27_Semua Butuh Perjuangan

3.6K 472 332
                                        

Tembus 250+ komen saya posting tiga hari lagi, ayo diramaikan!

..

Raka terkejut ketika bertemu dengan dua perempuan yang pernah menemani hari-harinya menjadi mahasiswa di Jepang. Sashi Hamada berubah seratus delapan puluh derajat. Wajahnya terlihat berseri, kepalanya tertutup hijab serta tubuhnya mengenakan baju muslim, benar-benar tidak pernah terbayangkan.

"Ini benar kamu, Sashi-san?"

Sashi tidak juga menghilangkan senyum di wajah, ia juga masih sama takjubnya berhasil bertemu dengan Raka setelah berminggu-minggu tinggal di Bali, berusaha mencari tahu nomor yang bisa dihubungi, lalu di sinilah ia berada.

"It's me, Sashi Hamada. Kamu kaget?"

"Liatnya gak gitu juga, Ka," Diska tertawa melihat Raka yang tidak juga lepas mengamati Sashi. "Udah gak usah ngiler, dia ke sini bukan kamu tujuan utamanya."

Raka tertawa mendengar ocehan Diska, dia sengaja belum mengatakan kalau sudah punya istri, "jauh-jauh ke Indonesia cuma mau ketemu aku?"

Sashi mengangguk, "Aku ke Indonesia mau bertemu Raka-san," sudut bibirnya tidak juga turun. "Untuk bertemu dengan onii-san."

Raka memasang wajah heran, memang kawan Jepangnya itu punya saudara di Indonesia? Kok dia baru tahu. "Kakak laki-laki yang mana?"

"Hisyam-kun," mata Sashi mengerjap, kedua telapak tangan diletakkan di depan dada. "Apa Raka-san masih berbicara dengan onii-san?" meski ada beberapa kata yang kurang pas, setidaknya Sashi benar-benar berusaha menggunakan bahasa Indonesia demi bisa berbaur dan mengobrol dengan banyak orang lokal.

Mulut Raka spontan terbuka mendengar nama Hisyam disebut, "Bang Hisyam?" ia berusaha memastikan lewat Diska, perempuan itu lantas mengangguk.

"Emang Hisyam mana lagi yang dikenal sama Sashi? Mahasiswa Indonesia cuma Bang Hisyam aja yang pernah temenan sama dia."

"Serius?" Raka masih tidak percaya, setelah dari kemarin mereka berhasil saling kontak dan berakhir untuk bertemu, semua karena Hisyam? Yang benar saja. Minimal kan karena Sashi kangen dirinya? Bukannya mereka cukup dekat selama di Tokyo?

"Raka-san," Sashi mengibaskan telapak tangan di depan wajah Raka. "Raka-san belum jawab pertanyaan saya, apakah masih bertelepon dengan Hisyam-san?"

"Wait, kamu datang hanya untuk mencari Bang Hisyam?"

Sashi sempat menatap wajah Diska meminta jawaban yang tepat, tiba-tiba lidahnya kelu untuk menceritakan banyak hal. Hisyam yang mengenalkan Islam padanya. Sashi bukan orang yang membenci agama, ia beranggapan bahwa agama hanya akan membuat orang menjadi terkotak-kotak, terbagi menjadi berbagai kasta yang akan membuat orang tidak memiliki derajat yang sama serta mendapatkan perlakuan tidak adil. Padahal siapa yang mau terlahir seperti itu?

Dahulu ketika dia menantang Hisyam untuk menjelaskan hebatnya sebuah agama, Sashi mengatakan kalau saja tidak ada agama di dunia, mungkin tidak akan terjadi peperangan. Namun Hisyam memberikan penjelasan yang membuat logika Sashi harus dibuka lebar-lebar.

Peperangan atau penjajahan yang terjadi bukan semata-mata karena agama, banyak orang menyalakan api peperangan hanya demi kekayaan, menduduki negara-negara lain demi merampas harta yang dimiliki negara tersebut. Agama hanya menjadi sampul yang terlihat, niat awalnya ya untuk berkuasa.

Peperangan bisa terjadi di antara umat dengan agama yang sama, bahkan negara-negara yang tidak percaya dengan agamapun juga pernah berperang. Apa yang sebetulnya mereka perebutkan? Tuhan? Nabi? Atau harta, kekayaan, kekuasaan? Pertanyaan yang balik dilontarkan pada Sashi saat sesi diskusi dengan Hisyam.

Cinta Untuk RakaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang