5K 536 153
                                        

Maaf terlambat update. Kesehatan saya sama seperti judul, sukar diprediksi. Maunya sehat terus, Amiin. Biar saya cepat sembuh, silahkan tinggalkan komen dan vote. Seperti biasa, komen di atas 100 akan saya update cepat. Oiya besok saya dinas luar ke Pekalongan selama 3 hari. Doakan saya sehat!!

((Play Mulmed))

..



Sukabumi, 2002

"Gedein suaranya, Mas!"

Barga melirik kaca spion tengah saat lagu milik raper kesayangan Raka diputar di radio. Tangan kiri ia bebaskan dari kemudi untuk menaikkan volume suara, bibirnya membentuk lengkungan tipis ke atas saat Raka mulai beraksi dengan kacamata hitam nangkring di hidung. Raka yang siang menjelang sore itu mengenakan kaos oblong kebesaran terlihat bergerak-gerak mirip gayanya Iwa K.

"Bebas lepas!"

Mereka bertiga dalam perjalanan menuju rumah Nenek di Sukabumi. Alisa ikut karena besok libur dua hari sama seperti Raka. Daripada bengong di rumah, Mama Tia menawarkan untuk ikut. Dan lagi mumpung liburan semesteran Si Sulung Barga, kapan lagi Raka bisa bergaul dengan sang kakak kalau bukan saat spesial seperti ini.

Raka senang sekali!

Ayah dan Bunda Alisa akan menyusul Sabtu sore, alhasil hari ini Barga yang menjadi paling dewasa harus membawa dua anak SD itu berangkat lebih dahulu. Mama Tia duduk di depan mendampingi Barga menyetir, sementara itu Alisa duduk rapi menatap kaca jendela. Kadang menengok ke samping melihat tingkah Raka yang tidak bisa diam.

"Kencengin lagi, Mas."

"Udah segini aja."

"Yah! Mama gak asik."

"Berisik," Mama menegaskan suara setelah sedari tadi berusaha sabar melihat tingkah pencilakan Raka. "Lagian lagu kayak gini didengerin."

"Mama kan gak gaul, mana tau lagu keren kayak gini."

"Mama udah tua, ngapain juga gaul-gaulan."

Alisa menutup bibir, geli juga mendengar debat antara Mama Tia dengan Raka. Contoh itu Mas Barga yang bawaannya tenang, saking tenangnya pegang setir sampai Alisa terkantuk-kantuk. Namun itu tidak lama, mata yang awalnya berat jadi terbuka gara-gara ulah Raka tengil yang goyang-goyang tidak tentu arah.

"Mending dengerin lagunya Sherina aja, Ka." Alisa suka semua lagu milik Sherina, bahkan albumnya saja punya lengkap.

"Lagu anak-anak, bukan seleraku."

Ya ampun, bukan seleraku? Barga tertawa kecil menampakkan deretan gigi mendengar celetukan Raka yang sok gede. Tapi kalau dipikir lagi, Raka kan sudah mau masuk remaja awal. Wajar kalau mulai menyukai musik-musik seperti selera dirinya.

Iwa K memang tidak setenar dulu, namun jaman Barga masih duduk di bangku SMP dan SMA, dia sering mendengarkan lagu genre hip hop Indonesia. Di situlah lagu kesenangannya menular ke sang adik.

Raka masih menyisakan manggut-manggut saat lagu bergenre katanya gaul itu sudah hilang digantikan lagu milik Westlife.

"Nah dengerin yang kayak gini, Mama suka. Adem."

Mata Raka berotasi ke atas, masak iya dia mau ngefans sama grup laki-laki bule kesenangan para kaum hawa? Gak banget. Dia itu cowok sejati, kata Mas Barga mending dengerin lagu Iwan Fals daripada lagu berbahasa asing tersebut.

Karena malas berdebat dengan Mama, akhirnya Raka mengambil tas ransel. Dikeluarkan benda kesayangan berbentuk bulat yang muat dalam genggaman warisan dari Barga yang sangat dilindungi, bahkan Raka bisa ngambek kalau sehari saja dia tidak pegang. Katanya kalau pelihara ini mirip pelihara kucing. Enaknya lagi, tidak bau. Jadi Mama tidak ada alasan melarang dirinya untuk menekuni dunia rawat merawat.

Cinta Untuk RakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang