04_Membaca Pikiran Raka

3.9K 660 127
                                        

Raka melepas topi sekolah setelah upacara selesai, tampak beberapa bulir keringat mengalir di sekitar pelipis. Rasanya ketika melangkah ke dalam kelas itu seperti memasuki almari pendingin, padahal tidak ada AC, hanya kipas angin besar yang menggantung di langit-langit kelas saja sebagai penyejuk ruangan. Jendela-jendela yang dibuka membantu sirkulasi udara ruangan yang diisi tiga puluh tujuh siswa tersebut. Tapi setidaknya itu lebih menyenangkan dibandingkan dijemur di lapangan. Raka memang apes kalau sedang upacara, tidak luput dipasang di depan oleh Bu Nila.

"Ka, duduk sini!"

Bocah laki-laki keriting melambaikan tangan. Ada satu bangku kosong, tepatnya di sisi depan Raka yang sebangku dengan Ilham. Kabarnya sih akan ada murid baru, kata Galih Si Ketua Kelas. Dia mendengar saat tadi masuk ke ruang guru, Pak Wawan yang menginstruksikan nanti teman-teman untuk menyambut murid baru. Yang lain sih penasaran, tapi sepertinya tidak dengan Raka. Anak laki-laki itu sibuk mengamati wajah teman-temannya yang mengobrol soal liburan kemarin. Dia tidak punya bahan cerita, salah Mama yang melarangnya berlibur ke rumah Nenek. Wajah Raka tidak juga mau tersenyum, padahal belum ada satu jam di Sekolah, tapi kok sudah bosan.

Raka pengen ngulang liburan lagi!

Eh?

"Pak Guru dateng."

Semua murid mulai memelankan suara, lalu keheningan menyapa saat laki-laki paruh baya itu memasuki ruang kelas. Bersama-sama mereka mengucapkan, "Selamat Pagi, Pak Guru!"

"Selamat pagi, anak-anak." Pak Wawan meletakkan buku dan alat tulis di meja. Masih dengan posisi berdiri, beliau memberi kode Galih untuk memimpin doa.

"Berdoa mulai."

Sepuluh detik para murid menunduk, lain-lain bentuknya. Ada yang benar-benar berdoa, ada yang hanya menunduk tapi tangannya utak-utik, ada yang menguap dan berdoa dalam hati semoga jam cepat berlalu.

Yang terakhir itu doanya Raka Mahendra.

"Selesai!"

Pak Wawan mengangkat wajah, diamatinya satu per satu anak walinya, "masuk semua ya?"

"Masuk, Pak. Lengkap!" Galih menjawab dengan lantang. Ketua kelas biasa begitu, suka tampil. Kalau Raka mah ogah, dia lebih baik tenggelam tidak terlihat para Guru daripada disuruh-suruh.

"Oke, pagi ini kalian kedatangan teman baru, Galih maju ke depan." Lalu Pak Wawan berjalan ke arah pintu. "Alisa!"

Atensi semua anak tertuju pada pintu kelas, tak lama setelah Pak Wawan mengulurkan tangan, ada seorang anak perempuan berjalan memasuki ruangan. Kaki kecilnya melangkah mengikuti sang Guru untuk berdiri tepat di tengah-tengah muka kelas. "Galih, ini teman baru kalian."

"Galih." Galih mengulurkan tangan kanan.

"Cinta." Gadis itu membalas, wajahnya terlihat tenang meski sebenarnya dag dig dug juga.

"Ini teman baru kalian, pindahan dari Banten." Pak Wawan menepuk bahu Alisa. "Perkenalkan diri dulu, tulis namanya di papan tulis."

Alisa mengangguk, setelah menerima kapur tulis dari Pak Wawan, ia menuliskan nama panjangnya di papan berwarna hitam tersebut. Alisandria Cinta.

"Siapa namanya, anak-anak?"

"Alisandria Cintaaa!"

Suara lantang terdengar, membuat Alisa berbalik seraya menyunggingkan senyum manis. "Teman-teman bisa panggil aku, Cinta."

"Iya, Cintaaa!" Kata para murid lagi, para perempuan malah senyum malu, sedangkan yang laki-laki saling mendorong mendengar kata sakral tersebut. Di eranya mereka, kata cinta itu menggelikan kalau diucapkan. Meski kebanyakan belum mengerti cinta itu apa. Konon hanya boleh diucapkan oleh orang dewasa -kata Dafa.

Cinta Untuk RakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang