Update malem banget, terima kasih komen part sebelumnya. Jangan sampai komen di part ini semakin menurun, ntar tambah lama updatenya.
Sorry kalau ada typos, saya lagi sibuk, mohon kesabarannya untuk menunggu.
((Play Mulmed))
..
Bandung, 2001
Alisa tahu kalau sang adik dirawat di rumah sakit selama hampir satu bulan lamanya. Di kurun waktu itu, masanya pulang sekolah dihabiskan di rumah Raka, kadang mengerjakan peer bersama guru les privat yang dialihkan ke rumah Raka -karena Mama Tia yang minta supaya Raka rajin mengerjakan tugas rumah, kadang mengobrol apa saja dengan Mamanya Si Tengil Raka, sementara yang punya Mama malah keluar main dengan teman laki-laki lain begitu les selesai.
Tapi diantara sikap rebel Raka, pada hari Senin, Rabu, Jumat pukul empat sore, dia akan mengawal Alisa mengikuti TPQ di masjid kompleks. Kata Mama Tia -lagi, Raka itu harus punya teman rajin kalau mau sepintar Barga. Meski menurut Raka, mengaji bukan hal yang dia hindari. Kata Papa anak laki-laki itu harus bisa adzan, suatu saat jadi imam. Maka dari itu hafalan suratnya harus banyak.
Raka sudah pernah khatam di kelas lima SD omong-omong. Sama Mas Barga dikasih hadiah tas ransel hasil menyisihkan uang saku saat ngekos. Mama sampai nangis gara-gara melihat sikap manisnya Si Sulung. Tidak terduga.
Kembali lagi ke adik Alisa.
"Saya ikut berduka cita, semoga adek sudah gak kesakitan lagi."
Itu kalimat yang Alisa dengar berkali-kali. Bunda dan Ayah terlihat sangat murung, sama seperti Alisa yang cukup mengerti seperti apa sedihnya kehilangan orang yang dikasihi.
"Kak, ayo ke depan. Ayah mau bawa adek..," Bunda menuntun langkah Alisa. Bocah perempuan itu memakai baju putih, sama seperti kedua orang tuanya. Ia melihat semua orang menatap dirinya sembari mengucapkan kata sabar yang membuat Alisa semakin merasa bersalah.
Bunda awalnya terlihat tidak menangis, tapi lama-lama Alisa melihat ibu yang sangat disayanginya itu meraung. Terlihat sangat sedih sampai-sampai harus dipapah. Alisa ikut menangis, tubuhnya berada di dalam pelukan Kakek yang sedari tadi mengambil tangannya untuk digandeng.
Semua prosesi itu membuat Alisa bingung, dia tidak tahu bagaimana esok tanpa melihat sang adik laki-laki yang menggemaskan. Meski Alisa kadang cemburu karena perhatian Bunda terbagi, tapi jauh di lubuk hati, dia sayang sekali dengan adiknya.
Langkah para dewasa akhirnya sampai di sebuah pemakaman umum. Berjalan melewati batu nisan, Alisa sempat melihat Raka, Papa Nur Sasongko dan Mama Tia juga berada diantara para pelayat. Karena kepanasan, Alisa digendong oleh Sang Paman.
"Sini, Kak deket Bunda." Nenek mengambil tubuh Alisa untuk didekatkan dengan liang yang tidak begitu besar. Ayah sudah turun, Paman juga, hanya Kakek yang tidak turun. Seketika itu juga tubuh Bunda yang tadi sempat kuat berjalan akhirnya merosot hingga Mama Tia kesulitan menopang dan hampir ikut jatuh.
"Astaghfirullah, Sinta jangan kayak gini. Kamu harus kuat!"
Tanpa disadari, Alisa ikut menangis tatkala Bunda terbangun dan terisak semakin hebat. Ayah masih sibuk menutup liang setelah tadi mengadzani untuk terakhir kalinya. Alisa menatap gundukan dengan mata kosong, tidak tahu kalau Raka kini berdiri di samping kanannya.
"Raka tolong ambilin keranjang bunganya." Titah Mama Tia.
Raka menoleh ke samping, diambilnya lima keranjang bunga untuk dietafetkan ke para pelayat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Untuk Raka
Fanfiction[Tamat] Mengapa bintang bersinar? Mengapa air mengalir? Mengapa dunia berputar? Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti.... __________ Jeon Jk Kim Yr Min Ygg Song Swn - Cinta Untuk Raka - Highest Ranked #3 jungri 14 feb 2021 #1 jungri 7 o...
